Sunday, February 28, 2021
Beranda Gagasan Guru Pembelajaran Jarak Jauh dan Teachers Burnout

Pembelajaran Jarak Jauh dan Teachers Burnout

Oleh Deti Prasetyaningrum, S.Pd.
Guru Bahasa Inggris MTs Negeri 3 Sleman

Suyanto.id–Hampir satu tahun Indonesia terdampak wabah Corona Virus Disease 2019 (Covid-19). Wabah tersebut hampir mengubah segala lifestyle manusia saat ini. Kehidupan bermasyarakat, berbisnis, beribadah, hingga belajar mengajar kini harus mengikuti protokol kesehatan (prokes) untuk menekan laju penyebaran Covid-19.

Dalam dunia pendidikan, pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan memutuskan untuk memindahkan ruang belajar ke dunia maya sejak Maret 2020. Tentu keputusan ini menjadi sebuah tantangan, tidak hanya bagi guru, tetapi juga bagi siswa dan orang tua. Guru harus mengubah metode pengajaran mereka dan media pembelajaran yang mereka gunakan sebelum pandemi. Siswa dituntut harus lebih mandiri dalam memahami, menalar, mengolah informasi, dan menganalisis materi yang diberikan oleh guru. Orang tua yang selama ini menyerahkan pendidikan putra-putrinya kepada pihak sekolah, sekarang harus meluangkan waktu untuk mendampingi dan memantau progres pembelajaran anak-anak.



Sebelum pandemi, guru sudah terbiasa dengan model pembelajaran yang mereka kuasai dengan baik. Mereka sudah memiliki perangkat pembelajaran yang lengkap, media pembelajaran untuk tiap kompetensi dasar pun sudah mereka miliki, dan berbagai metode mengajar dan ice breaking sudah mereka siapkan. Namun demikian, saat pembelajaran jarak jauh diterapkan, guru merasa kembali lagi ke awal alias “mulai dari nol”. Bahkan, banyak di antara mereka tidak memiliki apapun untuk digunakan dalam PJJ. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi para guru terutama yang kurang menguasai Instructional Technology yang mendukung PJJ.

Menyadari hal tersebut, sebagian besar guru meningkatkan pengetahuan dan keterampilan mereka menggunakan IT dengan cara mengikuti berbagai pelatihan online yang terkait pembuatan media mengajar online, editing video, dan pengelolaan Learning Management System (LMS) dengan berbagai platform pendidikan yang ada. Tidak hanya itu, guru juga melihat berbagai tutorial di YouTube, membeli buku-buku terkait IT, dan meminta pendampingan langsung dari teman sejawat. Ilmu-ilmu tersebut harus dengan cepat mereka kuasai karena mereka hanya memiliki sedikit waktu untuk mempersiapkan PJJ.

Dengan cepat, guru harus mengubah program tahunan, program semester, silabus, dan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) karena harus disesuaikan dengan metode, media mengajar, serta penilaian sesuai karakter Pembelajaran Jarak Jauh.

Interaksi guru dan siswa dalam dunia maya, tentu terbatas, tidak seperti interaksi pada saat tatap muka. Siswa kebanyakan merasa segan dan malu untuk menanyakan kesulitan dalam memahami materi di forum diskusi sehingga mereka lebih memilih untuk menanyakan kesulitan-kesulitan mereka melalui pesan pribadi. Pesan-pesan pribadi para siswa ini membuat handphone guru berbunyi setiap waktu, dari pagi hingga malam menjelang tidur. Hal ini sangat menguras tenaga dan pikiran guru. Sebagai guru, mereka pasti akan menjelaskan sebaik mungkin pada anak didiknya sampai mereka paham. Namun, di sisi lain, mereka juga memiliki keterbatasan waktu dan tenaga.

Keberagaman karakter siswa juga mempengaruhi tingkat keberhasilan pengajaran guru. Siswa yang sudah mampu mandiri dalam menalar, mengumpulkan dan mengolah informasi, serta menyelesaikan latihan dan tugas-tugas dari guru akan sangat membantu guru dalam menuntaskan pembelajaran. Namun, bagaimana dengan siswa yang pasif atau slow leaners? Tidak semua siswa akan tepat waktu bergabung ke kelas virtual yang telah disiapkan oleh guru. Sebagian dari mereka terlambat bahkan banyak yang tidak mengikuti kelas online. Guru hanya bisa menegur melalui pesan singkat kepada siswa dan orang tua yang bersangkutan. Kasus ini akan akan diperparah jika orang tua tidak ikut memantau pembelajaran anak di rumah. Apakah sebuah teguran akan langsung mengubah sikap mereka?

