Friday, August 7, 2020
Beranda Pendidikan Meneladani Generasi Terdahulu dalam Menuntut Ilmu

Meneladani Generasi Terdahulu dalam Menuntut Ilmu

Elvara Norma Aroyandini
Mahasiswa Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta

Suyanto.id–“Belum, Bu. Saya lupa mengerjakan,” dan “Belum, Pak. Kami belum membaca materi tersebut,” menjadi ungkapan yang biasa terdengar di dalam kelas, saat guru menanyakan pekerjaan rumah maupun materi yang akan dipelajari pada hari tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa minat siswa untuk mengonstruksi pengetahuan sangatlah minim.

Permasalahan minat merupakan hal yang sangat serius dalam pendidikan. Tinggi-rendahnya minat akan mempengaruhi peran aktif siswa dalam menjalankan tugas dan kewajibannya. Keaktifan siswa ini bahkan menjadi hal pokok karena siswalah yang akan mengendalikan bagaimana Indonesia di masa mendatang. Oleh karena itu, memberikan kesadaran kepada siswa akan pentingnya pendidikan tak boleh luput untuk dilakukan. Salah satu langkahnya adalah meneladani generasi Nabi Muhammad Saw. dan beberapa generasi setelahnya yang merupakan generasi terbaik sepanjang perjalanan hidup manusia.

Terdapat setidaknya lima perbedaan antara penuntut ilmu pada generasi terdahulu dengan pelajar pada generasi saat ini yang bisa digunakan bercermin untuk evaluasi diri. Pertama, jarak dan waktu tempuh. Saat ini, pelajar bahkan hanya menempuh perjalanan ke sekolah yang jaraknya hanya antardesa, kecamatan, kabupaten, atau paling jauh antarprovinsi. Waktu yang ditempuh paling lama dalam hitungan jam karena semakin baiknya transportasi, baik pribadi maupun umum. Untuk mahasiswa yang harus menempuh jarak antarprovinsi, negara, bahkan benua sekalipun, telah ada alat transportasi udara yang memungkinkan perjalanan hanya dalam hitungan jam.



Berbeda dengan generasi sekarang, untuk dapat mendengarkan satu hadis saja, generasi terdahulu menempuh perjalanan Irak – Madinah yang menghabiskan waktu satu bulan. Akan tetapi, ditempuhnya perjalanan tersebut membuktikan bahwa rasa ingin tahu mereka terhadap ilmu sangatlah besar. Keadaan ini sudah sulit ditemukan pada generasi sekarang yang banyak mengandalkan fasilitas, cenderung sering mengeluh, dan bermalas-malasan.

Kedua, tujuan. Kini banyak pelajar yang sekolahnya karena tuntutan orang tua semata, sehingga dalam menjalankannya tidak dengan sepenuh hati. Sering kali sekolah menjadi rutinitas yang tidak bermakna, bahkan kadang dijadikan ajang pamer kekayaan, nongkrong, dan bahkan melakukan tindak kekerasan. Tujuan pendidikan yang seharusnya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, menjadi gagal akibat adanya siswa-siswa seperti ini. Berbeda dengan ini, generasi terdahulu selalu meniatkan kegiatan belajarnya untuk mendapatkan ilmu serta menggapai rida Allah Swt.

Ketiga, banyaknya buku yang dibaca. Semangat membaca pelajar Indonesia masih dikatakan sangat rendah, pada genre buku apapun. Sangat langka siswa yang memiliki hobi membaca. Hal ini jauh berbeda dengan generasi terdahulu yang sangat cinta dengan membaca. Ibnu al-Jauzi misalnya, telah membaca lebih dari 20.000 jilid buku, tetapi dirinya tetap terus mencari buku-buku untuk dibaca. Demikian pula al-Khatib al-Baghdadi yang ke mana pun pergi, selalu membawa buku, sehingga dapat dibayangkan berapa ratus ribu jilid buku yang telah dibaca dan didapatkan manfaatnya.

