Tuesday, January 31, 2023
spot_img
BerandaGagasan Ilmiah PopulerNasionalisme Indonesia: Lahirnya Boedi Oetomo 1908, Lahirnya Kebangkitan Nasional Indonesia

Nasionalisme Indonesia: Lahirnya Boedi Oetomo 1908, Lahirnya Kebangkitan Nasional Indonesia

Ki Sri-Edi Swasono
Ketua Umum Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa, Guru Besar FE Universitas Indonesia

Pendahuluan

Nasionalisme Indonesia secara formal, dan (kemudian) dalam pengertian politik, berawal dari lahir dan didirikannya Boedi Oetomo 20 Mei 1908 di gedung STOVIA (School tot Opleiding voor Indische Artsen). Dokter Soetomo ditetapkan sebagai pendirinya. Kemudian, tanggal 20 Mei 1908 ditetapkan sebagai hari lahirnya Kebangkitan Nasional Indonesia.

Barangkali tidak salah mengatakan bahwa kalimat bertuah Mpu Tantular, “bhinneka tunggal ika, tan hanna dharma mangrva”, merupakan embrio bagi nasionalisme Indonesia. Betapa tidak, ‘beraneka ragam namun tunggal jua’, yang kemudian ditambah dengan penegasan kewajiban nasionalistis tan hanna dharma mangrva–yang artinya ‘tiada kewajiban ganda’–adalah suatu penegasan tentang “loyalitas  tunggal” kepada satu “Ibu Pertiwi”.




Permulaan Pergerakan Nasional

Pada permulaannya, Boedi Oetomo boleh dikatakan merupakan suatu gerakan kultur nasionalisme. Mereka tidak bergerak di bidang politik karena dilarang oleh undang-undang (Regerings Reglement, Pasal 111). Oleh karena itu, dalam praktik Boedi Oetomo banyak menitikberatkan kepada kegiatan pendidikan dan pengajaran. Sekolah-sekolah didirikan, yang kemudian menarik perhatian kaum intelegensia untuk mulai memperhatikan kemajuan kebudayaan sendiri.

Kebangkitan Asia

Namun, dalam sejarah perjuangan yang terkait dengan Perhimpunan Indonesia di Negeri Belanda, tersebar tulisan Mohammad Hatta sebagai Gardenboek Indonesische Vereniging 1923, berjudul “Indonesia di Tengah-Tengah Revolusi Asia”. Dalam artikelnya ini Hatta (yang kemudian menjadi Ketua Perhimpunan Indonesia yang militan) mengingatkan pemuda-pemuda Indonesia, baik yang di tanah air maupun khususnya para mahasiswa yang belajar di Negeri Belanda yang menjadi anggota Perhimpunan Indonesia (dahulu: Indonesische Vereniging), bahwa telah tiba “zaman kebangkitan Asia”. Ditulis oleh Hatta pada tahun 1923 itu, tatkala ia masih berusia 21 tahun, bahwa dalam mengawali Abad ke-20, mendentum-dentum meriam-meriam Jepang di Tsushima menggempur tentara Rusia. Ini memberitahukan kepada penduduk alam, bahwa hak sejati oleh orang putih di Benua Asia, tidaklah kekal lagi, si Beruang Putih yang sebesar itu telah dipukul mundur oleh tentara Jepang sampai menundukkan kepalanya, serta terpaksa mengembalikan milik Jepang sebagai sedia kala.

Masih pada tulisannya tahun 1923 itu, Hatta melanjutkan bahwa tanpa mengabaikan pergerakan kebangsaan di India, dengan rapat besarnya di Bombay pada tahun 1885, pimpinan Bannerjee menuju swaray dan swadeshi berhasil menggugah perasaan orang-orang Asia; dan kemudian dengan berkumandangnya pula suara Woodrow Wilson tentang the right of self-determination, Hatta dengan menggelegar mengumandangkan kemenangan tentara Jepang terhadap tentara Rusia pada tahun 1905 itu.

Hatta mengakhiri tulisannya itu untuk menggugah semangat kebangsaan:

“…letusan meriam Jepang di Tsushima 1905 telah membangunkan penduduk Indonesia, memberitahukan bahwa matahari telah tinggi, serta memaksa penduduk Indonesia turut berkejar-kejar dengan bangsa lain, menuju padang kemajuan dan kemerdekaan. Benih yang ditebarkan oleh Mahatma Gandhi di kiri-kanan Sungai Gangga, tidaklah saja tumbuh di sana, melainkan setengah daripadanya telah diterbangkan angin menuju khatulistiwa, dan disambut oleh Bukit Barisan yang melalui Nusantara menebarkan benih itu di seluruh Indonesia. Tidak lama tumbuhlah itu! Asap bedil di Kafiun Karahissar yang dibawa awan ke arah Timur melingkupi pula daerah Indonesia dan menimbulkan hujan debu yang mengandung benih kemanusiaan. Juga di sini bergerak rakyat, berkehendak kepada kemerdekaannya yang sekian lama dicuri orang. Hal ini haruslah diinsafkan oleh pemuda-pemuda Indonesia. Haruslah mereka mengetahui, bahwa cita- cita yang mulia itu dapat dicapai manakala diadakan persatuan yang teguh, bersendi kepada kemauan dan kekuatan bangsa…”.

Boedi Oetomo

Boedi Oetomo didirikan pada 20 Mei 1908 oleh dr. Soetomo, di Gedung STOVIA, yang sekarang disebut sebagai Gedung Kebangkitan Nasional.

