Thursday, January 27, 2022
spot_img
BerandaPendidikanMendidik di Masa Pendemi, Belajar pada Puisi Lembah Bogowonto

Mendidik di Masa Pendemi, Belajar pada Puisi Lembah Bogowonto

Oleh Amat Komari
Kandidat Doktor Manajemen Pendidikan dan Dosen FIK Universitas Negeri Yogyakarta

Suyanto.id–Di tengah pandemi Covid 19 yang belum berkesudahan, proses pembelajaran mengalami penurunan, baik kuantitas maupun kualitasnya. Protokol kesehatan mangharuskan proses belajar mengajar dilakukan secara daring, memaksa para siswa tidak bisa bertemu dengan bapak ibu guru dan teman-teman sebayanya.

Belajar dari rumah menghadirkan sejumlah permasalahan yang cukup kompleks, di antaranya (1) kurang tersedianya jaringan internet/wifi, kepemilikan alat komunikasi yang terbatas membuat anak dan orang tua harus bergantian sehingga dalam pelaksanaan harus ada pengorbanan di antara keduanya paling tidak dari segi waktu kurang mencukupi; (2) tidak semua orang tua mampu mengajari anaknya dengan sabar, membuat anak membandingkan begitu sabarnya bapak ibu guru di sekolah, kalau belajar dengan orang tuanya terkadang dimarahi; (3) perlunya anggaran khusus untuk membeli pulsa; (4) bagi siswa kelas satu SD belum pernah bertemu dengan gurunya dan teman-temannya; (5) sisi negatif dari memegang handphone perlu pengawasan.

Para peserta yang mengikuti PPG Daljab menceritakan kondisi pembelajaran daring yang hanya diikuti oleh sebagian kecil siswanya. Jika diberi tugas mengumpulkan jawaban, waktunya sangat molor karena waktu luang orang tuanya yang kurang tersedia.

Seiring berjalannya waktu, beberapa guru melakukan terobosan karena pembelajaran daring dirasa kurang memuaskan. Oleh karena itu, seizin pak lurah, guru tersebut menghadirkan siswanya ke sekolah separuh kelas (satu minggu kemudian gantian yang hadir separuh lainnya). Akan tetapi, para siswa tidak memakai seragam sekolah. Selain itu, beberapa guru di Banyumas mendatangi rumah muridnya. Hal ini juga merupakan wujud dedikasi seorang guru yang menginginkan pembelajaran lebih bisa dinikmati bersama antara siswa, guru, dan orang tua siswa.

Waktu belajar dari rumah belum ada batas akhirnya. Hal ini menjadikan para siswa rindu kepada bapak/ibu guru dan teman-teman untuk segera bisa bertemu di sekolah. Ketika harus berada di rumah, anak-anak itu justru bermain dengan teman-teman sebayanya sepanjang hari tanpa mengindahkan protokol kesehatan. Hal ini sebenarnya anak-anak  sudah sekolah di lapangan, hanya tanpa guru, dan yang perlu mendapat perhatian mereka tidak ada yang sakit.

Beberapa waktu lalu, penulis berjumpa dengan seorang guru yang mengatakan kondisi belajar yang sekarang ini kalau diterus-teruskan akan merugikan bangsa dan negara. Hal tersebut karena anak-anak sekolah tidak mendapat layanan pendidikan yang sebaik-baiknya. Sebagai contoh, dalam pembelajaran penjas/PJOK, ketika seorang guru mengajarkan bola basket pada waktu lay up dan menembak, siswa kurang memahami materi. Siswa tidak dapat mengamati pergerakan lay up tersebut secara utuh. Demikian pula ketika mengajarkan senam, guru kehilangan kesempatan untuk memberi pertolongan kepada siswanya yang kurang mampu dan kurang berani melakuan gerak yang diajarkan. Kalau dilakukan di rumah, faktor bahaya dan keselamatan siswa kurang terjamin.

Menghadapi situasi yang demikian itu, bapak ibu guru sekarang dituntut kesabarannya, harus kreatif dan inovatif, serta perlu mempunyai jiwa enterpreneur. Banyak hal dapat digunakan sebagai bahan pelajaran atau refleksi diri, salah satunya puisi dari penyair Lembah Bogowonto berikut.

Jika ada murid yang menjengkelkan
Senyum guru segera dihadirkan
Agar suasana lebih menyenangkan
Pembelajaran diselingi permainan 

Dari siswa siswi yang menjengkelkan
Memang sering terasa menyesakkan
Namun mereka akan membanggakan
Di akhirat kelak mengulurkan tangan

Kepada siswa siswi yang menjengkelkan
Nasihat guru  terus disampaikan
Agar siswa tidak jadi salah jalan
Dan siap siap mengikuti ujian 

Dari siswa siswi yang menjengkelkan
Guru bisa menambah jiwa pengabdian
Karena mereka adalah butiran intan
Yang bisa dinikmati dari kejauhan 

Pelajaran dari bait pertama, yaitu perlunya seorang guru mengubah mindset. Sering kali saat menjumpai anak nakal yang tingkah lakunya tidak mencerminkan akhlak yang baik, guru lantas marah dan menunjukkan ketidaksenangannya. Pandangan semacam itu bagi guru di era 4.0 harus ditinggalkan. Semestinya, ketika melihat anak nakal itu, yang terbersit dalam diri seorang guru adalah ladang pahala. Jika menasihati sekali pahalanya 100, lain kali masih nakal dinasihati lagi pahala tambah 100 lagi. Jika sampai 10 kali, pahalanya 1000 kali untuk satu siswa. Jika di sekolah ada siswa yang nakal 10 siswa, pahalanya menjadi 10.000. Caranya mudah, tinggal senyum dan mengelus punggungnya. Di sini, guru untung pahala, sementara siswanya merasa diperhatikan.

