Thursday, September 24, 2020
Beranda Pendidikan Penilaian dan Evaluasi Pembelajaran dalam Suasana Pandemi: Siapa Mengerjakan Apa

Pembelajaran dalam Suasana Pandemi: Siapa Mengerjakan Apa

Prof. Dr. Bambang Subali, M.S. 
Guru Besar FMIPA Universitas Negeri Yogyakarta

Suyanto.id–Apabila kita membahas siapa dan apa perannya dalam pembelajaran di masa pandemi Covid-19, maka tidak akan terlepas dari peran guru, orang tua, dan peserta didik itu sendiri yang berkedudukan sebagai subjek belajar. Pemeran dalam proses pembelajaran tersebut tidak bisa lepas dari faktor-faktor yang melatarbelakanginya. Guru atau pendidik tidak bisa terlepas dari kemampuannya dalam menerapkan teknologi komunikasi. Dalam hal ini dapat dibedakan antara guru atau pendidik yang melek teknologi dengan yang tidak melek teknologi.

Kelompok yang melek teknologi pun dapat dipisah menjadi kelompok yang sudah menguasai model pembelajaran daring dan yang kurang menguasainya. Untuk kelompok orang tua juga dapat dikelompokkan menjadi kelompok yang melek teknologi dan yang tidak. Kelompok orang tua yang bisa membelikan telepon genggam (HP) untuk anaknya dan yang tidak. Kelompok ini masih dapat dipisahkan lagi menjadi kelompok yang dapat membelikan pulsa dan yang tidak. Meskipun kelompok pendidik sudah menguasai teknologi pembelajaran daring pun dapat dipisah menjadi kelompok yang mau melakukan dan yang tidak mau.



Untuk kelompok orang tua dapat dipisah menjadi kelompok yang mau melayani pembelajaran anaknya dan yang tidak. Kelompok yang tidak mau melayani pembelajaran anaknya akan mengambil tindakan dengan cara mengerjakan apa yang seharusnya dikerjakan oleh anak dan ada pula yang langsung mengerjakannya sendiri dan kelompok ini yang menjadikan pembelajaran daring tidak sesuai harapan. Ada pula kelompok yang tidak peduli dengan pembelajaran anaknya karena mereka memang tidak menguasai materi ajar. Akibatnya anak tidak memperoleh bantuan sama sekali. Kelompok orang tua yang miskin apalagi fakir tentu tidak mampu membeli HP. Akibatnya anak tidak dapat melakukan pembelajaran daring. Terlebih untuk kelompok fakir, yang terjadi boleh jadi justru meminta anak untuk ikut mencari nafkah.

Dari pihak anak sebagai subjek didik ada kelompok peserta didik yang bersemangat untuk belajar secara daring dan ada yang tidak. Bagi subjek didik yang tidak memilikinya inilah yang membikin orang tua naik tensi, emosi, bahkan bisa menyakiti anak ketika sedang menunggu anak belajar daring.

Perlu diteliti berapa sebenarnya banyaknya anak sebagai subjek didik karena pendidik tidak melakukan pembelajaran daring/orang tua tidak mampu membeli HP/orang tua tidak mampu membeli pulsa/anak tidak punya kemauan untuk belajar daring (maunya belajar secara luring). Belum lagi jika di suatu wilayah memang tidak ada sinyal internet. Tampaknya situasi tidak ada internet/tidak mampu membeli pulsa/tidak mampu membeli HP dan kendala lainnya inilah yang paling banyak terjadi di wilayah pedesaan/terpencil sementara perintah dari dinas pendidikan setempat mengumumkan harus belajar di rumah.

Perihal kegiatan pembelajaran daring faktanya selain faktor di atas masih banyak faktor lainnya yang ikut mempengaruhi. Pada wilayah yang jarak antara rumah dengan sekolah jauh dan pihak sekolah menyuruh orang tua tiap hari untuk mengambil dan mengembalikan tugas anak dari/ke sekolah akan memberatkan orang tua yang miskin terlebih yang fakir karena waktu sepenuhnya untuk mencari nafkah. Dengan mengambil dan menyerahkan tugas seminggu sekali muncul permasalahan apakah pembelajaran benar-benar efektif. Terlebih jika orang tua atau penghuni rumah lainnya tidak dapat membantu anak memahami apa yang dipelajari.

Di media sosial sudah muncul video-video yang menunjukkan betapa pusing orang tua menggantikan peran guru selama belajar daring. Jika pendidik juga tidak mungkin/berkeberatan untuk mengantar dan mengambil tugas, tentulah pembelajaran tidak dapat berlangsung. Jadi, dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor yang positif mendukung pembelajaran daring lebih sedikit daripada faktor-faktor yang menghambat.

Berikut data lapangan yang diperoleh dari beberapa pengawas SD di wilayah DI Yogyakarta yang berhasil dihimpun. Untuk Kecamatan Nanggulan di Kulonprogo ada 11 SD. Semua tidak ada yang masuk kelas. Murid/orang tua yang punya HP diberi tugas untuk satu minggu dikirim via HP. Pengumpulan tugas ada yang melalui HP ada yang diserahkan orang tuanya ke sekolah. Murid/orang tua yang tidak punya HP setiap minggu orang tua menyerahkan dan mengambil tugas baru untuk dikerjakan di rumah.