Mahasiswa STOVIA, yang sebenarnya adalah pelajar Sekolah Dokter Jawa, pada tahun-tahun terakhirnya itulah mereka mendirikan Boedi Oetomo. Lama belajar di STOVIA antara 8 tahun sampai 10 tahun. Diakui oleh dr. Soetomo bahwa dr. Wahidin banyak berpengaruh terhadap dirinya. Kemudian dr. Wahidin yang berusia 50 tahun mendirikan cabang Boedi Oetomo di Yogyakarta.

Dari berbagai tulisan Mohammad Hatta tentang permulaan pergerakan nasional, dapat saya kutipkan sebagai berikut. Dari Boedi Oetomo yang sejak mula bergeraknya telah tersentuh oleh menyingsingnya Fajar Asia, maka mulailah gerakan-gerakan untuk menanamkan cita-cita kemajuan, yang pada masa itu semuanya masih “tidur”. Maka,  dengan bangunnya Boedi Oetomo tersentak pulalah orang-orang Belanda dari tidurnya, sehingga Mr. Van Deventer menulis di majalah De Gids kata-kata, “Het Wonder is geschied, Insulinde de schooner slaapter, is ontwaakt.” (Suatu yang ajaib telah terjadi, Insulinde si puteri cantik yang tidur, sudah terbangun).

Mohammad Hatta selanjutnya mencatatkan: Boedi Oetomo pada kira-kira tanggal 28 Desember 1908 memperoleh rechtspersoon (pengakuan hukum) dari Pemerintah Hindia-Belanda. Tujuan Boedi Oetomo membantu kemajuan Tanah-Air dan bangsa yang harmonis di Jawa dan Madura, dengan jalan yang sah dan membantu pula usaha golongan lain yang tujuannya sama. Kebangsaan Boedi Oetomo pada waktu itu masih terbatas pada bangsa Jawa, Madura, dan Bali saja. Itulah salah satu sebab maka dr. Tjipto Mangoenkoesoemo mengundurkan diri dari Boedi Oetomo, yang kemudian diikuti oleh Soewardi Soerjaningrat.

Singkatnya, pada masa permulaan Boedi Oetomo boleh dikatakan merupakan gerakan kultur nasionalisme. Di bidang politik mereka tidak bergerak karena dilarang oleh undang-undang.

Boedi Oetomo tidak lama menjadi perkumpulan mahasiswa. Perjuangan Boedi Oetomo terbatas pada mereka yang sanggup saja dan golongan intelektual, khususnya di Jawa dan Madura. Kelahiran Boedi Oetomo tepatnya pada tanggal 20 Mei 1908; dan selanjutnya 20 Mei dinyatakan sebagai “Hari Kebangkitan Nasional“.

Perhimpunan Indonesia

Indische Vereniging didirikan pada tahun 1908, kira-kira enam bulan setelah didirikannya Boedi Oetomo. Indische Vereniging ialah pemula dari Indonesische Vereniging. Semenjak Soewardi Soerjaningrat tiba di Negeri Belanda 1913, maka Indische Vereniging tidak bisa dihindarkan dari berbicara tentang politik.

Pada tahun 1922 nama Indische Vereniging diganti dengan Indonesische Vereniging untuk “mengetengahkan nama politis yang ditujukan untuk Ibu Pertiwi”. Sesuai dengan perubahan itu, maka majalah Hindia Poetra pun diganti namanya menjadi Indonesia Merdeka.

Kecewa dengan Janji November (November Belofte) 18 November 1818 dari Gubernur Jenderal Hindia-Belanda, van Limburg Stirum, yang menjanjikan pembaharuan pemerintahan di Hindia-Belanda, maka Perhimpunan Indonesia pun bersiteguh menyatakan “Indonesia bebas  dari  Holland”. Tak lama kemudian Indonesische  Vereniging  berubah  nama menjadi “Perhimpunan Indonesia”.

Ketua Perhimpunan Indonesia berturut-turut dipegang oleh Achmad Soebardjo (1920), dr. Soetomo (1921), Herman Kartowisastro (1922), Iwa Koesoemasoemantri (1923), Nasir Pamontjak (1924), dr. Soekiman (1925), dan Mohammad Hatta (1926-1930).

Perhimpunan Indonesia makin berkembang progresif di bawah pimpinan Mohammad Hatta. Pada inagurasi Hatta sebagai Ketua Perhimpunan Indonesia, pidato Hatta berjudul “Struktur Ekonomi Dunia dan Konflik Kekuatan” telah mengantisipasi bahwa pemecahan  terakhir konflik nasional antara imperialisme Barat dan rakyat terjajah akan terletak di Pasifik. Hatta pun mengakui, ia menyiapkan diri untuk berkorban demi Ibu Pertiwi, meskipun saat itu ia tak sempat membayangkan bahwa hanya 19 tahun kemudian, hal itu benar terjadi, dan Indonesia Merdeka.

Kiprah-kiprah Perhimpunan Indonesia kemudian mengguncangkan Negeri Belanda dan Eropa, terutama dengan partisipasi dan pidato Hatta pada “Liga Menentang Imperialisme dan Kolonialisme” di Brussel tahun 1927 (yang kemudian berganti nama “Liga Menentang Imperialisme untuk Kemerdekaan Nasional”).

