Saturday, April 24, 2021
BerandaGagasan Ilmiah PopulerMenelisik Esensi Program Digitalisasi Sekolah

Menelisik Esensi Program Digitalisasi Sekolah

Oleh Abdul Aziz Saefudin
Dosen Prodi Pendidikan Matematika Universitas PGRI Yogyakarta, Kandidat Doktor Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta

Suyanto.id–Era digitalisasi hadir dan tidak dapat dihindari. Berbagai bidang kehidupan memasuki era ini, termasuk bidang pendidikan. Sebagai seorang Menteri Kementerian dan Kebudayaan Republik Indonesia, Nadiem Makarim, menggagas program digitalisasi pendidikan. Berdasarkan pengalamannya dalam mengelola bisnis transportasi lewat platform digital, ia menelurkan kebijakan program digitalisasi sekolah sebagai penopang kebijakan program sekolah penggerak.

Digitalisasi

Digitalisasi pendidikan memang suatu keniscayaan. Tanpa digitalisasi, implementasi program pendidikan di era seperti sekarang tentu semakin tertinggal. Layanan yang cepat, otomatis, dan terbuka menjadi bagian penting pada era kemajuan teknologi dan informasi saat ini. Karenanya, program Sekolah Penggerak melakukan intervensi dengan menciptakan program digitalisasi sekolah.

Program digitalisasi sekolah dirancang dalam rangka peningkatan layanan pendidikan melalui berbagai platform digital. Tujuan program ini adalah mengurangi kompleksitas, meningkatkan efisiensi, menambah inspirasi, dan pendekatan yang customized (Kemendikbud, 2021).

Program digitalisasi sekolah meliputi digitalisasi platform profil dan pengembangan kompetensi guru, platform pembelajaran guru, platform sumber daya pendidikan, dan dashboard rapor pendidikan. Platform profil dan pengembangan kompetensi guru digunakan untuk membantu guru meningkatkan kompetensi melalui pembelajaran berbasis microlearning dan habituasi. Platform pembelajaran guru digunakan untuk menjalankan pembelajaran kompetensi holistik dan pembelajaran terdiferensiasi. Platform sumber daya pendidikan digunakan untuk meningkatkan fleksibilitas, transparansi, dan akuntabilitas dalam manajemen sumber daya sekolah. Dashboard rapor pendidikan digunakan untuk memotret kondisi mutu pendidikan secara akurat dan otomatis serta digunakan sebagai dasar untuk evaluasi dan perencanaan pendidikan secara menyeluruh (Kemendikbud, 2021).

Beberapa program digitalisasi sekolah sebenarnya sudah mulai dilakukan oleh Kemendikbud, misalnya pengembangan kompetensi guru, pembelajaran guru, dan rapor pendidikan. Namun, implementasinya belum dilakukan secara menyeluruh dan optimal. Kemungkinan penyebabnya karena kurangnya kesiapan infrastruktur dan SDM sekolah pada setiap daerah. Sebenarnya, pandemi Covid-19 semakin mempercepat implementasi program tersebut. Tetapi apa daya, kekurangan tersebut tidak mungkin diatasi dalam waktu singkat. Sementara itu, platform sumber daya pendidikan sepertinya belum sepenuhnya dapat dilaksanakan. Rencananya, semua aktivitas manajemen sekolah yang ada, seperti terkait pemberian anggaran sekolah dan pembelanjaannya akan menggunakan uang nontunai yang transaksinya melalui platform digital. Hal ini dilakukan dengan alasan yakni untuk mengantisipasi kemungkinan adanya kebocoran dan penyalahgunaan anggaran.

Efek Digitalisasi

Seperti mata pisau, digitalisasi pendidikan tentu mempunyai beragam efek, baik efek positif maupun negatif. Efek positif digitalisasi dalam pendidikan, misalnya ditinjau dari efektivitas dan efisiensi pelaksanaan program layanan pendidikan dan pengajaran. Dengan digitalisasi, sekolah terbantu untuk memberikan layanan pendidikan bagi siswa dengan mudah dan cepat. Interaksi instruksional guru dan siswa juga tak berjarak. Pengembangan kapasitas SDM sekolah juga semakin efektif dan efisien. Tidak kalah penting, pemberian layanan informasi sekolah menjadi lebih cepat dan akurat.