Baca juga:   Pygmalion Effect pada Pendidikan dan Covid-19

Wilayah Kecamatan Kotagede, menurut pengawas dari 16 SD yang ada sebagian ada yang melakukan pembelajaran daring menggunakan WA dan jika ulangan menggunakan Google Classroom. Dalam rangka pilot project, ada SD yang mengadakan pembelajaran luring seminggu sekali dengan rombel sebanyak 5 orang bergantian masuk sekolah dengan tetap mengikuti protokol kesehatan yang berlaku. Selain itu, sedang diuji coba pula pada 8 SD dengan guru kunjung. Siswa berkelompok pada rumah tertentu untuk dikunjungi guru dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan yang berlaku pada suasana Covid-19.

Pembelajaran di wilayah Yogyakarta selatan, menurut pengawas dari 21 SD di wilayahnya sudah menyelenggarakan pembelajaran daring. Kelas IV sampai kelas VI umumnya menggunakan Google Classroom sedangkan kelas I sampai III menggunakan WA. Guru merekam video dengan durasi pendek sekitar 1 sampai 3 menit dan dikirim melalui WA. Murid yang tidak punya HP dilayani dengan kehadiran orang tua untuk datang ke sekolah guna mengambil dan menyerahkann tugas yang dikerjakan anaknya. Pola yang sama juga terjadi di wilayah Yogya utara dengan SD sebanyak 15 sekolah. Selain menggunakan Google Classroom ada yang menggunakan Google Forms, dan Zoom.

Baca juga:   Perlunya Pendidikan Mitigasi Wabah Covid-19

Di Wilayah Bantul timur, menurut pengawas pembelajaran daring menggunakan WA dan yang tidak punya HP dilaksanakan dengan orang tua datang ke sekolah untuk mengambil dan menyerahkan tugas anaknya. Hal yang sama juga terjadi di wilayah Kabupaten Purworejo yang termasuk zona merah. Demikian juga di wilayah Klaten utara dengan SD sebanyak 30 sekolah. Pembelajaran daring juga dilakukan menggunakan HP. Untuk anak yang memiliki HP tetapi tidak mampu membeli pulsa diambilkan dana BOS untuk membantu mereka. Pengambilan dan pengembalian tugas oleh orang tua dilakukan sekali seminggu. Kondisi yang paling nyata berbeda ada di wilayah Panggang, Gunungkidul. Dari 19 SD semua murid sudah memiliki HP. Pembelajaran daring dilakukan menggunakan program yang sudah dibuat guru menggunakan program Microsoft Innovative Educator dengan Office 365. Pelatihan kepada seluruh guru menggunakan program tersebut telah dilakukan tanggal 5 sampai 10 Juli 2020.

Informasi perorangan dari beberapa orang tua murid, baik dari Jawa Tengah juga dari Bengkulu, belajar daring menggunakan WA. Murid yang tidak punya HP mendatangi sekolah untuk mengambil dan mengumulkan tugas. Di Provinsi Bengkulu ada 5 kabupaten zona hijau dan untuk SMA dan SMK sudah kembali melaksanakan pembelajaran luring. Di Jawa Tengah dengan zona hijau ada guru yang melakukan kunjungan ke rumah murid, dengan meminta beberapa murid bergabung untuk dibimbing guru dan ada pula meminta murid dengan kelompok kecil maksimum 5 orang untuk datang ke rumah guru dan semuanya mengikuti protokol keamanan yang berlaku.

Solusi alternatif yang dapat ditawarkan apakah tidak mungkin untuk SD kelas I sampai kelas III tiap 2 kali seminggu, karena ada 6 hari dan 6 ruang kelas, subjek didik dilayani pembelajaran luring, misalnya dari pukul 7.30 sampai pukul 9.30. Kemudian disertai dengan pembelarian tugas atas dasar apa yang sudah dijelaskan di sekolah. Dengan demikian, orang tua tidak dipaksa menjadi pengganti guru di rumah. Tentu saja hal ini dengan pengaturan, misalnya:

  1. kelas I masuk hari Senin dan Kamis. Kelas II masuk hari Selasa dan Jumat. Kelas III masuk hari Rabu dan Sabtu.
  2. Kelas dibagi menjadi 6 rombel sesuai dengan banyaknya ruangan yang ada sebanyak 6 ruangan, sehingga murid 30 anak akan terbagi menjadi 6 rombel dengan anggota 5 anak tiap rombel.
  3. Kedatangan anak ke sekolah mengikuti protokol Covid-19 dan tidak ada jam istirahat.
  4. Anak yang tidak dapat pergi ke sekolah karena tidak ada yang mengantarkan dilayani dengan guru kunjung mulai pukul 10.

Dengan demikian, pembelajaran masih dapat terlayani selain adanya unsul perlunya kurikulum adaptif yang harus segera digulirkan mengingat tidak ada kepastian kapan pandemic akan berakhir. (*)

2 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

Tulisan Terbaru

Papan Catur Tua Kraton Surakarta

Dendam Tujuh Turunan

Motivasi Menulis dari Webinar Guru Menulis

Bersegeralah Sedekah Jangan Ditunda

Komentar Terbaru

Sedang Populer

Strategi dan Teknik Menulis Ilmiah

Pandemi

1,042FansLike
42FollowersFollow