Aktivitas Hatta di dalam Presidium “Liga Menentang Imperialisme untuk Kemerdekaan Nasional” dan demikian pula pada “Liga Wanita Internasional untuk Perdamaian dan Kebebasan” di Geneva, Swiss, dengan pidatonya yang berjudul “L’Indonésie et son Problème de l’Indépendence” tahun 1927, ternyata mampu menyadarkan kalangan luas tentang ganasnya kolonialisme. Pada peristiwa-peristiwa politik inilah Hatta menjalin persahabatan dengan Jawaharlal Nehru (India), Hafiz Ramadhan Bey (Mesir), Senghor (Senegal) dan Henriette Roland Holst (tokoh penyair), Chen Kuan dan Liau Hansin (Cina), Roger Baldwin (Amerika) dan tokoh-tokoh Eropa antikolonialisme dari Jerman, Perancis, Inggris, Cekoslovakia, bahkan juga pemimpin-pemimpin dari Amerika Latin.

Aktivitas Perhimpunan Indonesia yang sangat progresif serta tulisan-tulisan Hatta di majalah-majalah Indonesia Merdeka dan De Sosialist mengakibatkan Hatta dan teman-temannya (Nasir Pamontjak, Ali Sastroamidjojo, Abdul Madjid Djojoadiningrat) ditangkap Pemerintah Belanda pada tahun 1928, kemudian dijebloskan di penjara Den Haag selama lima setengah bulan. Hatta dan teman-temannya yakin bahwa pengadilan terhadap mereka justru akan menyemarakkan nama Indonesia.

Pidato pembelaan (pleidooi) Hatta kemudian diberi judul “Indonesië Vrij”, yang akan memakan waktu tiga setengah jam bila dibaca di depan pengadilan. Pidato ini kemudian dibukukan sebagai brosur dan beredar di Hindia-Belanda. Sartono Kartodirdjo (Guru Besar Sejarah UGM) sempat menyampaikan kepada saya (1974), bahwa Sumpah Pemuda 1928 merupakan pengumandangan (amplification) dari pidato pembelaan Hatta di Pengadilan Belanda 1928 itu. Hal yang sama beliau sampaikan lagi kepada saya di sekitar tahun 1989.

Para aktivis lain yang dikenal dalam Perhimpunan Indonesia antara lain adalah Sutan Sjahrir, Arnold Mononutu, Wirjono Prodjodikoro, Soetikno, Gatot Tarunomihardjo, Abdoellah Sjoekoer, Roesbandi, dan Setiadjit.

Hatta tetap aktif bahkan menjadi ketua sidang pada “Liga Menentang Imperialisme untuk Kemerdekaan Nasional” yang Kedua (Juli 1929) di Frankfurt. Nama Indonesia dan Perhimpunan Indonesia makin semarak–Adalah bukan suatu kebetulan sejarah bahwa Hatta-lah yang kemudian hari mewakili Indonesia menerima pengakuan dan penyerahan kedaulatan dari Ratu Juliana di Konferensi Meja Bundar di Negeri Belanda, Desember 1949.

Sarekat Islam

Kita telah mencatat lahirnya Boedi Oetomo. Dari Boedi Oetomo semangat nasionalisme berlanjut dengan berdirinya “Sarekat Dagang Islam”, yang merasakan adanya pertentangan yang timbul antara kaum dagang kita dengan kaum dagang Cina. Sarekat Dagang Islam tersebut ada di bawah pimpinan Haji Samanhudi. Akan tetapi, Haji Samanhudi sebenarnya bukanlah orang pertama yang memikirkan perkumpulan serupa itu. Sebelum Haji Samanhudi sudah ada orang lain yang mengemukakan cita-cita Sarekat Dagang Islam, yaitu Raden Mas Tirto Adisoerjo, yang mula-mula tinggal di Bogor. Tirto Adisoerjo adalah bekas murid STOVIA seperti juga Soewardi Soerjaningrat. Ia kemudian menjadi pimpinan Redaksi majalah Medan Priyayi. Melihat majalah yang dipimpinnya itu jelas dia condong kepada gerakan priyayi. Berturut-turut didirikannya Sarekat Dagang Islam di Batavia pada tahun 1909 dan Sarekat Dagang Islam di Bogor pada tahun 1911.

Nama Sarekat Dagang Islam itu tidak lama, kemudian dijadikan “Sarekat Islam” sebagaimana yang direncanakan oleh Tirto Adisoerjo. Sekalipun tidak berpolitik, hal itu sudah merupakan perbuatan politik. Meninggikan derajat bangsa untuk mencapai perkembangan, kemajuan, dan kebesaran negeri hanya bisa dicapai dengan gerakan politik.

Sarekat Islam didirikan oleh Raden Oemar Said Tjokroaminoto. Haji Samanhudi, yang semula pendiri Serikat Dagang Islam, menjadi pembantunya. Selain Haji Samanhudi, yang ikut menjadi pendiri Sarekat Islam ialah beberapa orang saudagar di Solo dan empat orang pegawai Kasunanan. Perkumpulan ini didirikan berdasar Akte Notaris 10 September 1912, yang berarti setahun setelah Tirto Adisoerjo membuat Sarekat Islam–Adisoerjo mendirikan Sarekat Islam dengan peraturan yang dibuatnya sendiri tanpa Akte Notaris.

