Sunday, November 1, 2020
Beranda Gagasan Ilmiah Populer Pembentukan Karakter pada Pendidikan Jarak Jauh

Pembentukan Karakter pada Pendidikan Jarak Jauh

Didik Suhardi, Ph.D.
Direktur PSMP Kemdiknas (2008–2015) dan Sekretaris Jenderal Kemdikbud (2015–2019).

Suyanto.id–Pendidkan pada dasarnya bukan hanya memberikan bekal ilmu pengetahuan, tetapi juga memberi kecakapan lain yang diperlukan untuk bekal melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi dan bekal kehidupan dalam bermasyarakat di kemudian hari. Ketika terjun di lingkungan kerja maupun bersosialisasi di masyarakat, tidak cukup hanya berbekal ilmu pengetahuan.

Martin Luther King Jr. mengatakan, “The function of education is to teach one to think intensively and to think critically. Intelligence plus character–that is the goal of true education”. Sementara itu, menurut Malcom X atau e-Hajj Malik El-Shabazz, “Education is the passport to the future, for tomorrow belongs to those who prepare for it today”.




Jadi, pendidikan memang tidak hanya dimaksudkan untuk menimba pengetahuan umum, tetapi juga berlatih untuk berpikir kritis dan menggembleng pendidikan karakter untuk bekal masa depannya. Sekolah bukan sekadar tempat mencari ilmu pengetahuan, tapi juga harus menjadi salah satu tempat pembentukan karakter bagi anak-anak kita.

Karakter diperoleh dari pengalaman belajar, mulai anak berangkat dari rumah, masuk pintu gerbang sekolah, sambutan warga sekolah kepada siswa, bersosialisasi dengan teman-temannya, interaksi antara siswa dan guru di dalam kelas, perlakuan guru terhadap siswa, sampai selesai kembali ke rumah. Proses inilah yang akan tercatat dalam memori anak.

Learning experiences (pengalaman belajar) menjadi proses penting dalam pembentukan karakter. Oleh karena itu, proses pendidikan yang baik akan memberi pengalaman belajar yang baik dan akan menghasilkan pribadi-pribadi yang baik di kemudian kelak. Begitu juga sebaliknya, proses pembelajaran yang kurang baik sangat berpotensi menghasilkan sesuatu yang kurang.

Bagaimana pembentukan karakter pada pembelajaran jarak jauh?

Tidak dapat dipungkiri, pembelajaran jarak jauh menjadi salah satu jawaban dalam proses pendidikan, terutama untuk mengatasi hal-hal yang tidak bisa diselesaikan dengan pendekatan mainstream, contohnya masa pandemi Covid-19 ini. Dengan pembelajaran jarak jauh, siswa tetap bisa belajar dan mendapatkan ilmu pengetahuan tanpa harus datang ke sekolah.

Pembelajaran jarak jauh bisa mengatasi sebagian masalah. Bagi daerah dengan infrastruktur baik, mereka bisa belajar menggunakan IT dan berbasis online. Bagi daerah 3T (terluar, tertinggal, terdepan) dan ter- lainnya, jika tidak ada jaringan internet, bisa berbasis offline.

Bagi sekolah dan siswa di daerah kurang mampu, pemerintah bisa mulai mempertimbangkan penggunaan modul. Ciri khas modul adalah self-explained. Di Indonesia, modul merupakan bahan ajar yang sudah digunakan di jenjang pendidikan dasar, yaitu sejak tahun 1979 pada SMP Terbuka dan diikuti Pendidikan Kesetaraan dan juga pada Universitas Terbuka.

Apakah dengan pembelajaran jarak jauh cukup memenuhi kebutuhan pembentukan karakter siswa seperti disampaikan oleh Martin Luther King Jr. di atas?

Baca juga:   Flipped Classroom Model: Solusi bagi Pembelajaran Darurat Covid-19

Pada jenjang pendidikan tinggi pembelajaran jarak jauh, pembentukan karakter sudah cukup karena sudah diperoleh pada pada jenjang pendidikan anak usia dini sampai dengan jenjang pendidikan menengah, baik itu performance character (karakter kinerja) moral character (karakter moral), relational character (karakter relasional), maupun spiritual character (karakter spiritual) (Jhonson, dkk., 2010).

