Wednesday, January 20, 2021
Beranda Gagasan Ilmiah Populer Pembelajaran HOTS untuk Hadapi Revolusi Industri 4.0

Pembelajaran HOTS untuk Hadapi Revolusi Industri 4.0

Prof. Dr. Anak Agung Gede Agung, M.Pd.
Guru Besar Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja, Bali

Revolusi Industri 4.0

Sejak tahun 2017, Prof. Klaus Schwab, ekonom terkenal dunia asal Jerman, Pendiri dan Ketua Eksekutif World Economic Forum (WEF), mengenalkan konsep Revolusi Industri 4.0 (RI 4.0). Dalam bukunya yang berjudul “The Fourth Industrial Revolution”, Schwab (2017) menjelaskan RI 4.0 telah mengubah hidup dan kerja manusia secara fundamental.

Kehadiran RI 4.0 telah mengakibatkan terjadinya perubahan manajemen pendidikan. Perubahan yang paling nampak adalah adanya upaya mengubah pendekatan atau strategi pembelajaran yang berorientasi kepada keterampilan berpikir tingkat tinggi atau Higher Order Thinking Skills (HOTS) agar lulusan mempu menjawab tantangan dan tuntutan masyarakat.




RI 4.0 menuntut perlunya menyiapkan sistem pembelajaran yang kreatif dan inovatif untuk meningkatkan kompetensi lulusan yang memiliki keterampilan abad ke-21. Ada beberapa pandangan tentang apa saja yang menjadi tuntutan keterampilan abad ke-21, salah satunya adalah 4C yang merupakan akronim dari Critical thinking and problem solving (C1), Creativity and innovation (C2), Communication (C3), dan Collaboration (C4).

Critical thinking and problem solving (berpikir kritis dan pemecahan masalah) adalah semua hal tentang keterampilan berpikir dan mampu memecahkan permasalahan yang dihadapi. Creativity and innovation (kreativitas dan inovasi) adalah menyangkut keterampilan berpikir keluar dari teori lama dan mencoba pendekatan baru atau penemuan baru untuk menyelesaikan sesuatu permasalahan yang dihadapi seseorang. Communication (komunikasi) adalah keterampilan seseorang untuk menyampaikan dan berbagi pemikiran, pertanyaan, gagasan, dan solusi mereka dengan cara terbaik. Collaboration (kolaborasi) adalah keterampilan seseorang untuk bekerja sama, saling bersinergi, beradaptasi dalam berbagai peran dengan orang lain untuk mencapai tujuan bersama.

Keempat ciri tesebut secara logika dapat dideskripsikan bahwa seseorang yang memiliki kemampuan berpikir kritis yang tinggi akan dapat memecahkan permasalahan yang dihadapi dalam kehidupannya. Kemudian, seseorang yang memiliki kemampuan berpikir kritis yang tinggi cenderung mampu berkreasi dan berinovasi.

Selanjutnya, untuk bisa sukses menghadapi tantangan globalisasi abad 21 atau era RI 4.0, maka seseorang yang memiliki kemampuan berpikir kritis yang tinggi dan kemampuan berkreasi dan berinovasi, dituntut memiliki kemampuan berkolaborasi dan berkomunikasi yang baik sehingga dapat meraih sukses dalam kehidupannya.

Untuk menjawab tantangan era RI 4.0, di perguruan tinggi telah menerapkan kurikulum berorientasi Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI). Di dalam KKNI, terdapat empat capaian pembelajaran (learning outcome) pada 9 level. Pada KKNI tersebut untuk jenjang Sarjana (S1) masuk level 6, magister (S2) level 8, dan doktor (S3) level 9.

Deskripsi kemampuan pengetahuan untuk sarjana (S1) adalah menguasai konsep teoretis bidang pengetahuan dan keterampilan tertentu secara umum dan konsep teoretis bagian khusus dalam bidang pengetahuan dan keterampilan tersebut secara mendalam. Deskripsi kemampuan kerja atau keteramilan khusus untuk sarjana adalah kemampuan pengaplikasikan, mengkaji, membuat desain, memanfaatkan ipteks, dan menyelesaikan masalah.

Proses Pembelajaran dan Asesmen Berorientasi HOTS

Dalam konsep pendekatan sistem dalam pembelajaran, ada empat faktor yang mempengaruhi lulusan bermutu, yakni masukan mentah (raw input), masukan instrumental (instrumental input), masukan lingkungan (environmental input), dan proses transformasional (transformational process). Keempat faktor tersebut yang menentukan kualitas lulusan (output dan aoutcome). Di antara keempat faktor tersebut, faktor kualitas proses pembelajaran merupakan yang dominan menentukan kualitas lulusan.

Dengan demikian, untuk menghasilkan lulusan bermutu yang memiliki ciri 4C tersebut, diperlukan strategi pembelajaran yang dapat bersifat interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, dan memotivasi (I2M3) bagi peserta didik agar mereka berhasil dan merasakan kepuasan dalam belajar (PP 19/2005). Ada beberapa jenis model atau metode pembelajaran yang dipandang efektif meningkatkan capaian pembelajaran, seperti pembelajaran berorientasi higher order thinking skills (HOTS), problem base learning (PBL), project base learning (PjBL), contextual teaching and learning (CTL), dan lain-lain.

Keterampilan berpikir kritis merupakan capaian pembelajaran pengetahuan (CP Pengetahuan) yang harus diajarkan secara eksplisit. Melalui keterampilan berpikir kritis, diharapkan seseorang mampu berpikir untuk membuat alasan yang rasional, memecahkan permasalahan yang dihadapi, memperhitungkan kemungkinan-kemungkinan, membuat kesimpulan, dan membuat keputusan (Zubaidah, 2018). Seseorang yang memiliki kemampuan berpikir kritis tinggi akan cenderung memiliki kemampuan untuk memecahkan permasalahan hidup yang dihadapinya.