Sarekat Islam mengadakan Kongres pertama di Surabaya pada tanggal 26 Januari 1913. Beribu-ribu, mungkin bahkan puluhan ribu orang mengunjungi kongres itu. Ketika itu belum ada mikrofon seperti sekarang, tetapi orang tetap hadir di kongres Surabaya itu meskipun tidak mendengar. Dari kongres kemudian dijadikan rapat umum. Dalam rapat umum itu Haji Samanhudi diakui sebagai pembantu Sarekat Islam sedang Ketuanya adalah Tjokroaminoto. Sesudah itu Tirto Adisoerjo tidak muncul lagi, walaupun begitu boleh dikatakan dialah yang membuka jalan.

Tjokroaminoto telah mendirikan Sarekat Islam dengan Akte Notaris. Dalam pidato pembukaan pada kongres tersebut, dikatakan oleh Tjokroaminoto bahwa tujuan Sarekat Islam adalah mengangkat derajat bangsa, untuk menghindarkan kesan bahwa Sarekat Islam adalah partai politik.

Perlu dikemukakan di sini apa yang dikatakannya dalam kongres berdasarkan Regerings Reglement No. 55, ia berkata: “…apabila kita ditindas, kita akan minta pertolongan pemerintah. Kita loyal terhadap pemerintah dan kita senang di bawah Pemerintah Belanda. Tidak benar yang kita mau menghasut, tidak benar yang kita mau perang sabil. Siapa mengatakan begitu tidak beres otaknya. Kita tidak mau berbuat begitu, seribu kali tidak…”.

Ini perkataan di rapat umum, dikatakan oleh Tjokroaminoto. Ia seorang orator yang bukan main hebatnya. Suaranya seperti gong. Barangkali sampai sekarang belum ada yang bisa disamakan dengan dia sebagai orator. Sekalipun Soekarno berpidato hebat, dia tidak bisa mengatasi Tjokroaminoto.

Ternyata Kongres Sarekat Islam yang pertama di Surabaya itu sangat mempengaruhi kesadaran kebangsaan. Kemudian, Sarekat Islam diakui rechtspersoon-nya, tetapi Gubernur Jenderal Idenburg tidak mengakui rechtspersoon Sarekat Islam itu secara keseluruhan, tetapi satu-satu atau setempat-setempat. Anggotanya mencapai beratus ribu bahkan pernah mencapai satu juta orang. Dengan Sarekat Islam di mana-mana, hiduplah perasaan rakyat dalam pergerakan.

Indische Partij

Selanjutnya, kita mencatat munculnya “Indische Partij” pada akhir tahun 1912 yang didirikan oleh Douwes Dekker yang kemudian disertai oleh Tjipto Mangoenkoesoemo dan Soewardi Soerjaningrat. Tujuan Indische Partij ialah kemerdekaan Hindia-Belanda. Berlainan dengan Sarekat Islam yang tidak mau bicara politik dan melarang anggota-anggotanya berpolitik, Indische Partij tegas menghendaki kemerdekaan Hindia-Belanda dengan jalan parlementer. Jadi, tujuannya menuntut diadakannya suatu Dewan Perwakilan Rakyat. Waktu itu nama Indonesia belum dikenal, yang dikenal hanyalah Hindia-Belanda, atau Nederlandsch-Indië. Indische Partij menyebut Hindia saja, Nederlandsch-nya dihilangkan.

Nama “Indonesia” sebagai “nama  perjuangan  politik  dan ketatanegaraan” yang diciptakan oleh Perhimpunan Indonesia di Den Haag baru muncul sekitar tahun 1920-1921. Nama itu dipakai secara resmi oleh Perhimpunan Indonesia tahun 1922 dan dipropagandakan tidak hanya di Negeri Belanda, tetapi juga di Tanah-Air.

Waktu Douwes Dekker pergi ke Belanda tahun 1923, ia banyak berdiskusi dengan Hatta dan teman-teman anggota Perhimpunan Indonesia lainnya. Douwes Dekker menentang penggunaan kata Indonesia yang dianggapnya sebagai golongan primitif. Namun, Hatta menentangnya balik, karena Hindia adalah jajahan Inggris dan Inggris tidak pernah menggunakan istilah British-India. Hatta teguh mempertahankan nama Indonesia.

Douwes Dekker dikenal Hatta sebagai seorang militan yang mengatakan berdirinya Indische Partij sebagai “Een oorlogverklaring van de kolonie belasting betalende slaaf aan het belasting schrampende Moederland” (suatu pernyataan perang dari budak kolonial yang membayar pajak kepada Belanda penggaruk pajak).

Kita mencatat pula Dokter Tjipto Mangoenkoesoemo selalu mengumandangkan semboyan, “Indië los van Holland” (Hindia lepas dari Holland). Di mana-mana Dokter Tjipto Mangoenkoesoemo berbicara, itulah penghabisan kata yang diucapkannya.

Sementera itu, Soewardi Soerjaningrat menuliskan artikel yang menggegerkan: “Als Ik Eens Nederlander Was” (Andaikan Saya Seorang Belanda) yang isinya mengejek keras Pemerintah Belanda yang memperingati 100 tahun kemerdekaan Belanda dari keterjajahan, yang dirayakan di tanah jajahannya Hindia-Belanda. Artikel Soewardi Soerjaningrat ini sangat bagus dan tajam, kata Mohammad Hatta.

Tamansiswa

Tamansiswa dengan nama Nationaal Onderwijs Instituut Tamansiswa, didirikan pada 3 Juli 1922 oleh RM Soewardi Soerjaningrat, yang kemudian dikenal sebagai Ki Hadjar Dewantara.

