Tuesday, January 31, 2023
spot_img
BerandaPendidikanMenyoal Bantuan Kuota bagi Peserta Didik, Mahasiswa, Guru, dan Dosen

Menyoal Bantuan Kuota bagi Peserta Didik, Mahasiswa, Guru, dan Dosen

Diah Retno Hapsari, S.Pd.
Mahasiswa S2 Pendidikan IPS Universitas Negeri Yogyakarta

Suyanto.id–Pandemi Covid-19 memberikan banyak pengaruh dalam kehidupan manusia, baik pada sektor ekonomi, kehidupan sosial masyarakat, maupun pendidikan. Hampir tidak ada kehidupan manusia yang tidak terdampak; perekonomian tersedat, kriminalitas meningkat, kegiatan keagamaan tidak dapat dilakukan seperti biasa, serta kegiatan pembelajaran tidak dapat berjalan dengan efektif.

Sebagai respons dari persoalan tersebut, kegiatan sekolah digantikan dengan pembelajaran jarak jauh (PJJ). Kemdikbud pun memberikan bantuan kuota bagi siswa, mahasiswa, guru, dan dosen demi kelancaran PJJ yang didominasi model dalam jaringan (daring).




Bantuan kuota dialokasikan untuk peserta didik PAUD, dikdasmen, dan mahasiswa masing-masing 20, 35, dan 50 gigabita. Bantuan juga diberikan kepada guru sebanyak 42 gigabita dan dosen 50 gigabita. Kuota diberikan selama empat bulan dalam bentuk kuota umum dan kuota belajar. Kuota umum bisa digunakan untuk mengakses semua aplikasi, sementara itu kuota belajar hanya dapat digunakan mengakses aplikasi atau situs yang telah ditentukan oleh Kemdikbud yang terdiri atas 19 aplikasi pembelajaran, 5 video conference, 22 website, dan 401 website universitas (Kemdikbud.go.id).

Menurut Mendikbud Nadiem Makarim, pemberian kuota internet ini untuk merespons orang tua atau wali yang menginginkan pembelajaran tatap muka karena PJJ daring boros pulsa dan kuota internet. Adanya bantuan kota ini, diharapkan dapat menimalisasi kendala pelaksanaan PJJ. Permasalahannya, kendala pelaksanaan PJJ daring bukan hanya pada kuota internet, tetapi juga soal kesiapan materi, kurikulum darurat masa pandemi, serta lingkungan yang mampu mendukung peserta didik untuk terus berkembang (Tirto.id).

Pengembangan potensi peserta didik

Pendidikan bukan hanya soal menyelesaikan Kompetensi Dasar, tetapi juga mengajarkan anak-anak untuk mengembangkan potensi dirinya, menjadikan anak-anak terpelajar tanpa menjauhkan dari realitas kehidupan mereka. Sebagaimana diamanatkan UU Sisdiknas, potensi yang perlu dikembangkan meliputi spiritual-keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara”.

Mengacu kepada UU Sisdiknas tersebut, dapat diartikan bahwa pendidikan sebagai proses  berkelanjutan. Siswa didorong belajar untuk lebih banyak mengetahui, mengembangkan kemampuan, memperbaiki sikap dan bentuk-bentuk tingkah laku lainnya dalam berbangsa dan bernegara. Pendidikan memiliki peran sentral terhadap perkembangan peserta didik. Akan tetapi, kebijakan yang diambil seolah tidak memperhatikan tujuan utama dari pendidikan.

Terlebih lagi, dari total bantuan kuota yang diberikan hanya sebesar 5 gigabita yang dapat digunakan untuk semua aplikasi, selebihnya untuk aplikasi yang dirujuk oleh pemerintah sebagai aplikasi belajar dan aplikasi video conference. Website yang tidak terdaftar tidak dapat diakses oleh peserta didik.

