Saturday, June 12, 2021
BerandaGagasan Ilmiah PopulerMendekonstruksi “Mangan Ora Mangan” Sing Penting Ngumpul

Mendekonstruksi “Mangan Ora Mangan” Sing Penting Ngumpul

Oleh Sunarta, S.E., M.M., M.Pd.
Dosen FE Universitas Negeri Yogyakarta/Mahasiswa Program Doktor Ilmu Ekonomi Fakultas Bisnis dan Ekonomika UII

Suyanto.id–Pandemi Covid-19 di Indonesia sekarang ini sudah memasuki bulan kedua dengan berbagai dinamikanya. Semua orang tanpa kecuali dibuat takut, cemas, dan khawatir tertular virus tersebut karena dapat mengancam jiwa manusia. Usaha pencegahan sebagai ikhtiar juga telah dilakukan segenap elemen masyarakat seperti social distancing, work from home-WFH, dan lockdown. Khusus DKI Jakarta sekarang telah memberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) untuk mempersempit penularan Covid-19 di Indonesia. Bukan tidak mungkin kebijakan PSBB juga akan diberlakuan di wilayah propinsi lainnya.

Menghadapi situasi seperti sekarang ini, mengingatkan kita semua terutama orang jawa yang memiliki falsafah “mangan ora mangan sing penting ngumpul”. Kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia “makan tidak makan yang penting kumpul”. Dari perspektif lain, teks tersebut dapat dimaknai bahwa “makan” tidak lebih penting daripada “kumpul” atau “kumpul” lebih penting daripada “makan”.

Pertanyaannya, untuk kondisi saat ini masih relevankah falsafah tersebut? Pertanyaan salanjutnya, apakah dengan berkumpul (di rumah saja) sebagai realitas lebih penting daripada makan (juga sebagai realitas) akan dapat memenuhi kebutuhan untuk makan itu sendiri? Tentu saja falsafah tersebut memiliki asumsi-asumsi sehingga pada saat dan kondisi tertentu tidak dapat diterapkan. Mengapa demikian, karena dalam teks “mangan ora mangan sing penting ngumpul” juga dapat ditemukan apa yang tidak terkatakan sebagai teks sehingga menghasilkan makna baru yang oleh Jacques Derrida (filosof modern-kebangsaan Perancis) hal ini dikatakan sebagai dekonstruksi.

Sebagaimana dikatakan Derrida, bahwa dekonstruksi (deconstruction) merupakan gabungan dua konsep yang menggambarkan atau mendeskripsikan (description) dan mentransformasikan (transformation) teks ke dalam konteks. Menurutnya, teks selalu dapat dibaca dan dimengerti dengan cara dan persepektif yang berbeda, karena tidak ada tafsiran yang mendominasi secara otoritatif.

Baca juga:   Mendidik di Masa Pendemi, Belajar pada Puisi Lembah Bogowonto

Apabila teks berupa mangan ora mangan sing penting ngumpul kemudian dikontekstualisasikan ke dalam suasana kehidupan masyarakat saat ini, maka teks ini secara pragmatis akan mengalami pergeseran makna sebagai realitas sosial. Tidak mungkin manusia bisa hidup dengan berdiam diri di rumah tanpa makan. Untuk bisa memenuhi kebutuhan hidup, manusia akan menempuh berbagai cara. Bahkan siap merelakan untuk tidak berkumpul (sementara) yang penting bisa makan untuk melanjutkan misi hidupnya. Waallahualam bisawab. (*)

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

Tulisan Terbaru

Komentar Terbaru

Sedang Populer

1,166FansLike
52FollowersFollow