Friday, February 26, 2021
Beranda Gagasan Ilmiah Populer Mencermati Suara Daring Guru

Mencermati Suara Daring Guru

Prof. Suyanto, Ph.D.
Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta dan Anggota Badan Standar Nasional Pendidikan

Suyanto.id–Lima bulan terakhir ini pembelajaran daring menjadi tranding topic di media komunikasi seiring semakin meroketnya jumlah total dan tambahan kasus positif Covid-19 setiap hari. Apalagi setelah Mendikbud mewacananakan pembelajaran jarak jauh akan dipermanenkan setelah pandemi Covid-19 selesai, hiruk pikuk pembalajaran daring semakin seru. Keresahan ibu-ibu rumah tangga dan para guru semakin menggejala dalam diskursus maupun praksis pendidikan.

Sadar akan hal itu, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan memberikan klarifikasi bahwa yang akan dipermanenkan adalah platform pembelajaran jarak jauh (PJJ), bukan metode PJJ itu sendiri. Klarifikasi ini harapannya bisa berefek menenangkan. Faktanya, tidak demikian. Mengapa begitu? Karena belum semua stakeholder pendidikan memahami secara baik perbedaan antara pembelajaran daring, pembelajaran jarak jauh, dan pendidikan jarak jauh (PJJ), yang saat ini, standarnya hampir selesai dibuat oleh BSNP.

Suara Guru

Dalam proses pembelajaran daring, peran guru sebenarnya tidak bisa digantikan secara sempurna. Buktinya, setelah pembelajaran daring terjadi kurang lebih lima bulan, saat ini banyak orang tua dan siswa menginginkan agar pembelajaran tatap muka segera dimulai lagi tanpa peduli pada semakin mengganasnya penyebaran virus Covid-19. Bahkan, ada yang mengkhawatirkan pendidikan karakter akan menemui kegagalan manakala pembelajaran tatap muka tidak segera dimulai lagi karena serangan Covid-19 yang tak kunjung usai.

Pemerintah semakin meneguhkan pemanfaatan daring dalam proses pembelajaran. Program ini tidak akan bisa berjalan efektif tanpa mendengarkan suara dan sapirasi guru terkait pembelajaran daring itu sendiri. Alasannya sederhana, yaitu karena guru harus berinteraksi dengan para murid secara pedagogis, di antara tugas fungsional lainnya, ketika proses pembelajaran daring terjadi. Artinya kontribusi guru sangat penting untuk mewujudkan tujuan pembelajaran. Apa kata guru sebagai pelaksana lapangan terkait pembelajaran daring?

Penulis akan menyajikan aspirasi guru melalui hasil survei terhadap sampel sebanyak 3.472 guru dari 34 propinsi di Wilayah NKRI. Sampling error dalam survei ini sebesar 1,7% menurut formula penentuan besaran sampel dari Slovin. Survei ini dilakukan dengan menggunakan Google Form yang hasilnya menampilkan karakteristik responden sebagai berikut: guru Prasekolah 5,40%; SD/MI 37%; SMP/MTS 23%; SMA/MA 22,60%; dan SMK/MAK 12,10%. Para guru yang terjaring dalam survei ini berstatus sebagai ASN 66,6%; Guru Tetap Yayasan 14,5%; dan Guru Honorer 18,9%.

Baca juga:   Guru Harus Berani Menulis

Suara mereka terkait dengan daring dapat dijelaskan sebagai berikut. Ketika mereka ditanya: apakah sekolah Anda telah siap melaksanakan pembelajaran daring dengan baik? Ternyata lebih dari separuh guru (56,5%) mengatakan sedang mengembangkanya. Guru yang mengatakan sekolahnya sudah siap dengan baik hanya 34,5% dan sekolah yang belum mengembangkan dengan baik 9%. Meskipun sekolah yang belum mengembangkan pembelajaran daring dengan baik disuarakan hanya oleh 9% responden, kondisi ini tidak boleh diabaikan.

Tertinggal

Mandat konstitusi sektor pendidikan adalah mendidik semua warga negara tanpa kecuali. Rata-rata sekolah seperti itu berada di daerah tertinggal. Oleh karena itu, program pendidikan seperti yang telah dilakukan UNESCO 19 tahun lalu: Reaching the Unreached di bidang pendidikan mungkin masih relevan dengan kondisi kita. Program pemerintah Amerika Serikat seperti yang telah dilakukan pada tahun 2001, No Child Left Behind, di bawah pemerintahan Presiden Bush, juga mungkin masih sangat cocok kita kaji untuk pendidikan kita. Betapa kita sangat ketinggalan!

Baca juga:   Kepemimpinan Transformasional - Salindia

Apa yang menarik lagi kata guru kita terkait pembelajaran daring? Ternyata 99,60% guru dalam survei ini mengatakan mereka sangat memerlukan petunjuk teknis dari kementerian.

Artinya, Kementerian perlu membuat petunjuk teknis operasional tentang bagaimana pembelajaran daring harus dilakukan oleh guru dan sekolah sebagai satuan pendidikan. Jika petunjuk teknis itu disiapkan, dengan berbagai pilihan menu dan diberikan kepada guru, maka hiruk pikuk pendapat tentang pembelajaran daring itu sendiri tidak akan terjadi. (*)

Terbit pertama kali di Harian Kedaulatan Rakyat tanggal 19 Agustus 2020 halaman 11.

SebelumnyaPerjalanan
BerikutnyaJogja Memanggil

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

Tulisan Terbaru

Hari yang Dijanjikan

Menangis adalah Hak

Problematika Terurai

Kilasanmu Ayah

Komentar Terbaru

Sedang Populer

Menangis adalah Hak

Kilasanmu Ayah

Hatiku Tak ‘Kan Berpaling Darimu

1,158FansLike
46FollowersFollow