Baca juga:   Tahun Ajaran Baru

Hal yang dilupakan di sini bahwa kita saat ini hidup pada era Internet of Things, di mana manusia terkoneksi secara global dengan segala sesuatu, baik fiksi maupun virual  (Xia, 2012: 1101). Koneksi ini memberikan kemudahan bagi peserta didik untuk mendapatkan informasi seluas luasnya. Permbatasan akses pada aplikasi tertentu oleh Kemdikbud, justru berlawanan dengan konsep belajar dari mana saja dan di mana saja.

Kebijakan bantuan kuota ini dirasa juga tidak memperhatikan kondisi masyarakat Indonesia yang sangat beragam, baik dari segi geografis maupun kehidupan sosial. Konsep PJJ di sini dianggap sebagai metode belajar daring (online). Padahal, kondisi anak-anak di daerah 3T minim akses teknologi apalagi internet. Acap kali PJJ dilakukan dengan media lain yang lebih fleksibel dan sesuai dengan kebutuhan. Dengan demikian, penyamarataan kondisi siswa di seluruh daerah dan jenjang, menjadi catatan khusus bagi program kuota gratis Kemdikbud.

Kondisi anak-anak pada tingkatan PAUD dan pendidikan dasar juga belum menjadi perhatian pemberian kuota gratis. Pendekatan yang tepat untuk mendidik anak ialah melalui permainan dan memberikan kebebasan dalam melakukan proses pendidikan, sesuai kodrat seorang anak (Dewantara, 2011: 241). Proses pendidikan pada anak belum pada tahap pemberian pengetahuan, tetapi baru pada tahap untuk menyempurnakan rasa dan pikirannya. Anak-anak pada tingkatan pendidikan usia dini masih membutuhkan pendampingan dan perhatian dari orang dewasa untuk belajar. Pertanyaaan yang muncul kemudian apakah kuota sejumlah 20 gigabita akan memiliki manfaat lebih atau akan menjadi beban belanja negara yang tidak dimanfaatkan.

Menjadi catatan penting bahwa setiap langkah yang diambil sebaiknya selalu memperhatikan kondisi dan kebutuhan masyarakat. Kebijakan tidak hanya berdasarkan baik buruknya atau melihat kondisi yang menurut pemangku kebijakan dianggap ideal. Namun, setiap kebijakan yang diambil hendaknya benar-benar bersumber dari kebutuhan masyarakat sehingga kebijakan yang diambil merupakan cerminan atau wujud dari negara dalam upaya memenuhi hak setiap warga negara. (*)

DAFTAR PUSTAKA

Idhom, A. M. (2020, September). Tirto.id.  Jadwal & Cara Pemberian Bantuan Kuota Gratis untuk Mahasiswa-Siswa: https://tirto.id/jadwal-cara-pemberian-bantuan-kuota-gratis-untuk-mahasiswa-siswa-f2M7.

Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat. (2020, September). Kemdikbud.go.id. Kemendikbud Siapkan Informasi tentang Bantuan Kuota di kuota-belajar.kemdikbud.go.id: https://www.kemdikbud.go.id/main/blog/2020/09/kemendikbud-siapkan-informasi-tentang-bantuan-kuota-di-kuotabelajarkemdikbudgoid.

Anonim. (2020, September). Cnnindonesia.com. Kuota Internet Gratis dari Nadiem Berselimut Masalah: https://www.cnnindonesia.com/nasional/20200929203901-20-552447/kuota-internet-gratis-dari-nadiem-berselimut-masalah.

Dewantara, K. H. (2011). Bagian I: Pendidikan. Yogyakarta: Majelis Persatuan Luhur Taman Siswa.

Xia, F., Yang, L.T., Wang, L. & Vinel, A. (2012). Internet of Things. Int. J. Commun. Syst., 25: 1101-1102. doi:10.1002/dac.2417.

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

Tulisan Terbaru

Cinta

0

Janji Proklamasi

1

Pelayatan Agung

0

Ziarah

1

Komentar Terbaru

Sedang Populer

1,166FansLike
68FollowersFollow