Baca juga:   Membangun Resiliensi Diri di Masa Wabah Covid-19

Namun, di sisi lain, digitalisasi pendidikan juga mempunyai efek negatif. Pertama, penggunaan platform pengembangan kompetensi guru secara digital belum tentu memberikan dampak peningkatan secara signifikan. Hal ini sangat beralasan, karena platform digital hanyalah sebagai alat bantu. Komitmen personal gurulah yang dapat menjamin bahwa proses yang dilalui dapat meningkatkan kompetensinya. Tanpa komitmen, kompetensi dan mutu guru sangat sulit berkembang dan meningkat secara signifikan.

Kedua, penggunaan platform digital dalam pembelajaran dapat menjauhkan dari esensi proses pendidikan. Pembelajaran menggunakan alat bantu digital memberikan peluang kepada siswa menjadi impersonal dan interaksi dengan orang lain menjadi berkurang. Padahal, tujuan pendidikan sebenarnya tidak hanya mengembangkan ranah pengetahuan dan keterampilan siswa saja. Namun, kepribadian interpersonal dan intrapersonal serta karakter siswa juga perlu dikembangkan. Hal ini tidak terjadi, tanpa adanya interaksi langsung antara guru dan siswa.

Ketiga, penggunaan platform digital dalam penggunaan sumber daya sekolah dapat memberikan peluang pada kejahatan siber, seperti phising. Penyalahgunaan akun sekolah untuk kepentingan tertentu yang merugikan sangat mungkin terjadi. Apalagi jika pengguna akun kurang memahami teknik penggunaan teknologi digital yang ada di sekolah.

Baca juga:   Roadmap Pendidikan Nasional 2020-2035: Arah Masa Depan Pendidikan Nasional?

Penelitian Alhumaid (2019) menyebutkan, bahwa digitaliasi pendidikan di sekolah paling tidak mengakibatkan empat dampak negatif. Pertama, kemerosotan kompetensi siswa dalam membaca, menulis, dan berhitung. Kedua, dehumanisasi pendidikan di banyak lingkungan dan distorsi hubungan antara guru dan siswa. Ketiga, isolasi siswa dalam dunia digital dan virtual yang menjauhkan mereka dari segala bentuk interaksi sosial. Keempat, munculnya kesenjangan digital, yakni kesenjangan sosial antara siswa dengan ekonomi mampu dan tidak mampu dalam mengakses teknologi digital.

Perlu Kesiapan

Efek negatif digitalisasi sekolah di Indonesia sangat mungkin terjadi. Ketidaksiapan dan ketidakmampuan sumber daya sekolah dapat mengurangi penggunaannya secara efektif dan efisien. Jika melihat infrastruktur dan sarana prasarana sekolah, sepertinya banyak sekolah di Indonesia yang belum siap. Karenanya, pemerintah pusat dan pemerintah daerah harus berkolaborasi dan berkomitmen untuk mensukseskan program tersebut. Komitmen pengalokasian anggaran dan pelatihan bagi sumber daya sekolah harus dilakukan. Termasuk di dalamnya, dorongan masyarakat, khususnya orangtua siswa agar implementasi kebijakan tersebut berjalan dengan optimal.

Berdaya dan Berbudaya

Kita semua tahu, bahwa pendidikan bukanlah hanya masalah schooling belaka. Pendidikan juga bukan hanya mengembangkan kecerdasan akademik semata. Menurut Tillar (2010), pendidikan adalah proses pemberdayaan dan pembudayaan. Siswa selayaknya dididik menjadi manusia yang berdaya dan berbudaya. Manusia yang dapat mengembangkan segala potensinya, berpikir kreatif, mandiri, berkarakter, membangun diri dan masyarakatnya. Kita berharap proses digitalisasi sekolah tidak mereduksi makna pendidikan yang sebenarnya. Semoga pula pelajar Indonesia dapat menikmati proses pendidikan untuk menjadi manusia yang berdaya dan berbudaya. Diharapkan, mereka mempunyai profil pelajar Pancasila seperti yang diidamkan dalam visi pendidikan nasional 2035. Semoga. (*)

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

Tulisan Terbaru

PP 57/2021

Fajar Pertama Bulan Ramadan

Elegi Lembah Pujian

Komentar Terbaru

Sedang Populer

1,166FansLike
52FollowersFollow