Baca juga:   Hardiknas: Membudayakan Budaya Merdeka, Mandiri, dan Berkedaulatan

Tamansiswa lahir di zaman penjajahan itu merupakan bentuk keprihatinan tokoh-tokoh politik, kebudayaan, dan kerohanian waktu itu. Mereka memprihatinkan kondisi bangsanya yang sengsara hidupnya akibat penjajahan. Tokoh-tokoh itu adalah Soewardi Soerjaningrat, Ki Sayoga, Ki Ageng Soerjomataram, RM Soetatmo Soerjokoesoemoe, Ki Soetopo Wonoboyo, Ki Gondo Atmodjo, Ki Prawirowiworo, Ki Prono Widigdo, BRM Soebono dan RMH Soerjo Poetro. Berdirinya Tamansiswa diawali dengan dibentuknya “Paguyuban Selasa Kliwonan”.

Visi dan Misi Tamansiswa adalah terwujudnya badan perjuangan dan pembangunan masyarakat dengan menggunakan pendidikan dalam arti luas sebagai sarana membangun masyarakat tertib, damai, salam, dan bahagia; mempertajam daya cipta, rasa, dan karsa; menuju pembangunan manusia merdeka lahir dan batin serta berpekerti luhur. Lawan Sastra Ngesti Mulya (dengan ilmu pengetahuan mencapai kemuliaan) merupakan salah satu dari pedoman dalam berkehidupan menuju kebahagiaan kesejahteraan.

Tamansiswa merupakan pelopor dan peletak dasar pendidikan dan kebudayaan. Bersama sekelompok tim pendidikan yang dipimpin Ki Hadjar (Hoesain Djajadiningrat, Asikin, Rooseno, Ki Bagoes Hadikoesoemo, KH Masjkoer) dalam BPUPKI dan PPKI menghasilkan suatu naskah (draft) Pasal 31 tentang sistem pendidikan bagi rancangan UUD Republik Indonesia yang akan dirikan. Ki Hadjar juga aktif menyusun naskah Pasal 32 tentang kebudayaan bagi rancangan UUD itu.

Ki Hadjar selalu militan sejak dia masih di Boedi Oetomo. Ki Hadjar dikenal sebagai pendiri sekolah nasional di zaman penjajahan yang mengajari murid-muridnya untuk mengusir penjajahan dengan semangat kemerdekaan dan kemandirian. Suatu keberanian luar biasa. Ia dikenal sebagai pembangkang terhadap pemerintahan kolonial sampai-sampai ia terkena Wilde Scholen Ordonnantie (ordonansi sekolah liar) yang dikeluarkan pemerintah jajahan, namun ditentangnya. Sikap Tamansiswa menjalankan “lijdelijk verzet” alias tidak melawan, tetapi tidak memperdulikan peraturan.

Dengan bantuan tokoh-tokoh Boedi Oetomo di Volksraad, ordonansi sekolah liar ini dicabut. Kemenangan berada di pihak Tamansiswa yang menyelamatkan sekolah-sekolah pribumi lainnya.

Ki Hadjar Dewantara merupakan tokoh pendidikan dan kebudayaan, sehingga Hari Pendidikan Nasional ditetapkan tanggal 2 Mei, bersamaan dengan hari ulang tahunnya, kemudian beliau ditetapkan oleh negara sebagai Bapak Pendidikan Nasional. Hingga sekarang, Tamansiswa tetap hidup berkembang.

Sebelum Ki Hadjar mendirikan Tamansiswa, ketokohannya dalam perjuangan kemerdekaan telah tenar. Tulisannya berjudul Als Ik Eens Nederlander Was yang mengejek dan sempat sangat menyakitkan hati Pemerintah Belanda, mengakibatkan dirinya dipisahkan dari rakyatnya, dibuang ke Negeri Belanda pada tahun 1913 sesuai putusan Pengadilan Kolonial.

Kita semua tahu bahwa apa yang saya kemukakan di atas tentang Tamansiswa hanyalah sekilas saja. Kita tahu betapa besar peranan Tamansiswa dan Ki Hadjar dalam sejarah Kebangkitan Nasional, baik dalam masa Pra-Kemerdekaan maupun dalam Pasca-Kemerdekaan Nasional.

Pada Kongres 1984, Tamansiswa menegaskan Asas Tamansiswa adalah PANCASILA, dengan mengingat Dasar Tamansiswa sebagai ciri khas Tamansiswa, yaitu: Kodrat Alam, Kemerdekaan, Kebudayaan, Kebangsaan, Kemanusiaan; yang terkenal disebut sebagai PANCADARMA.

Hatta (1928) dan Soekarno (1930) di Pengadilan Kolonial

Dalam perjalanan selanjutnya kita mencatat peristiwa diadilinya Mohammad Hatta sebagai Ketua Perhimpunan Indonesia di Negeri Belanda, setelah ditahan sejak 23 September 1927. Pada 8 Maret 1928 perkaranya itu disidangkan di Pengadilan di Den Haag, atas tuduhan “menghasut”. Tuduhan itu diambil dari tulisannya di majalah “Indonesia Merdeka”.  Pada akhir tuduhannya, jaksa penuntut meminta hukuman tiga tahun penjara untuk Mohammad Hatta.

