Tuesday, January 31, 2023
spot_img

Modal Sosial

Prof. Suyanto, Ph.D .
(Guru Besar FE Universitas Negeri Yogyakarta)

Lampu kuning untuk modal sosial kita saat ini. Serentetan pertikaian, perdebatan, saling menghujat, saling menuduh telah terjadi dalam masyarakat kita melalui berbagai media, terutama media sosial. Seberapa gawatkah modal sosial kita tercabik-cabik saat ini? Adakah solusi jika memang modal sosial kita berada dalam sebuah kondisi yang memerlukan aksi tindakan nyata layaknya seperti tanda bahaya: SOS? Seberapa pentingkah modal sosial untuk selalu dijaga dan dirajut keberadaannya? Pertanyaan itulah yang akan dibicarakan dalam tulisan singkat ini.

Modal sosial yang dalam bahasa Inggris disebut sebagai social capital sangat penting dalam perjalanan peradaban sebuah bangsa. Mengapa begitu? Karena modal sosial merupakan faktor utama yang bisa menjaga keutuhan masyarakat secara kolektif, melalui jaringan dan jalinan sosial untuk menggapai cita-cita dan tujuan mulia bersama. Oleh karena itu agar modal sosial kita kuat harus ada unsur saling percaya, saling menjaga, saling memberdayakan secara timbal balik. Dengan cara begitu akan bisa tercipta sistem nilai yang dipercayai dan dipegang teguh oleh masyarakat secara kolektif. Jika nilai-nilai yang dipegang teguh itu mendapat ancaman atau ada indikasi diganggu pihak lain mereka akan dengan sukarela siap membelanya.

Modal sosial yang kuat akan memudahkan negara untuk melakukan berbagai penguatan kapasitas untuk mencapai cita-cita pembangunan secara bersama. Kenyataannya saat ini modal sosial kita berada pada kondisi yang sangat memprihatinkan. Hal ini dipicu semakin terbukanya komunikasi kita dalam media sosial tanpa kendali. Saling menista, menghujat, memfitnah terjadi setiap detik di media sosial yang dengan cepat memviral ke banyak lapisan masyarakat manapun. Bahkan banyak pengguna media sosial yang bergabung dalam kelompok-kelompok dengan kuatnya menyerang kelompok lain. Begitu pula sebaliknya. Hal ini dalam jangka panjang menimbulkan pola hubungan resiprokal negatif antarunsur dan komponen sosial kemasyarakatan, dan dengan demikian menggerogoti modal sosial kita ke arah semakin lemah. Kalau ini terjadi secara terus-menerus, maka berbagai program pembangunan akan terganggu akibat masyarakat kita tidak memiliki tujuan bersama untuk dicapai secara bersama atas dasar nilai-nilai luhur yang dipegang secara kolektif. Manakala modal sosial tercabik-cabik seperti saat ini dapat diprediksi bahwa yang mudah berkembang adalah perilaku kekerasan yang merugikan banyak pihak. Di sini nampak bahwa membangun modal sosial tidak kalah pentingnya dengan membangun sarana fisik dan infrastruktur seperti jalan toll, pelabuhan, bandara dan sebagainya. Juga modal sosial tidak kalah pentingnya dengan modal kapital dan modal teknologi sekalipun.

Baca juga:   Jam Belajar Pokemon

Bisakah modal sosial yang telah tercabik-cabik dibangun kembali? Tentu bisa. Namun tidak mudah. Membangun modal sosial memerlukan waktu panjang dan tidak bisa tiba-tiba jadi seperti membangun jembatan layang panjang yang melintasi dua pulau sekali pun. Mengapa begitu? Karena faktor utama modal sosial melibatkan keyakinan dan persepsi terhadap karakter-karakter dan perilaku positif yang menjadi perajut utama kebersamaan dalam masyarakat. Kalau demikan halnya pendidikan karakter merupakan salah satu katalisator penting dalam membangun modal sosial. Melalui pendidikan karakter, kita bisa menyiapkan warga masyarakat yang memiliki karakter terpuji yang bisa digunakan untuk membangun modal sosial dalam jangka panjang. Oleh karena itu peran pendidikan di sekolah sangat penting dalam menyiapkan warga negara yang siap untuk bekerja sama dengan orang lain, hidup bersama dengan orang lain, dan membangun cita-cita mulia bersama dengan orang lain di dalam wadah kehidupan yang disebutnya masyarakat.

Untuk kepentingan ini para siswa kita perlu dibiasakan hidup dengan perilaku yang mulia. Pembiasaan (habituasi) menjadi sangat penting dalam pendidikan karakter di samping keteladanan. Mengapa begitu? Karena karakter terpuji itu akan dimiliki siswa ketika mereka melakukan kebiasaan-kebiasaan terpuji dalam kehidupan sehari-hari setelah melaui tahap pemahaman, dan penghayatan terhadap nilai-nilai moral terpuji sebagai nilai inti karakter yang telah dirumuskan pemerintah: religius, nasionalis, gotong royong, integritas, dan mandiri. Memahami, menghayati, dan membiasakan nilai-nilai itu akan merupakan jalan menuju perbaikan modal sosial yang akhir-akhir ini tercabik-cabik dan terkotak-kotak secara diametral.

Tulisan ini terbit pertama di Harian Kedaulatan Rakyat edisi 12 Juni 2017.

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

Tulisan Terbaru

Cinta

0

Janji Proklamasi

1

Pelayatan Agung

0

Ziarah

1

Komentar Terbaru

Sedang Populer

1,166FansLike
68FollowersFollow