Tuesday, January 31, 2023
spot_img
BerandaGagasan Ilmiah PopulerNuzulul Qur’an: Tonggak Peradaban

Nuzulul Qur’an: Tonggak Peradaban

Z. Arifin Junaidi
Ketua LP Ma’arif NU PBNU dan Sekretaris Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP)

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajarkan (manusia) dengan (perantaraan) pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.” (Q.S. Al ‘Alaq, 1-5).

Itulah lima ayat wahyu pertama yang diturunkan Allah SWT kepada Muhammad SAW. Lima ayat itu menjadi tonggak kenabian Muhammad SAW. Lima ayat itu mengubah arah hidup manusia. Saat lima ayat itu diturunkan disebut zaman jahiliyah, zaman yang kondisi masyaraktnya hidup dalam kebodohan. Masyarakat saat itu disebut bodoh karena tidak mampu menggunakan akal atau pikirannya. Diajari tidak nyambung, diberi sesuatu yang baik menolak, diberi nasehat tidak mau mendengarkan, sesuatu yang penting diangap tidak ada gunanya, dan sebaliknya sesuatu yang tidak ada gunanya dianggap penting.




Masyarakat Arab saat itu adalah masyarakat buta huruf. Meskipun mereka memiliki kelebihan dalam dunia sastra-puisi, semua itu tidak lebih hanya dinikmati untuk didengarkan, bukan ditulis. Al-Thabari bahkan menyebutkan hanya 17 orang dari masyarakat Arab yang bisa menulis. Ketidakmampuan mereka untuk membaca justru merupakan sebuah kebanggaan pada waktu itu. Hal ini berpengaruh terhadap cara masyarakat Arab melihat kemanusiaan dalam bangunan masyarakat yang fanatik dengan kelompoknya.

Semua berubah sejak lima ayat itu turun. Kenapa? Dalam lima ayat itu kata iqra’ – bacalah – diulang dua kali. Kata ‘allama – mengajarkan – juga diulang dua kali. Ini menunjukkan sejak awal Islam menempatkan pendidikan dalam posisi sangat penting. Islam turun langsung mengajak manusia untuk iqra’ dan ‘allama. Artinya, dalam Islam, pendidikan – sebagai penafsiran dari iqra’ dan ‘allama – adalah yang pertama dan tentu yang utama.

Kata iqra’, menurut Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, mempunyai empat makna; pertama adalah tadabbur atau kesadaran sensorial, kedua tafakkur atau kesadaran intelektual, ketiga tadzakkur atau kesadaran emosional dan keempat adalah kesadaran spiritual. Itu sebabnya turunnya lima ayat pertama Al Qur’an itu menjadi tonggak peradaban yang mengubah sejarah manusia.

Masyarakat Arab tempat turunnya Al Qur’an terdorong untuk meningkatkan kemampuan sensorial dan intelektual. Masyarakat Arab juga mengasah emosi dan spiritualnya. Itu terjadi dalam waktu yang relatif tidak terlalu lama, hanya sekitar 23 tahun. Tidak hanya terjadi pada bangsa Arab, tapi juga bangsa di seluruh dunia, karena dalam kurun 23 tahun Islam menyebar ke hampir sudut dunia.

Baca juga:   Santri Itu Bernama Ki Hadjar Dewantara

Engineer menyatakan, masyarakat Arab tidak bisa melihat kemanusiaan di luar kelompoknya, dalam artian kebenaran bagi mereka adalah tatanan nilai dan aturan yang berlaku dalam komunitasnya. Di luar itu adalah kesalahan. Tidak ada nilai yang perlu untuk dihargai di luar kelompoknya. Tapi turunnya Al Qur’an mengubah itu semua.

Kata ‘allama salah satu derivasinya adalah kata ta’lim, yang secara bahasa berarti pengajaran. Secara istilah ta’lim berarti pengajaran yang bersifat pemberian atau penyampaian pengertian dan pengetahuan. Ta’lim adalah usaha terus menerus manusia sejak lahir hingga mati untuk menuju dari posisi ‘tidak tahu’ ke posisi ‘tahu’. Yang tak bisa dipisahkan dari ta’lim adalah tarbiyah, yang secara bahasa berarti pendidikan. Sedangkan menurut istilah merupakan tindakan mangasuh, mendididk, memelihara dan proses menumbuhkan sesuatu secara setahap demi setahap sesuai pada batas kemampuan. Selain itu ada tadris, yaitu upaya menyiapkan murid agar dapat membaca, mempelajari dan mengkaji sendiri, sehingga murid mengetahui, mengingat, memahami, serta mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Untuk melengkapi ta’lim, tarbiyah, dan tadris ada proses ta’dib dan tahdzib. Ta’dib  berarti mengajarkan sopan santun. Menurut istilah, ta’dib diartikan sebagai proses mendidik yang difokuskan kepada pembinaan dan penyempurnaan akhlak atau budi pekerti pelajar. Tahdzib adalah pembinaan akhlak yang dilakukan guru terhadap murid untuk membersihkan, memperbaiki prilaku dan hati nurani dengan sesegera mungkin karena adanya suatu penyimpangan atau kekhawatiran akan adanya penyimpangan.

Kata ta’lim, tarbiyah, tadris, ta’dib, dan tahdzib, menunjukkan satu konsep pendidikan dalam Islam. Kelima istilah ini saling melengkapi dan tercakup dalam tujuan pendidikan Islam yang tidak bisa dipisah-pisahkan. Kelimanya ada pada diri manusia dalam proses menuju kemanusiaannya. Dalam prosesnya juga menunjukkan adanya isyarat bagi guru untuk meningkatkan diri, prosesnya bertahap dan berkelanjutan, menuntut adab-adab tertentu dan metode yang mudah diterima dan dilakukan dengan baik dan bijak, adanya tujuan perolehan pengetahuan/pembinaan akal, perubahan ke arah yang lebih baik, melahirkan amal shalih, akhlak yang baik untuk mewujudkan insan muslim sempurna,

Semua itu diperintahkan Islam sejak pertama kali kehadirannya, yakni turunnya wahyu pertama Surat Al Alaq 1-5. Dua kata yang masing-masing diulang dua kali dalam lima ayat itu, yakni iqra’ dan ‘allama, menjadi tonggak bagi manusia memanusiakan dirinya dan tonggak bagi perubahan peradaban dunia menjadi lebih baik. Wallahu a’lam. (*)

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

Tulisan Terbaru

Cinta

0

Janji Proklamasi

1

Pelayatan Agung

0

Ziarah

1

Komentar Terbaru

Sedang Populer

1,166FansLike
68FollowersFollow