Hatta dibela oleh Mr. Mobach dan Mr. Duys. Pembelaan Mr. Duys memakan waktu 3 jam 15 menit. Pada akhir pembelaannya Mr. Duys mengatakan bahwa jaksa penuntut tidak melaksanakan tugasnya sebagai pembela keadilan hukum. Hatta sendiri telah mempersiapkan pembelaannya yang ditulisnya di dalam penjara yang bila dibaca akan menghabiskan waktu 3 jam 30 menit. Namun, ketua pengadilan meminta agar Hatta cukup memberikan pembelaannya yang singkat saja.

Pada 22 Maret pengadilan memutuskan Hatta dan juga teman-temannya, yaitu Nasir Pamontjak, Ali Sastroamidjojo, dan Abdoel Madjid Djojoadiningrat, dinyatakan bebas dari segala tuntutan.

Pleidooi (pembelaan) Hatta di pengadilan ini diterbitkan dengan judul “Indonesië Vrij” (Indonesia Merdeka) yang kemudian tersebar ke seluruh pergerakan di Tanah-Air Indonesia. Prof. Sartono Kartodirdjo mengatakan kepada saya di sela-sela Konferensi Sejarawan Asia di UGM (1974), bahwa Sumpah Pemuda 1928 adalah amplification dari “Manifesto Politik 1925 Perhimpunan Indonesia” dan dari pleidooi Hatta “Indonesië Vrij” 1928 itu.

Pembelaan (pleidooi) Ir. Soekarno di Pengadilan Hindia-Belanda di Bandung dua tahun kemudian (1930), berjudul “Indonesië Klaagt Aan” (Indonesia Menggugat) sangat cemerlang. Perlu saya catat di sini bahwa Ir. Soekarno yang lebih kita kenal sebagai seorang ahli politik, tetapi pleidooi-nya itu penuh dengan fakta ketimpangan-ketimpangan ekonomi dan kejahatan-kejahatan ekonomi penjajah. Sementara Hatta yang kita kenal sebagai seorang ekonom, namun pleidooi-nya penuh dengan fakta-fakta ketidakadilan dan kejahatan-kejahatan politik Hindia-Belanda.

28 Oktober 1928 dan 10 November 1945

Sumpah Pemuda 1928 sering dikatakan sebagai “kelahiran”-nya  bangsa Indonesia. Sumpah Pemuda ini senantiasa kita peringati besar-besaran karena merupakan ruh dan sumpah sakral dari kelahiran suatu bangsa: “MENGAKOE BERTOEMPAH DARAH JANG SATOE, TANAH AIR INDONESIA; MENGAKOE BERBANGSA JANG SATOE, BANGSA INDONESIA; MENGJOENJOENG BAHASA PERSATOEAN, BAHASA INDONESIA”.

Sumpah Pemuda 1928 merupakan awal lahirnya bangsa Indonesia. Ketua Panitia Sumpah Pemuda 1928, Soegondo Djojopoespito (22 tahun), kemudian menjadi tokoh Tamansiswa, turut serta mengawali lahirnya bangsa Indonesia.

Perlu saya tambahkan di sini bahwa ekspresi utuh dari nasionalisme adalah patriotisme. Dengan demikian itu, 10 November 1945 yang kita kenal sebagai Hari Pahlawan adalah wujud patriotisme Indonesia in optima forma. Kita tidak sekadar menang perang, tetapi lebih hebat dari itu, kita menang terhadap bala-tentara Inggris (Sekutu), artinya “kita menang dan mampu mengalahkan “sang pemenang” dari Perang Dunia II.

Pimpinan tentara Sekutu/Inggris, Brigadir Jenderal Mallaby, gugur dalam pertempuran di Surabaya itu. Sejarah mencatat kemenangan Indonesia ini dengan tinta emas karena kemenangan dicapai dengan sumpah patriotik di medan perang: “merdeka atau mati”  (walaupun barangkali para pemuda laskar pejuang kita belum mengenal sumpah miripnya dari Patrick Henry, Gubernur Virginia, yang telah lebih dahulu mengatakan pada tahun 1775: “give me liberty or give me death”.

Catatan Mengenai Gerakan Nasional Islam

Mohammadiyah dan Nahdatul Ulama (NU) awalnya didirikan sebagai gerakan agama yang tidak langsung terkait dengan kebangkitan nasional.

Muhammadiyah adalah gerakan Islam, gerakan dakwah Islam amar ma’ruh nahi mungkar, yang pendirinya tokoh ulama besar KH Ahmad Dahlan. Muhammadiyah didirikan pada 18 November 1912 yang saat itu tidak/belum dinampakkan terkait dengan gerakan kebangkitan nasional, khususnya (eksplisit) dengan nasionalisme Indonesia, meskipun KH Ahmad Dahlan sendiri adalah anggota Boedi Oetomo. Beliau menolak dengan halus saran Haji Agus Salim, anggota Muhammadiyah generasi awal, agar Mohammadiyah menjadi partai politik.

KH Ahmad Dahlan belum sempat menonjol saat itu karena beliau tidak berusia panjang, wafat pada tahun 1923, pada usia 55 tahun. Akan tetapi, kemudian nampak sepak terjang para tokoh Muhammadiyah yang sama sekali tidak bisa diabaikan, mereka tidak perpangku tangan mendengar panggilan Ibu Pertiwi. Mereka itu antara lain: Haji Agus Salim, Tjokroaminoto, KH Mas Mansyur (yang bersama Bung Karno, Bung Hatta, dan Ki Hadjar Dewantara sebagai “Empat Serangkai” mendirikan POETERA), termasuk peran nasional anggota Muhammadiyah seperti Soekarno.

