Saturday, April 24, 2021
BerandaPendidikanMerdeka Belajar di Era Digital

Merdeka Belajar di Era Digital

Vera Yuli Erviana, M.Pd.
Dosen FKIP Universitas Ahmad Dahlan dan Kandidat Doktor Dikdas Universitas Negeri Yogyakarta

Suyanto.id–Merdeka Belajar adalah kebijakan Kemendikbud yang bertujuan memberikan kemerdekaan dalam berpikir bagi para guru dan peserta didik tanpa dibebani oleh sistem rangking/nilai. Dalam program ini, guru didorong mengubah sistem pembelajarannya, sehingga suasana belajar menjadi nyaman karena belajar dapat dilakukan di luar kelas (outing class).

Bagi peserta didik, Merdeka Belajar bertujuan membentuk peserta didik yang berani, mandiri, cerdas, cerdik dalam bergaul, beradab, sopan, berkompetensi, siap kerja, kompeten serta berbudi luhur. Hal ini akan membentuk suasana belajar yang menyenangkan tanpa dibebani dengan penyampaian skor/nilai target tertentu.

Merdeka Belajar juga membuat gebrakan penilaian dalam kemampuan minimum, meliputi literasi, numerasi, dan survei karakter. Literasi bukan hanya mengukur kemampuan membaca, tetapi juga kemampuan menganalisis isi bacaan beserta memahami konsep di baliknya. Untuk kemampuan numerasi, yang dinilai bukan pelajaran matematika, tetapi penilaian terhadap kemampuan peserta didik dalam menerapkan konsep numerik dalam kehidupan nyata.

Selain kedua hal tersebut, Kemdikbud juga akan melakukan survei karakter. Program ini dilakukan bukan melalui tes, melainkan pencarian sejauh mana penerapan nilai-nilai budi pekerti, agama, dan Pancasila yang telah dipraktikkan oleh peserta didik. Esensinya, hal ini harus didahului oleh para guru sebelum mereka mengajarkannya pada peserta didik.

Merdeka Belajar dalam jenjang sekolah dasar, sekolah menengah pertama, dan sekolah menengah atas/kejuruan, di mana Ujian Sekolah Berbasis Nasional (USBN) diganti dengan asesmen dan survei karakter. Kemudian, Ujian Nasional di ganti dengan AKM pada Tahun 2021. Selain itu, RPP dipersingkat, di dalamnya hanya terdapat tujuan pembelajaran, kegiatan pembelajaran, dan aasesmen.

Selain ketiga hal itu, program Merdeka Belajar juga mengatur ulang Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) berzonasi, yaitu ditentukan melalui jarak (50%), afirmasi (15%), prestasi (30%), dan mutasi (5%).

Di perguruan tinggi program Merdeka Belajar disebut Kampus Merdeka. Melalui program ini, kampus dimudahkan membuka program studi baru, akreditasi lebih disederhanakan, memberikan pengembangan kegiatan tiga semester di luar program studi, dan terakhir mempermudah PTN menjadi PTNBH.

Baca juga:   Analisis Kebijakan Merdeka Belajar Episode 1 dan 5

Program Merdeka Belajar juga mengatur ulang pencairan dana BOS. Jika dahulu melalui rekening daerah, saat ini langsung ke rekening sekolah. Selain itu, besarnya dana BOS ditingkatkan, laporan dipermudah, belanja BOS secara online menggunakan Siplah, serta prosedur penggunaan BOS singkat dan jelas.

Merdeka Belajar dalam program Organisasi Penggerak di mana wujud peran masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan. Wujud gotong royong dilakukan bersama dalam tanggung jawab di bidang pendidikan, mendapatkan pelatihan yang profesional, serta melibatkan seluruh organisasi profesi pendidikan.

Merdeka Belajar dalam program Guru Penggerak, yakni di mana adanya seleksi calon peserta, diadakannya pelatihan kepemimpinan abad 21, peserta nantinya diharapkan menjadi kepala sekolah dan pengawas sekolah, harus mampu mewujudkan generasi yang bertakwa, kreatif, memiliki jiwa gotong royong, berpikir secara kritis dan mandiri.

Baca juga:   Belajar Tuntas Berkualitas dalam Kondisi Terbatas

Merdeka Belajar dalam pembelajaran berwujud penyederhanaan pada RPP, guru bebas menggunakan model pembelajaran/blended learning, guru dapat mengembangkan suasana kelas yang menyengkan saat pembelajaran, dan guru dapat menerapkan TPACK.

Di dalam rencana pelaksanaan pembelajaran harus memuat beberapa unsur yang dapat mewujudkan merdeka belajar yang lainnya. Hal tersebut di antaranya menyenangkan, literasi, berkarakter, kritis, critical thinking skill, kolaborasi, komunikasi, dan menerapkan TPACK.

Ada beberapa model pembelajaran yang sesuai dengan pembelajaran di era digital ini. Adapun model pembelajaran tersebut seperti (1) model discovery learning (pemberian rangsangan, identifikasi masalah, pengumpuan data, pengolahan data, pembuktian, menarik kesimpulan), (2) model problem based learning (berorientasikan pada masalah, mengorganisasikan siswa, membantu penyelidikan mandiri/kelompok, mengembangkan hasil karya, analisis, dan evaluasi proses pemecahan masalah), dan (3) model project based learning (penentuan pertanyaan, mendesain perencanaan proyek, menyusun jadwal, memonitoring peserta didik dan kemajuan proyek, menguji hasil, mengevaluasi pengalaman). (*)

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

Tulisan Terbaru

PP 57/2021

Fajar Pertama Bulan Ramadan

Elegi Lembah Pujian

Komentar Terbaru

Sedang Populer

1,166FansLike
52FollowersFollow