Sunday, November 1, 2020
Beranda Pendidikan Menyoal Pelaksanaan AKM dan SK pada Masa Pandemi

Menyoal Pelaksanaan AKM dan SK pada Masa Pandemi

Dr. Tita Lestari, M.Pd., M.Si.
Praktisi Pendidikan, Alumni Psikometri Pascasarjana UGM Yogyakarta

Suyanto.id–Istilah Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) dan Survei Karakter (SK) yang diwacanakan sebagai pengganti Ujian Nasional (UN) menjadi ramai diperbincangan sebelum muncul pandemi Covid-19. Slogan “Selamat Tinggal UN , Selamat Datang AKM dan SK” membawa optimisme bagi praktisi pendidikan sehingga tumbuh harapan besar agar AKM dan SK dapat mulai diterapkan tahun 2021.

Sesuai amanat UU Sisdiknas Pasal 58, penilaian pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah terdiri atas penilaian hasil belajar oleh pendidik, penilaian hasil belajar oleh satuan pendidikan, dan penilaian hasil belajar oleh pemerintah pusat. Selanjutnya disebutkan bahwa evaluasi peserta didik, satuan pendidikan, dan program pendidikan dilakukan oleh lembaga mandiri secara berkala, menyeluruh, transparan, dan sistemik untuk menilai pencapaian standar nasional pendidikan. Pertanyaannya, sampai sejauh mana lembaga mandiri tersebut mempersiapkan pelaksanaan AKM sebagai pengganti UN? Apakah ada regulasi khusus tentang penyelenggaraan AKM?




Publik dan praktisi pendidikan sepakat bahwa AKM dan SK bertujuan mengukur kemampuan literasi membaca dan literasi numerik. Saat ini, aktivitas literasi membaca masyarakat Indonesia sangat mengkhawatirkan. Hasil penelitian Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan Tahun 2018 menunjukkan, Indeks Aktivitas Literasi Membaca (Indeks Alibaca) masyarakat dari 34 provinsi masih rendah. Hal ini dilihat dari empat dimensi yang menjadi tolok ukur, yaitu kecakapan, akses, alternatif, serta budaya. Dari keempat dimensi tersebut, hanya pada dimensi kecakapan saja masyarakat kita sudah cukup baik (Kemendikbud,2019).

“Tidak ada penilaian tanpa proses pembelajaran” adalah prinsip yang harus melekat dan dijalankan oleh satuan pendidikan. Artinya, AKM dan SK akan berhasil apabila ada proses pembelajaran yang mencerminkan tujuan pembelajaran yang memuat indikator-indikator kemampuan literasi membaca dan literasi numerik.

Kemampuan berpikir tingkat tinggi seperti model Programme for International Student Assessment (PISA) yang akan dijadikan acuan dalam AKM, tentu menjadi tantangan tersendiri, kompetensi penting dalam dunia modern, sehingga wajib dimiliki oleh setiap peserta didik, dimulai domain analisis (analyze), evaluasi (evaluate), hingga mencipta (create). Skill tersebut juga termasuk kemampuan untuk memecahkan masalah (problem solving), keterampilan berpikir kritis (critical thinking), berpikir kreatif (creative thinking), dan kemampuan mengambil keputusan (decision making) yang dijadikan acuan sebagai bahan dalam menyusun AKM.

Persoalannya, pandemi Covid-19 melanda dunia sehingga harapan yang besar untuk merealisasikan AKM dan SK di tahun 2021 menjadi goyah. Pembelajaran daring untuk meningkatkan kemampuan literasi membaca dan literasi numerasi masih diragukan efektivitasnya. Mungkinkah pelaksanannya diundur ataukah diselenggarakan secara terbatas untuk satuan pendidikan tertentu? Pertanyaan ini muncul mengingat bencana pandemi Covid-19 tidak dapat dipastikan sampai kapan berlangsung, kurva penderita tidak kunjung melandai. Program Belajar dari Rumah (BDR) tampaknya bakal semakin panjang.

Di waktu yang sama, aktivitas pembelajaran daring yang sedang berlangsung masih menyisakan beragam persoalan pelik, mulai isu efektivitas hingga dampak psikologisnya terhadap siswa. Lalu, apakah tahun 2021 nanti Kemendikbud akan tetap melaksanakan AKM dan SK untuk kelas 4, kelas 8, dan kelas 11? Sementara itu, payung regulasi untuk mengganti UN secara yuridis dengan bentuk AKM sampai saat ini juga belum terbit. Mungkin pemerintah masih perlu waktu untuk menyusun regulasi AKM sebagai pengganti UN yang amat strategis ini.