Baca juga:   Lomba Video Kreatif Bagaimana Hidup Berdampingan dengan Covid-19

Dengan jiwa enterpreneur, guru tentu mempunyai banyak kreasi dalam pembelajaran. Menyelingi dengan permainan membuat siswa akan senang mengikuti pelajaran sehingga efektif dalam pemanfaatan jam pelajaran.

Pelajaran pada bait kedua, penyair menyadari kegundahan para guru. Walaupun melihat anak nakal itu sering menyesakkan dada, tetapi jiwa enterpreneur guru diharapkan mampu melihat jauh ke depan, bahwa anak anak itu masih berproses. Pada suatu saat anak tersebut bisa membanggakan. Di saat guru menjumpai masalah, siswa tersebut pasti mengulurkan tangan. Dia teringat ketika berperilaku nakal, guru tidak membenci, justru merangkul. Anak-anak semacam ini akan menebus kesalahan tingah laku yang tidak sopan di mata gurunya. Mereka tanpa diminta akan ringan memberikan bantuan semampunya ketika guru bermasalah.

Pelajaran pada bait yang ketiga, penyair menyadari bahwa yang mampu mengubah atau membolak-balik hati manusia adalah Allah Subhanahu wa taala. Oleh karena itu, tugas guru hanyalah menyampaikan ajaran kebenaran secara terus-menerus. Masalah anak itu menjadi baik atau tidak, berubah atau tidak, bukan tanggung jawab seorang guru. Hal yang penting, bapak ibu guru tidak bosan-bosannya menasihati, menyampaikan ajaran atau meneteskan air suci kebenaran yang sejati.

Semua pengetahuan, keterampilan, dan sikap dari seorang guru telah disampaikan, nantinya anak-anak akan melengkapi sepanjang hidupnya. Ujungnya, anak-anak tersebut mempunyai kemampuan yang melebihi gurunya. Hal itu bisa terjadi karena guru mengajar anak didiknya secara ikhlas.

Pada bait yang keempat, penyair memberi bonus kepada  guru. Dengan pengertian, ketika guru mengajar secara ikhlas, menjumpai berbagai tingah laku para siswanya, hal itu dijadikan bentuk pengabdian. Jiwa enterpreneur guru menjadikan harapan dan keyakinan bahwa seluruh ilmu yang dimiliki telah ditularkan kepada anak didiknya tanpa ada yang disembunyikan. Setelah berproses, tentu akan berkembang sesuai petunjuk arah dari Yang Maha Kuasa. Dari siswa-siswi tersebut, barangkali suatu saat menjelma menjadi “orang yang terpandang di masyarakat”. Ada yang menjadi perwira, ada yang menjadi pengusaha sukses, ada yang menjadi bupati, dan lain-lain.

Pada waktu luang, guru menonton televisi, melihat berita siaran langsung bahwa siswa yang dulu nakal sekarang telah menjadi pejabat yang menjadi panutan masyarakat. Hal itu merupakan bonus yang tiada ternilai bagi guru. Dari kejauhan mengusap dada tanda bersyukur mengucapkan alhamdulillah, anak-anak tersebut telah menjadi intan yang bisa dinikmati dari kejauhan.

Semoga Allah meridai, ketika guru sedang mengajar olahraga di lapangan, di bawah pohon rindang didatangi oleh pejabat. Guru ditanya apakah nyaman mengajar di bawah pohon rindang ini? Guru menjawab bahwa di tempat inilah saya sangat nyaman, sudah 25 tahun ditakdirkan Allah untuk menemani anak-anak membentuk karakter lebih mengenal Allah melalui pembelajaraan yang menyenangkan. Pertanyaan yang kedua, apakah bapak/ibu guru sudah menunaikan ibadah haji? Guru menjawab bahwa keinginan sudah sejak dulu, tetapi belum kesampaiaan. Pejabat tersebut berkata, “Terimalah Bapak/Ibu guru, ini dua tiket naik haji dari saya yang dulu anak nakal di sekolah, tetapi tetap didoakan oleh Bapak Guru. Maafkan seorang murid yang nakal ini”. Betapa indahnya karakter dari seorang guru dan murid ini. Semoga. (*)

spot_img

3 KOMENTAR

  1. Pengabdian seorang guru yang tulus ikhlas akan tertanam mendalam di lubuk hati para anak didik. Ketika kesuksesan telah tergapai, mereka sadar melalui bimbingan gurulah tangga-tangga kehidupan mereka lalui. Berbagai cara pun mereka lakukan demi membalas jasa seorang pendidik. Sungguh, sebuah kebahagiaan menyelimuti bila menyaksikan anak didik dengan berbagai perangai tatkala duduk di bangku sekolah, telah berada di singgasana kesuksesan.

  2. Semangat mengabdi dengan keikhlasan hati menghadirkan kepuasan batin tak tertandingi
    Semangat mengabdi sebagai profesi menjadi jembatan hadirnya rejeki dalam kehidupan pribadi.
    Salam sehat dan semangat sukses bagi rekan, dan sahabat guru .

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

Tulisan Terbaru

Membuat Biofuel dari Minyak Sawit

0

Doa Terlangit

0

Kilas Balik

0

Komentar Terbaru

Sedang Populer

Kurikulum Adaptif di Masa Pandemi

Lanskap Ibukota

Pengantar Kepemimpinan

Pendidikan di Maluku pada Masa Pandemi

1,166FansLike
60FollowersFollow