Baca juga:   Building the Elementary School Students’ Character in 4.0 Era by Implementing TriNga and TriN Concepts in Thematic Learning

Berkaitan dengan keterampilan berpikir kritis, Collins (2014) memberikan sejumlah langkah yang dapat dilakukan guru dalam melatih keterampilan berpikir kritis. yaitu (1) mengajarkan HOTS secara spesifik dalam ranah pembelajaran, (2) melaksanakan tanya-jawab dan diskusi pada skala kelas, (3) mengajarkan konsep secara eksplisit, (4) memberikan scaffolding, dan (5) mengajarkan HOTS secara kontinu.

Untuk mengetahui capaian pembelajaran lulusan, maka harus dilakukan evaluasi secara komprehensipf, tepat (valid), dan dapat dipercaya (reliabel). Teknik evalausi yang relevan adalah tes keterampilan tingkat tinggi (hight order skill test-HOST). Menurut  Ennis (2001) dan Zubaidah (2018), tes untuk mengukur kemampuan berpikir kritis dapat dibedakan menjadi tes spesifik untuk suatu topik dan tes yang umum (untuk semua topik).

Tes berpikir kritis spesifik untuk suatu topik mengukur hanya satu topik atau subjek saja. Sementara itu, tes berpikir kritis umum menggunakan konten dari berbagai bidang atau bersifat umum. Dinyatakan pula, bahwa belum ada tes berpikir kritis yang spesifik untuk suatu subjek yang tujuan utamanya adalah mengukur berpikir kritis pada suatu bidang atau topik yang spesifik. Asesmen yang dikembangkan untuk kemampuan berpikir kritis sebaiknya berformat tes open ended dibandingkan dengan tes pilihan ganda, karena tes open ended dinyatakan lebih komprehensif.

Baca juga:   Hadapi Pandemi dan Revolusi Industri 4.0, Guru Harus Berkarakter, Kreatif, dan Inovatif

Beberapa macam asesmen berpikir kritis berformat tes open ended adalah (1) tes pilihan ganda dengan penjelasan tertulis; (2) tes uraian/essay berpikir kritis; dan (3) tes unjuk kerja (performance assessment). Kemudian, tes uraian berpikir kritis dibagi menjadi tiga macam yaitu high structure, medium stucture, dan minimal structure. Pada tes essay high structure ditunjukkan sebuah topik argumetatif (sebuah surat untuk editor) dengan paragraf yang diberi nomor, yang sebagian besar masih salah.

Selanjutnya, siswa diminta untuk menilai kebenaran setiap paragraf dan keseluruhan topik, serta mempertahankan penilaian mereka tersebut. Tes essay medium stucture merupakan tes yang lebih disederhanakan dari high structure, yaitu dengan memberikan topik argumentatif dan meminta seseorang memberi respons berupa argumen pada topik tersebut serta mempertahankan tanggapan tersebut tanpa menentukan organisasi respons. Rubrik penskoran untuk tes essay medium stucture dapat menggunakan penskoran holistic atau analytic.

Rubrik penskoran holistic lebih cepat dan murah, sedangkan rubrik penskoran analytic memberikan informasi lebih banyak dan lebih bermanfaat untuk suatu tujuan tertentu. Selanjutnya, tes essay minimal structure yang merupakan bentuk paling sederhana karena terdiri dari suatu pertanyaan yang harus dijawab atau suatu masalah yang harus ditangani.

Simpulan

Model, strategi, atau motode pembelajaran yang inovatif dan efektif dibutuhkan untuk memenuhi tuntutan pembelajaran pada era Revolusi Industri 4.0 atau abad 21. Motode pembelajaran yang inovatif dan efektif diharapkan juga mampu menghasilkan sumber daya yang memiliki soft skill yang tinggi seperti: berpikir kritis, kreatif, berkomunikasi, dan berkolaborasi, memimpin, jujur, disiplin, tangung jawab, beretika, pendekatan, dan lain-lain.

Untuk mengetahui bahwa strategi/model dan proses pembelajaran dinyatakan efektif dan efisien, maka harus dilakukan asesmen dengan menggunakan berbagai instrumen (rubrik penilaian) relevan yang memiliki validitas dan reliabilitas memadai sehingga hasilnya dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Untuk mengukur capaian pembelajaran yang relevan dengan pembelajaran berorientasi HOTS dalam menghadapi tantangan RI 4.0, dapat pula menggunakan teknik asesmen otentik.

Daftar Pustaka

Ennis, R. H. (2001). Critical Thinking Assessment. The Ohio State University. 32, (3). (Online) http://www3.qcc.cuny.edu, diakses tanggal 6 Oktober 2018.

Perpres Nomor 8 Tahun 2008 tentang Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI). Jakarta: Dekdiknas.

Schwab, K. (2017). The Fourth Industrial Revolution. Crown Business Press.

Zubaidah, Siti. (2018).  Mengenal 4c: Learning and Innovation Skills untuk Menghadapi Era Revolusi Industri 4.0. Makalah. Disampaikan pada Seminar “2nd Science Education National Conference” di Universitas Trunojoyo Madura, 13 Oktober 2018.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

Tulisan Terbaru

Mamuju

Tresna Tanpa Syarat

Tepuk Dada

Komentar Terbaru

Sedang Populer

1,145FansLike
46FollowersFollow