Soekarno adalah murid Tjokroaminoto yang mengenal KH Ahmad Dahlan dari setiap kali pendiri Muhammadiyah ini berdakwah di Jawa Timur. KH Ahmad Dahlan selalu menginap di rumah Tjokroaminoto, Surabaya. Soekarno, yang in de kost di rumah Tjokroaminoto, ikut nginthil KH Ahmad Dahlan dalam berdakwah di Jawa Timur. Demikian pula peran nasional tokoh-tokoh Muhammadiyah lainnya seperti, Abdul Gafar Ismail, Kasman Singodimedjo, Soekiman Wirjosandjojo, Soedirman, Ki Bagus Hadikusumo, Djuanda, dst. dst., yang tidak absen memenuhi panggilan gerakan kemerdekaan nasional.

Demikian pula Nahdatul Ulama (NU). NU awalnya bergerak di bidang keagamaan, terutama pendidikan agama. NU dikenal sebagai gerakan Islam tradisional. NU didirikan oleh KH Hasyim Asy’ari dan KH Abdul Wahab Hasbullah, tepatnya pada tanggal 31 Januari 1926, di Surabaya. Namun, selanjutnya NU tidak bisa melepaskan diri dari perjuangan nasionalisme Indonesia.

Pada perang rakyat semesta melawan 6.000 tentara Inggris yang mendarat di Surabaya (yang puncak perlawanan rakyat Surabaya kita kenal dengan peristiwa besar 10 November 1945), para Kyai NU saat itu dengan hebatnya mengumandangkan Hubbul Wathon Minal Iman–cinta Ibu Pertiwi adalah bagian dari iman.

Dalam keadaan yang amat genting menghadapi bala-tentara Inggris yang hendak menegakkan kolonialisme Belanda kembali, para kyai besar NU besepakat untuk menjaga keutuhan kedaulatan Republik Indonesia. Kemudian, delegasi NU seluruh Jawa dan Madura mengadakan sidang khusus di Surabaya yang diprakarsai oleh Syeh Kyai Haji Hasyim Asy’ari dan Kyai Hadji Wahab Abdullah dalam rangka mengadapi agresi pasukan Inggris. Sidang ini menghasilkan “Resolusi Jihat Nahdatul Ulama” yang ditandatangani Kyai Hasyim Asy’ari, menggetarkan suasana perjuangan, rakyat Surabaya terpanggil untuk menjaga kedaulatan Tanah Air.

Bung Tomo tampil hebat dan memukau, baik di mimbar-mimbar rakyat maupun di pidato-pidato radio. Bung Tomo mendapat izin dari Pimpinan Nahdatul Ulama, Kyai Hasyim Asy’ari, untuk mengobarkan semangat jihat NU, dengan semboyan “merdeka atau mati”. Akhirnya kita menang, berhasil mempetahankan kedaulatan nasional kita.

Nasionalisme Tidak Pernah Usang

Siapa pun tidak akan sulit mengakui bahwa nasionalisme Indonesia sedang meluntur.

Perlu saya sampaikan kilas balik sebagai awal: Pada tanggal 15 Februari 2005, Kwik Kian Gie dan saya menghadap Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk menyampaikan suatu keluhan yang mengiris perasaan. Kami diterima oleh Presiden Yudhoyono (yang didampingi Mensekneg Sudi Silalahi), dengan penuh keramahan. Kami menyampaikan rasa gemas kami terhadap seorang doktor ekonomi di sekitar Presiden, yang berbicara penuh sinisme,  “…apa itu nasionalisme, kuno itu, masukin aja nasionalisme ke dalam saku…”.

Presiden Yudhoyono kelihatan gusar mendengarnya dan berpesan, “…bilang sama muridnya Pak Sri Edi itu, kalau saya tidak suka dia bicara demikian…”. Kami berdua sempat kaget, beliau tahu doktor ekonomi itu mantan murid saya.

Kemudian, ibarat disambar halilintar, ketika saya membaca berita pagi, bahwa doktor ekonomi yang saya maksudkan tersebut, tidak lama sesudah itu malahan diangkat pada jabatan strategis di pemerintahan. Lebih mengejutkan lagi tak lama kemudian dia diangkat menjadi menteri.

Memang, nasionalisme telah meluntur. Lihatlah misalnya saja di Surabaya, tidak ada patung Bung Tomo, tidak ada patung dr. Soetomo, tidak ada patung Raden Panji Mohammad Noer, dan seterusnya, yang ada adalah patung-patung singa dan patung-patung naga dan patung Jenderal Perang China Kongco Kwan Sing Tee Koen ukuran besar, konon tertinggi di Asia Tenggara (yang didirikan 3 tahun yang lalu di Tuban/Surabaya, yang baru-baru ini “ditertakan” telah runtuh sendiri).

Beruntung rakyat Solo dan kota perjuangan Solo telah memiliki patung pejoang hebat kita, Slamet Riyadi, yang menggambarkan prajurit muda dengan tekad “merdeka atau mati”  seperti semangat juang Patrick Henry 1775.