Keempat, reaksi tubuh. Tatkala mencari ilmu, baik dengan membaca buku secara mandiri maupun saat berguru dengan ulama, perasaan generasi terdahulu dipenuhi rasa bahagia. Bahkan, dalam sekali duduk mendengarkan 878 hadis pun mereka sanggup. Selain itu, bagi mereka buku adalah teman yang sangat menyenangkan, sehingga membaca buku membuat mereka tidak mengantuk. Oleh karena terlalu senangnya, tak satu lembar pun yang terlewat untuk dibaca. Kondisi ini tentu 180 derajat dibandingkan pelajar masa kini, di mana saat membaca buku, kantuklah yang dihasilkan. Tak jarang pula, mereka hanya membaca buku di bagian-bagian yang dibutuhkan saja, tidak membacanya hingga tuntas. Padahal, seharusnya membaca menjadi kehausan, bukan hanya memenuhi kewajiban dan tuntutan.

Kelima, sumber ilmu. Saat ini, banyak sumber ilmu yang dengan mudahnya dapat diakses, tetapi banyak pelajar yang enggan untuk membacanya. Berbagai sumber belajar, seperti internet, buku, jurnal, majalah, koran, e-book, perpustakaan digital, dan sebagainya dapat diakses secara mudah, cepat dan bahkan tanpa mengeluarkan biaya sedikit pun. Jauh berbeda dengan generasi terdahulu di mana ilmu belum banyak dibukukan dan digandakan, sehingga satu-satunya akses untuk mendapatkan ilmu yaitu dari ulama secara langsung. Setiap ulama tentu memiliki keahlian yang berbeda-beda, sehingga mereka harus mendatangi berbagai ulama yang tinggal di daerah yang berbeda-beda untuk mendapatkan ilmu yang dibutuhkan.

Semua kriteria generasi terdahulu dalam menuntut ilmu terlihat sangat berbeda dengan generasi masa kini. Generasi terdahulu menujukkan tujuan, semangat, rasa ingin tahu, dan penghayatan yang sangat dalam terhadap ilmu, sehingga mereka juga menjadi manusia modern di zamannya. Para penuntut ilmu ini pun menjadi tauladan yang luar biasa, bahkan hingga saat ini yang telah jauh rentang masanya. Kondisi tersebut sangat jauh berbeda dengan pelajar masa kini yang bahkan dengan segala kelengkapan dan kemudahan yang ada, mereka tidak memanfaatkannya secara maksimal. Sebagian besar dari mereka justru menggunakan waktu dan kesempatan yang ada untuk hal-hal yang tidak bermanfaat, bahkan banyak mendatangkan kerugian untuk dirinya, baik di masa kini maupun masa yang akan datang.

Pelajar masa kini semestinya mulai menyadari bahwa mereka merupakan tonggak utama kokohnya bangsa ini. Apabila masa depan mereka rusak, maka rusak pula masa depan bangsa ini. Artinya, sudah seharusnya mereka mengerahkan usaha terbaiknya dalam memajukan bangsa, salah satunya dengan meneladani semangat belajar yang dimiliki generasi terdahulu.

Apabila semangat pelajar sekarang dapat menyamai semangat generasi terdahulu, maka harapan Indonesia menjadi negara emas segera terwujud, bahkan jauh sebelum tahun 2045. Bagaimana tidak, siswa setiap hari mendapat ilmu dari hasil membaca berbagai buku sehingga memiliki pengetahuan luas dan tak mudah untuk ditipu. Saat di dalam kelas pun siswa akan lebih cepat memahami materi yang disampaikan karena sebelumnya siswa telah mempelajarinya terlebih dahulu. Dampaknya, proses belajar-mengajar dapat berjalan secara maksimal dengan hasil sebagaimana diharapkan.

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa salah satu hal yang perlu diperbaiki dari pendidikan Indonesia adalah semangat belajar para siswa. Hal ini di antaranya dapat dilakukan dengan cara meneladani generasi terdahulu, sehingga muncul kesadaran untuk selalu bersemangat dalam belajar. Semangat belajar yang tinggi dalam jangka panjang akan menghasilkan pendidikan berkualitas yang merupakan tonggak utama dalam mewujudkan cita-cita Indonesia menjadi negara yang maju di masa mendatang. (*)

DAFTAR BACAAN

Abdillah, Abu Umar. 2015. Muslim Hebat. Surakarta: Ar-Risalah Cipta Media.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

Tulisan Terbaru

Komentar Terbaru

Sedang Populer

1,023FansLike
37FollowersFollow