Sunday, November 1, 2020

Pamit

Siska Yuniati
Guru MTs Negeri 3 Bantul, Ketua Umum Pergumapi

“Jadi kamu tidak pamit kepada kedua orang tuamu?”

Aku terdiam atas pertanyaan Mas Andri. Kelu lidahku. Kenyataannya memang demikian. Aku pergi dari rumah setelah pertengkaranku dengan ayah. Masalah sepele tentu saja. Ayah tidak suka aku bangun siang. Ayah tidak suka aku begadang. Ayah tidak suka aku malas-malasan. Hampir setiap hari itu menjadi pemicu keributan kami. Padahal apa pentingnya ayah mengurusi hal remeh-temeh seperti itu. Toh, aku sudah besar. Sudah bisa mengatur hidupku sendiri.

“Bagaimanapun kepergianmu akan membuat orang tuamu kebingungan, Ridwan. Terlebih usiamu baru lima belas tahun. Aku yakin sekarang kedua orang tuamu sudah mencarimu ke mana-mana.”

Mas Andri kembali mengusik pikiranku. Aku hanya memandangi jarum jam di kamar Mas Andri. Tepat pukul tiga pagi. Aku belum bisa memejamkan mata. Mas Andri masih setia menemaniku.

“Pulanglah, Ridwan. Bicaralah baik-baik. Siapa tahu semua segera membaik.”

“Bagaimana jika sebaliknya, Mas?” Akhirnya aku membuka suara.

“Setahuku mereka tidak peduli kepadaku. Setiap hari aku kena marah. Seakan semua yang kulakukan keliru. Aku harus ini. Harus itu. Tidak boleh ini. Tidak boleh itu. Kalau aku pergi, bukankah semua jadi tenang?”

“Kau saja yang salah paham, Ridwan. Barangkali maksud mereka baik.”

Aku mendengus kesal. Mas Andri memang tidak mengenal kedua orang tuaku. Mas Andri bukan teman sekolah maupun tetanggaku. Kami bertemu dalam acara perkemahan antarpelajar. Kebetulan Mas Andri menjadi panitia. Usia kami terpaut tiga tahun. Aku lupa bagaimana mulanya kami menjadi akrab

“Besok pagi, apa rencanamu?”

Aku kembali terdiam. Tepatnya tertohok. Aku sendiri belum tahu apa yang akan kulakukan esok hari. Tidak ada uang, tidak ada baju ganti, hanya seragam biru putih yang melekat di badan. Pikiran untuk pergi datang begitu saja. Usai sekolah aku enggan pulang.

“Kalau menurutku sebaiknya segera kembali ke rumah.”

“Jadi Mas Andri tidak suka aku di sini?”

“Bukan begitu, Ridwan. Aku sudah menganggapmu seperti adik sendiri. Kapan pun kamu mau ke sini, datanglah. Namun, tidak seperti ini.”

“Terima kasih, Mas. Tapi aku tidak mau pulang. Buat apa?”

“Bagaimanapun mereka orang tuamu, Ridwan. Orang tua pasti menginginkan yang terbaik buat anaknya. Terkadang kita saja yang belum bisa memahaminya.”

“Bapakku sudah meninggal, Mas. Ayah adalah bapak tiriku. Sudah wajar jika ia tidak menyukaiku. Ia lebih mencintai adik-adikku.”

Mas Ridwan memandangku. Aku balas menatapnya. Sejurus kami terdiam. Bunyi gemuruh dan lengkingan kereta menyahut. Rumah Mas Andri yang tidak jauh dari rel kereta api seakan turut merasakan kebisingan itu. Sama seperti pikiranku. Bayangan tentang kedua orang tuaku dan adik-adikku berjejalan memenuhi kepala. Begitu berisik.

Baca juga:   Perjalanan

“Kau dengar suara kereta api itu, Ridwan. Bertahun-tahun aku mendengarnya dan segera berlari keluar rumah. Berharap kereta itu berhenti dan aku melihat ibuku.”

“Maksud, Mas Andri?”

“Aku juga sudah tidak mempunyai bapak. Usiaku baru lima tahun kala bapak berpulang. Tidak lama kemudian ibuku memutuskan bekerja sebagai buruh migran. Tidak ada kata pamit. Setahuku ibu masih menemaniku tidur di kamar. Ibu memelukku erat. Namun, saat matahari belum lagi muncul, aku terbangun. Ibuku sudah pergi. Aku mencarinya ke sudut-sudut rumah. Aku bertanya-tanya kepada simbahku. Tidak ada jawaban. Hanya tetesan-tetesan air mata yang aku jumpai, membuatku merasakan kesedihan. Begitu mendalam. Aku berlari menuju luar. Gelap. Suara kereta api bergemuruh. Aku berpikir kereta itulah yang membawa ibuku pergi.”

“Mas Andri?” Aku merasakan sesak. Mas Andri belum pernah bercerita perihal kehidupannya.

“Ya, Ridwan. Lama-lama aku mengerti. Ibuku bekerja di tempat yang jauh. Dua tahun sekali ibu pulang. Dulu aku kira ibu tidak menyayangiku. Pergi tanpa pamit. Namun, aku tahu, ibu merasakan hal yang sama. Jika ada pilihan yang lebih baik, ia akan tetap bersamaku. Ibu pergi agar aku mempunyai masa depan yang baik. Agar aku bisa sekolah. Agar kehidupanku lebih baik. Karena itu, aku tidak boleh menyia-nyiakan pengorbanannya. Aku juga tidak boleh sedih agar ibuku tetap tenang bekerja. Kelak jika aku sudah bekerja biarlah ibu pulang.”

Baca juga:   Tarian Canting

Aku terdiam.

“Kita sama, bapak kita lebih dulu dipanggil Tuhan. Bedanya, kamu masih mempunyai ayah. Ia rela bekerja untukmu juga untuk ibu dan adik-adikmu. Seberapa pun kemarahan ayahmu, ia tidak pernah mengusirmu. Aku yakin, ayahmu marah karena ada sebabnya. Tidak semua yang kita lakukan selalu benar. Kita harus belajar banyak hal.”

Hening. Pikiranku masih berkecamuk. Sayup-sayup suara kokok ayam bersahutan. Suara azan berkumandang. Entah dari mana datangnya, rasa itu hadir. Aku rindu keluargaku. Biasanya saat subuh tiba, ayah akan mengetuk-ngetuk kamarku dengan keras, memintaku bergegas ke masjid. Sekarang? Mungkinkah ia bertambah marah karena aku pergi tanpa pamit? Pikiranku begitu kacau dan aku bergegas mengikuti Mas Andri keluar rumah. Mas Andri mengajakku ke masjid. (*)

Cerpen ini diterbitkan pertama kali di Minggu Pagi No. 29 TH 72 Minggu IV Oktober 2019.

2 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

Tulisan Terbaru

Pendidikan yang Memerdekakan

Puisi Pemuda

Udan Sore

3

Komentar Terbaru

Sedang Populer

1,044FansLike
44FollowersFollow