Dari hasil diskusi dengan guru-guru pada berbagai kesempatan, tampaknya perlu pelatihan khusus untuk merealisasikan pembelajaran berbasis kasus ini. Masalahnya, agak sulit jika pelatihan tersebut dilaksanakan secara daring. Selain itu, masalah lainnya adalah kendala dalam mengubah kebiasaan dari pembelajaran yang dilaksanakan secara rutin (biasa) menjadi pembelajaran non-rutin (tidak biasa), yaitu pembelajaran dan penilaian berbasis higher order thinking skills (HOTS) untuk mempersiapkan diri agar peserta didik siap dalam menghadapi AKM dan SK tersebut.

Baca juga:   Kurikulum Adaptif di Masa Pandemi

Saat ini pun para guru di berbagai jenjang sedang mencoba tantangan baru dalam melaksanakan pembelajaran secara daring dengan menggunakan berbagai aplikasi, seperti Google Classroom, Microsoft Office 365, Rumah Belajar, Zenius, Ruang Guru, siaran televisi, radio, dan platform e-learning lainnya. Padahal, masih banyak guru dan peserta didik yang gagap dengan teknologi. Fenomena ini menuntut adanya bimbingan khusus yang dilakukan oleh sekolah.

Seandainya pun para guru dan siswa sudah tidak memiliki kendala lagi dalam pengoperasian teknologi pembelajaran, kualitas pembelajaran daring tersebut tidak serta-merta meningkat atau setara dengan kualitas pembelajaran luring. Hal ini karena model pembelajaran daring pada umumnya belum sepenuhnya mendukung berbagai pendekatan pembelajaran yang berbasis higher order thinking skills (HOTS), seperti pendekatan problem-based learning (PBL), discovery learning (DL), project-based learning (PJBL), dan sejenisnya. Hal yang paling tidak diharapkan adalah saat menjelang AKM dan SK, peserta didik baru dilatih secara instan tanpa memperhatikan proses berpikir untuk kritis dan kreatif. 

Baca juga:   Membangun Resiliensi Diri di Masa Wabah Covid-19

Harus dimulai dari mana?

Jika AKM dan SK akan tetap dilaksanakan pada tahun 2021, sebaiknya siswa yang mengikutinya adalah sampel dari peserta didik yang terpilih, misalnya 15% dari setiap satuan pendidikan memilih peserta didik yang berkompetensi unggul dari aspek sikap dan sosial, pengetahuan, dan keterampilan. Tentunya hal ini harus diawali dengan asesmen diagnostik dan portofolio mengingat AKM digunakan untuk memetakan sekolah-sekolah dan daerah-daerah berdasarkan kompetensi minimal yang mencakup kemampuan literasi dan numerasi. Hal yang menjadi catatan kita semua, bahwa literasi dan numerasi bukan mata pelajaran bahasa atau matematika, melainkan kemampuan menggunakan konsep itu untuk menganalisis sebuah materi.

Selanjutnya, agar pembelajaran saat pandemi ini selaras dengan tujuan dilaksanakannya AKM dan SK, maka modelnya dapat didesain secara kontekstual dan terpadu. Sebagaimana yang disebutkan dalam lampiran Kepmendikbud Nomor 719/P/2020, di antaranya untuk membangun kepercayaan peserta didik dan keberhargaan dirinya, perlu dilakukan pembelajaran yang mendorong peserta didik untuk senang belajar dan terus menumbuhkan tantangan. Harapannya, pembelajaran yang dilakukan dapat memotivasi diri, aktif, dan kreatif, menumbuhkan kemandirian serta bertanggung jawab pada kesepakatan yang dibuat bersama antara guru dengan peserta didik.

Pembelajaran terpadu merupakan suatu model pembelajaran yang memadukan beberapa materi pembelajaran dari berbagai standar kompetensi dan kompetensi dasar dari satu atau beberapa mata pelajaran yang menyenangkan, menantang, menumbuhkan motivasi, kreativitas, dan kemandirian peserta didik.

Dalam melakukan pembelajaran dan penilaian berbasis HOTS secara daring, para guru dapat membuat catatan secara periodik tentang proses dan hasil belajar siswa selama pembelajaran, sehingga dapat diidentifikasi dan dianalisis, siapa saja siswa yang mampu menyelesaikan tugas proyek secara kritis dan kreatif serta memiliki kemampuan berfikir tingkat tinggi.

Agar AKM dan SK tidak bernasib sama dengan UN, maka yang perlu diutamakan adalah melaksanakan pembelajaran dan penilaian berbasis HOTS tersebut dengan seefektif mungkin. Meskipun para guru memiliki cukup banyak kendala dalam pembelajaran daring, diharapkan seiring dengan “jam terbang” yang semakin tinggi mereka dapat melakukan adaptasi dan inovasi sesuai dengan kebutuhan dan tantangan yang dihadapi. Ikhtiar ini harus tetap dilakukan dibanding hanya mempertahankan cara-cara lama yang sudah semakin kehilangan relevansi dan signifikansinya bagi kemajuan pembelajaran. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

Tulisan Terbaru

Pendidikan yang Memerdekakan

Puisi Pemuda

Udan Sore

3

Komentar Terbaru

Sedang Populer

1,044FansLike
44FollowersFollow