Di Yogyakarta upacara 40 Tahun Hari Kebangkitan Nasional (20 Mei 1948) diperingati di Benteng Vredeburg, ditandai oleh Ki Hadjar Dewantara, sebagai Ketua Panitia Peringatan saat itu, dengan menendang batu-bata yang diletakkan di pelataran Benteng Vredeburg. Penendangan batu-bata oleh Ki Hadjar itu dimaksudkan sebagai simbol enyahnya supremasi kekuasaan kolonial. Di Yogya ada patung-putung a.l. Ki Hadjar Dewantara, Jenderal Besar Soedirman, dan Presiden Soeharto.

Kita masih ingat pula ketika Bung Hatta memintakan ampun (mercy) kepada Pemerintah Singapura untuk marinir kita, Usman dan Harun, agar tidak dihukum gantung terkait sengketa Indonesia-Malaysia. Permitaan pengampunan oleh Bung Hatta itu ditolak, Usman dan Harun tetap dihukum gantung oleh penguasa Singapura. Bung Hatta gusar dan kemudian bersumpah “seumur hidupnya tidak akan menginjakkan kaki di Singapura”. Sumpah itu dipenuhi sampai akhir hayat Bung Hatta. Beginilah nasionalisme dan patriotisme Indonesia hendaknya. Kemudian kita menobatkan Usman dan Harun sebagai “Patriot Marinir Indonesia”.

Sayang sekali arèk-arèk Surabaya di Kota Pahlawan Surabaya ini tidak risih bahwa Surabaya disebut sebagai “The Little Singapore”, bahkan pada sebagiannya Kota Pahlawan ini disebut sebagai “The Little Singapore of Surabaya”. Para elite Surabaya sudah lupa akan sandangan mulia Surabaya sebagai “Kota Pahlawan”, maka saya meminta arèk-arèk Surabaya, segera saja mengumpulkan koin-koin receh untuk membuat patung pahlawan- pahlawan Surabaya, dan saya orang pertama yang telah mengawalinya memberikan uang receh gambar Soekarno–Hatta kepada wisudawan-wisudawan (pada Hari Wisuda ABI, Surabaya).

Sayang, TNI Angkatan Laut Republik Indonesia juga sempat lengah-sejarah, mereka sempat alpa pula bahwa satu sisi kota Surabaya sebagai Kota Pahlawan, telah dilèdèk sebagai “The Little Singapore of Indonesia”.

Kita memeringati Hari Pahlawan setiap tanggal 10 November. Kita mestinya juga menyempatkan memugar makam BrigadierJenderal Aubertin Walter Sothern Mallaby (1899 –1945). Brigadir Jenderal Mallaby telah sempat menandatangani perjanjian “gencatan senjata” dengan Bung Karno (didampingi Bung Hatta dan Menhan Amir Sjariuddin) pada 28 Okttober 1945. Ketiga pimpinan Indonesia ini khusus datang dari Jakarta ke Surabaya untuk menenteramkan situasi.

Meninggalya Mallaby di Jembatan Merah Surabaya, tanggal 30 Oktober 1945 adalah suatu insiden mengagetkan, yang tidak pernah terpikirkan bakal terjadi, tidak terencana. Mallaby adalah patriot bagi Kerajaan Inggris, yang orang-orang Inggris pasti sangat menghormati kepahlawanannya. Sediakanlah kesempatan bagi orang-orang Inggris berkunjung ke Indonesia untuk menengok makam Mallaby, pahlawannya, yang di makamkan di Makam Menteng Pulo, Jakarta (bukan di Surabaya). Sekaligus pula untuk mengenang semangat bela-negara pejuang-pejuang Surabaya saat itu, yang tidak mengenal perbedaan asal-usul satu sama lainnya, bersatu sebagai “pasukan-pasukan berani mati”, dengan semangat ukhuwah wathoniah.

Penutup

Nasionalisme dapat mengambil berbagai bentuknya: kita mengenal semboyan right or wrong my country; give liberty or give death; merdeka atau mati; pantang menyerah sampai titik darah penghabisan; dst., dst. Kita pernah melontarkan kritik keras terhadap tokoh-tokoh nasional kita, yang sempat dengan servil-nya mengatakan “I love Germany” dan juga “I love America”, dst. Kita menganggap ucapan-ucapan tokoh-tokoh baru seperti ini tidaklah nasionalis. Kita mengharap ucapan tokoh, apalagi pemimpin nasional haruslah menunjukkan keterpelajaran, bukan keinlanderan. Bahkan bila perlu dalam suatu bentuk suatu ekstrimitas, seperti bangsa Jerman yang sempat mengatakan: “Deutschland über Alles”, atau semacamnya itu. Di sinilah letak kata-kata bertuah Mpu Tantular dalam Kakawin Sutasoma “tan hanna darma mangrva” menuai relevansinya.

Kewaspadaan nasional adalah harga dari kemerdekaan, yang setiap nasionalis sejati pasti siap untuk membayarnya. Saat ini, kewaspadaan nasional itu harus kita tingkatkan. Kita sedang menghadapi ancaman nyata dari imperialisme invasif dan agresif dari Utara.

Sekaranglah saatnya nasionalisme dan patriotisme kita ungkapkan dan bangkitkan kembali.

Selamat merayakan dan memperingati Hari Kebangkitan Nasional.

spot_img

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

Tulisan Terbaru

Cinta

0

Janji Proklamasi

1

Pelayatan Agung

0

Ziarah

1

Komentar Terbaru

Sedang Populer

1,166FansLike
68FollowersFollow