Wednesday, January 20, 2021
Beranda Komunikasi Netizen dan Perkara Kerudung

Netizen dan Perkara Kerudung

Oleh Awanis Akalili, S.I.P., M.A.
Dosen Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Negeri Yogyakarta dan Kandidat Doktor Kajian Budaya dan Media Universitas Gadjah Mada

Suyanto.id–Beberapa hari lalu, jagat raya media sosial disibukkan dengan salah seorang selebgram (selebritas instagram), Rachel Vennya, yang memutuskan melepas kembali kerudung yang sudah sekian lama ia kenakan. Figur yang awalnya dipuja-puja karena dianggap berhasil memberikan pengaruh positif bagi masyarakat, tiba-tiba diserang oleh diksi-diksi yang bertendensi negatif. “Ya ampun, mengapa kau jauhi Tuhan? Kamu dulu tak begitu”, “Aduh sayang sekali, kau cantik menggunakan kerudung loh padahal. Jadi nggak nge-fans lagi”. Komentar-komentar itu muncul dengan mudahnya, seolah-olah jari jemari itu bebas untuk menjustifikasi dan menghakiminya.

Nasihat-nasihat online itu hadir, misalnya saja, “Allah sudah ngasih segalanya buat kamu Chel, coba istiqarah lagi”. Pertanyaan saya; dari mana orang-orang ini tahu bahwa Tuhan telah memberikan segalanya bagi Rachel? Bahkan, mungkin bila Rachel ada masalah, perlukan miliaran followers-nya itu tahu? Kan tidak. Tentu di dalam kehidupan ada batasan, ranah privasi dan ranah publik. Ya, meskipun sebagai publik figur terkadang ada semacam tuntutan untuk menjadi pribadi yang baik. Kerudung ini pun menjadi sebuah hal yang diproblematisasi secara militan.

Perkara kerudung, beberapa netizen (warga internet, citizen of net) mengklaim “Ini Rachel, bukan Buna”. Lah, padahal dalam satu wujud individu yang sama. Apa bedanya? Batin saya. Info dari salah seorang rekan yang sungguh khidmat mengamati fenomena tren media sosial dan budaya yang berkelindan di dalamnya, Buna adalah sebutan Rachel ketika ia dilihat sebagai figur ibu idaman. “Terlihat anggun-pun, dengan balutan kerudung itu”, begitu kutip netizen di kolom komentar. Beberapa netizen melihat sosok perempuan tanpa kerudung tersebut sebagai Rachel, bukan Buna lagi. Ya ampun. Tidak habis pikir saya.

Baca juga:   Perempuan, Rahim, dan “Perlombaan” Memiliki Anak

Laman komentar itu penuh, ada yang menghargai keputusan Rachel, ada pula yang dengan aneh meminta kerudung dijadikan give away, dan tentunya tak jarang juga di antara mereka menghujat melalui akun-akun baik asli maupun anonim. Hujatan-hujatan itu muncul dalam diksi-diksi yang bagi saya cukup menyakitkan. Pikiran saya bertanya-tanya: mudah sekali ya, bahasa-bahasa itu ditinggalkan di kolom komentar tanpa memikirkan dampak ke depannya.

Sebelumnya, Rachel adalah sosok yang sangat dikagumi, tetapi bisa secara instan juga dicemooh. Mengapa orang bisa dengan mudah meromantisir sesuatu, namun juga bisa dengan mudah menjatuhkan sesuatu hanya karena simbol agama yang dikenakan? Juga, mengapa orang-orang menilai kadar keimanan dari pakaian? Bukankah kerudung hanya satu di antara legitimasi simbol agama seorang perempuan beragama Islam? Konstruksi perempuan idaman terus bergulir. Dalam hal ini wacana agama melalui simbol pakaian dijadikan salah satu konsep yang dipermasalahkan. Menyedihkan. Seakan-akan kita hidup untuk memvaliditas definisi “cantik dan idaman” yang dibuat orang lain.

Sebagai penutup, saya rasa tidaklah bijak untuk menghakimi orang baik di dunia nyata maupun di dunia maya dengan cara seperti itu. Setiap diri adalah subjek yang bebas, dan menghargai segala keputusan yang dilakukan orang lain adalah wujud kita menerapkan kebaikan pada sesama. Berbahagialah Rachel dan seluruh individu dengan segala rupa masalah di kehidupannya. Salam. (*)

2 KOMENTAR

  1. Masalah hijab atau jilbab atau kerudung itu urusan pribadi masing-masing dan tidak untuk dihukumi masyarakat. Bagi umat Islam hijab, jilbab atau kerudung itu ada yang tidak terpisah dengan hubungan antara makhluk dan Sang Kholik. Umat
    Islam yang percaya bahwa kerudung bukan keharusan dalam beragama Islam maka ia tidak akan pakai kerudung. Sementara, yang akan pakai kerudung ya tetap pakai kerudung walaupun ada yang mengatakan itu bukan keharusan. Jadi mohon maaf, saya kira enggak lucu diangkat sebagai satu fenomena sosial semata.

  2. Nyuwun ngapunten, saiki jamane Islam bersatu, arep kerudungan apa ora, arep qunut apa ora, arep surbanan apa ora, arep ngengu jenggot apa ora, sing perlu maca sahadat ora, isih shalat 5 waktu apa ora, kuwi sing penting nggih!😙

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

Tulisan Terbaru

Mamuju

Tresna Tanpa Syarat

Tepuk Dada

Komentar Terbaru

Sedang Populer

1,145FansLike
46FollowersFollow