Hal-hal tersebut di atas akan membuat guru merasa frustasi, lelah, dan kecewa. Dalam istilah asing, kondisi semacam ini disebut dengan teacher burnout. Sherrie Bourgh Carter, Psy.D., seorang psikolog dan penulis buku High Octane Women, mendefinisikan “burnout as a state of chronic stress that leads to physical and emotional exhaustion, cynicism, detachment and feelings of ineffectiveness and lack of accomplishment.” Menurut Sherrie, burnout sebagai sebuah keadaan dari tekanan yang terus menerus yang menggiring pada keletihan fisik dan emosi, sinisme, merasa gagal, dan pencapaian yang buruk’. Akibatnyam guru menjadi kurang termotivasi untuk bekerja dan teacher burnout ini bisa menular kepada guru yang lain. Jika hal ini dibiarkan, maka lingkungan kerja tidak akan sehat.

Apa yang bisa dilakukan untuk menanggulangi sindrom teacher burnout ini?

  • Pengelola sekolah harus mampu menjalin komunikasi yang baik dengan guru. Diskusi mengenai kebutuhan media dan sarana prasarana maupun permasalahan terkait pembelajaran sangat dibutuhkan. Di samping itu, pembinaan secara profesional dan spiritual pun wajib dilakukan oleh pengelola.
  • Guru memiliki komunitas profesi seperti MGMP atau komunitas-komunitas guru lain dalam dunia maya, baik lingkup nasional maupun internasional. Gunakan komunitas ini untuk berbagi pengalaman dan permasalahan-permasalahan yang dihadapi. Guru akan menemukan cara-cara baru untuk menanggulangi permasalahan yang dihadapi.
  • Temui pengawas sekolah, dosen, atau role model yang dekat dan dipercaya bisa membantu menyelesaikan permasalahan yang dihadapi. Berceritalah dengan santai dan dengarkan nasehat atau jalan keluar yang diberikan kemudian coba lakukan.
  • Ikuti webinar dan baca buku mengenai motivasi dan metode mengajar interaktif agar guru dapat menambah referensi mengajar dan menemukan kembali gairah mengajar.
  • Olahraga teratur bisa membantu mengurangi sindrom Teacher Burnout. Olahraga memiliki banyak manfaat untuk kesehatan fisik seseorang. Selain itu, olahraga bisa membantu meningkatkan mood, meningkatkan konsentrasi, mengurangi stress dan depresi, serta meningkatkan kepercayaan diri.
  • Ambil waktu jeda dari rutinitas harian untuk pergi ke suatu tempat yang aman dan nyaman untuk travelling. Tentu saja, dalam situasi saat ini tetap mengikuti protokoler kesehatan. Rasa bahagia dari travelling akan meningkatkan kinerja otak dan tentunya berdampak positif pada pekerjaan.
  • Tingkatkan ibadah kita. Guru sebaiknya meluruskan kembali niatnya bahwa “bekerja untuk beribadah”. Ketika niat sudah kuat untuk beribadah, maka guru akan terus berjuang tak kenal lelah untuk mendidik anak didiknya. Yakinlah, bahwa Allah akan memberikan kemudahan bagi siapa saja yang mempermudah urusan orang lain.

Dengan tetap menjaga semangat guru dalam bekerja, kita berharap agar para guru bisa terhindar dari sindrom teacher burnout ini dan hanya pembelajaran berkualitaslah yang guru persembahkan kepada anak didiknya. Semoga, dalam pandemi ini, cita-cita untuk mewujudkan generasi emas tetap akan tercapai. (*)

5 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

Tulisan Terbaru

Hari yang Dijanjikan

0

Menangis adalah Hak

0

Problematika Terurai

0

Kilasanmu Ayah

0

Komentar Terbaru

Sedang Populer

Menangis adalah Hak

Kilasanmu Ayah

Problematika Terurai

1,160FansLike
46FollowersFollow