Walaupun demikian, sebagian ahli berpendapat bahwa interaksi antara dosen dan mahasiswa tetap diperlukan, khususnya dalam memberi motivasi. Interaksi antarmahasiswa juga diperlukan dalam rangka  proses pendewasaan dan berbagi wawasan.

Bagaimana dengan jenjang pendidikan anak usia dini sampai pendidikan menengah? Tentu pembentukan karakter melalui pembelajaran jarak jauh tidak cukup. Filosofinya, semakin rendah jenjang pendidikan, bobot pembentukan karakternya semakin tinggi. Pada pendidikan anak usia dini, proses belajarnya sepenuhnya bertujuan pembentukan karakter. Semakin tinggi jenjangnya, proses pembentukan karakter dibarengi dengan pemberian pengetahuan sesuai dengan tingkat perkembangan psikologi dan inteligensi anak.

Bagaimana cara memenuhi kebutuhan pembentukan karakter bagi anak? Ki Hajar Dewantoro mengajarkan tentang tri pusat pendidikan, yaitu sekolah, orang tua, dan masyarakat. Begitu tinggi nilai filosofi ajaran ini sehingga sangat cocok untuk kondisi sekarang. Pendidikan anak tidak bisa diserahkan kepada sekolah saja karena dengan pandemi Covid-19, mengandalkan sekolah tidak optimal, perlu kerjasama sekolah, orang tua, dan masyarakat.

Peran orang tua dan masyarakat sangat penting dalam membantu pembentukan karakter anak. Pembiasaan dalam penanaman karakter kinerja, moral, relasional, dan spiritual harus bisa digantikan dan dilengkapi oleh peran orang tua dan masyarakat.

Dalam penanaman nilai-nilai karakter di rumah, orang tua bisa dibantu melalui media. Sekarang sudah banyak sekali konten pendidikan karakter berbasis media. Tentu saja, untuk praktik beribadah, harus dicontohkan sendiri dalam keluarga, termasuk karakter lain yang memerlukan role model dari orang tua dan keluarga.

Membangun lingkungan masyarakat ramah anak dan lingkungan belajar yang baik, sangat membantu penanaman dan pembentukan karakter. Beberapa kampung sudah menerapkan hal ini, misalnya Desa Punten di Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, Jawa Timur dan RW 18 Leles, Desa Condongcatur, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Selain dua daerah ini, masih ada contoh-contoh lain yang bisa dijadikan teladan atau diadaptasi.

Pembentukan karakter tidak cukup dengan membuat petunjuk teknis dan petunjuk lainnya, tetapi perlu contoh dan role model sebagai panutan dalam pelaksanaannya. Seperti disampaikan Thomas Lickona, bahwa pembentukan karakter tidak cukup dengan diketahui (moral knowing), namun harus dipahami/dirasakan (moral feeling), dan juga dilakukan (moral action). (*)

SebelumnyaGebyaring Donya
BerikutnyaTarian Canting

24 KOMENTAR

  1. Tulisan yang sangat menginspirasi Pak Didik, tugas akhir saya juga membahas tentang Pendidikan Karakter. Membaca tulisan ini saya jadi penasaran Dusun Leles, Di Condongcatur. Besok kalau sudah aman sesekali kami main ke dusun tersebut. Salam hangat dan sehat selalu.

  2. Sangat menarik Pak Didik….. Sudah lama sering menjadi pertanyaan dlm berbagai diskusi tentang bagaimana mendidik karakter dalam pembelajaran jarak jauh. Dalam tulisan ini ditemukan jawabnya bahwa mendidik karakter tidak bisa tuntas jika diserahkan ke sekolah saja. Orang tua, masyarakat, dan sekolah memiliki peran semua.

  3. Problem lainnya berkaitan dg peran masyarakat dan orang tua di mas covid 19 ini. Masyarakat juga tidak bisa berperan maksimal krn di masa covid ini jg hrs social distancing/ phisical distancing, shg lembaga pendidikan yg ada di masy tdk berfungsi dg baik spt tpa/ tpq. Sementara orang tua punya problem di kompetensi dan seringa alasan waktu dan tenaga yg terbatas.

    • Tri pusat pendidikan ajaran Ki Hajar Dewantoro harus kita laksanakan. Bukan hanya saat oandemi corona tapi ini titik awal dimulainya gerakan baru pelibatan masyarakat, orangtua dan sekolah. Masyarakat tidak bisa lagi acuh tak acuh di lingkungan sekolah banyak penjual rokok, sampah berserakan dimana-mana, anak-anak pada nongkrong yg malah meresahkan sekolah.

  4. Terima kasih

    Soal Karakter memang sudah menjadi yang urgen dan SOS bagi bangsa dan rakyat Indonesia, belakangan.

    Mungkin aspek jarak jauh bisa dielaborasi lebih jauh.

  5. Tulisan yang bagus, Pak Didik. Memang pendidikan karakter tidak bisa hanya dibebankan kepada sekolah, perlu ada peran aktif keluarga (orang tua) dan masyarakat. Selama orang tua WfH karena Covid-19, mungkin bisa lebih banyak waktu bersama keluarga dan bisa membersamai anak-anaknya. Tetapi ketika new normal, ortu sudah mulai masuk kantor (WfO), sementara anak-anak masih belum masuk sekolah, ini akan menjadi masalah tersendiri. Kontrol untuk pembentukan karakter dari sekolah dan ortu sangat kurang.

    • Semoga setelah new normal sekolah bisa melaksanakan pbm walaupun belum optimal. Metode PBL ( project based learnig), flipped classroom dan model kain bisa dipraktekkan agar hasil belajar lebih optimal. Tks pak

      Sehat dan sukses selalu

  6. Wah sangat inspiratif pak, Pendidikan karakter memang merupakan fondasi yg akan menciptakan generasi bangsa yg memiliki sikap dan budi pekerti yg baik, dan melalui KETELADANA maka hal tersebut dapat terwujud , melalui SENTUHAN bkn PAKSAAN maupun INTIMIDASI.Dimulai dari rumah mll teladan orangtua dan di Sekolah melalui guru2nya. Dengan adanya proses tersebut maka Pendidikan Karakter akan menjadi BERKEMBANG yg seutuhnya menjdi suatu BUDAYA DAN KARAKTER di Masyarakat, Bangsa dan Negara.

  7. Sangat menginspiratif
    Terimaksih pak Didik..pendidikan karakter memang harus terus dikembangkan dan diperkuat sebagai salah satu akar dari pendidikan..

    • Sangat inspiratif bapak. Wah, padahal dusun Leles dekat rmh ortu di Jogja. Tp saya baru tahu dari bapak :). Setiap jaman ada tantangannya tersendiri. Termasuk di era Covid ini. Kalau jaman saya dulu setiap ditanya ingin jadi apa nantinya, rata2 menjawab ingin spt Habibie. Kalau sekarang……..?? Rata2 sampling dr anak sendiri dan keponakan tidak jauh jauh2 dari artis a, youtuber b, atau gamers c. Sepertinya sedang lack of role model bapak :(..

      Ditunggu tulisan inspiratif edisi berikutnya pak…
      Salam sehat selalu…..

      • Terima kasih mbak mega, bisa ditengok kampung ramah belajar yang dekat rumahnya. Mungkin peran keluarga perlu diperkuat untuk mengantar anak kita agar sukses dunia akherat. Amiin YRA

  8. Alhamdulillah…trima kasih pak Didik Suhardi .. Pencerahan yg sangat menginspirasi para pelaku pendidikan .. utk jenjang pendidikan paud sampai jenjang menengah harus ada sinergi antara orangtua dan pihak satuan pendidikan … Sinergi harus kita maknai lebih dari kerjasama yg mana saling mengisi kelebihan dan kekurangan….
    Sekali lagi trima kasih pak Didik Suhardi…

    • Matur nuwun mas syamto. Ajaran Ki Hajar Dewantoro tentang tri pusat pendidikan ( sekolah, keluarga dan masyarakat) perlu kita gerakkan untuk mengoptimalkan penanaman karakter pada anak2 kita. Sehat dan sukses selalu

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

Tulisan Terbaru

Pendidikan yang Memerdekakan

Puisi Pemuda

Udan Sore

3

Komentar Terbaru

Sedang Populer

1,044FansLike
44FollowersFollow
Baca juga:   Pendidikan Karakter Era New Normal