Saturday, June 12, 2021
BerandaGagasan GuruPendidikan Berbasis Kearifan Lokal

Pendidikan Berbasis Kearifan Lokal

Oleh Rita Tiaswari, S.Pd., M.S.I.
Guru BK MTs Negeri 4 Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta

Suyanto.id–Perubahan adalah keniscayaan dalam kehidupan manusia. Perubahan-perubahan yang terjadi bukan saja berhubungan dengan lingkungan fisik, tetapi juga dengan budaya manusia. Hubungan erat antara manusia dan lingkungan kehidupan fisiknya itulah yang melahirkan budaya manusia.

Budaya lahir karena kemampuan manusia menyiasati lingkungan hidupnya agar tetap layak untuk ditinggali waktu demi waktu. Kebudayaan dipandang sebagai manifestasi kehidupan setiap orang atau kelompok orang yang selalu mengubah alam. Kebudayaan merupakan usaha manusia, perjuangan setiap orang atau kelompok dalam menentukan hari depannya.

Kementerian Pendidikan Nasional RI hanya menentukan standar-standar minimal yang harus dipenuhi oleh satuan pendidikan di tingkat daerah. Standar minimal itu berupa standar kompetensi lulusan, standar isi, standar evaluasi, serta standar sarana dan prasarana. Pengembangan lebih jauh terhadap standar-standar tersebut diserahkan kepada daerah masing-masing. Dengan adanya desentralisasi kebijakan itu, maka daerah dapat mengembangkan potensi wilayahnya sesuai dengan situasi dan kondisi setempat. Salah satu kebijakan yang dapat dikembangkan adalah membuat kurikulum sekolah yang berbasis keunggulan lokal atau kearifan lokal.

Masing-masing daerah mempunyai keunggulan potensi daerah yang perlu dikembangkan yang lebih baik lagi. Keunggulan yang dimiliki oleh masing-masing daerah sangat bervariasi. Dengan keberagaman potensi daerah ini, perlu mendapat perhatian khusus bagi pemerintah daerah sehingga anak-anak tidak asing denga daerahnya sendiri dan paham potensi, nilai-nilai, serta budaya daerahnya sendiri sesuai dengan tuntunan ekonomi global.

Pengertian kearifan lokal dilihat dari kamus Inggris-Indonesia, terdiri dari dua kata, yaitu kearifan (wisdom) dan lokal (local). Local berarti setempat dan wisdom sama dengan kebijaksanaan. Dengan kata lain, local wisdom dapat dipahami sebagai gagasan-gagasan, nilai-nilai, pandangan-pandangan setempat (local) yang bersifat bijaksana, penuh kearifan, bernilai baik, yang tertanam dan diikuti oleh anggota masyarakatnya.

Pengertian keunggulan lokal adalah suatu proses dan realisasi peningkatan nilai dari suatu potensi daerah sehingga menjadi produk/jasa atau karya lain yang bernilai tinggi, bersifat unik, memiliki keunggulan komparatif dan kompetitif, di antaranya hasil bumi, kreasi seni, tradisi, budaya, pelayanan, jasa, sumber daya alam, sumber daya manusia atau lainnya yang menjadi keunggulan suatu daerah.

Bila kita lihat dari pengertiannya, maka kearifan lokal dan keunggulan lokal memiliki hubungan, yaitu kearifan lokal merupakan kebijakan manusia dalam mengembangkan keunggulan lokal yang bersandar pada filosofi nilai-nilai, etika, cara-cara dan perilaku yang melembaga secara tradisional. Pendidikan berbasis kearifan lokal atau keunggulan lokal adalah pendidikan yang memanfaatkan keunggulan lokal dan global dalam  aspek ekonomi, seni budaya, SDM, bahasa, teknologi informasi dan komunikasi, ekologi, dan lain-lain ke dalam kurikulum sekolah yang akhirnya bermanfaat bagi pengembangan kompetensi peserta didik yang dapat dimanfaatkan untuk persaingan global.

Sumber-sumber kearifan lokal bisa memanfaatkan potensi yang ada di antaranya sebagai berikut.

  1. potensi manusia. Al-ghazali menyebut potensi manusia ada empat komponen, yaitu ruh, kalbu, akal dan nafsu. Adapun Howard Gardner menjabarkan lagi ke dalam delapan kecerdasan, yaitu linguistik, logis-matematis, spasial, kinestetik jasmani, musikal, antarpribadi, intrapribadi dan naturalis. Pengembangan program pendidikan yang meliputi tujuan, kurikulum, metode pembelajaran dan lingkungan pendidikan haruslah berbasis pada potensi manusia anak didik.
  2. Potensi Agama, hampir tidak ada pendidikan di berbagai belahan dunia ini yang lepas dari pengaruh agama, baik itu pendidikan formal maupun non-formal. Dunia pendidikan yang gelap terhadap nilai-nilai moral etis serta kehidupan bangsa yang dipenuhi dengan keserakahan dan kemunafikan, mengharuskan adanya penguatan nilai-nilai sufisme, bukan hanya melalui pendidikan agama, tetapi juga semua mata pelajaran, keteladanan dan budaya sekolah. Sekolah, perguruan tinggi, dan pesantren bukan hanya benteng penjaga moral terakhir, tetapi juga diharapkan dapat melahirkan manusia-manusia yang bijak dan bermoral.
  3. Potensi budaya. Budaya adalah nilai, proses, dan hasil dari cipta, rasa, dan karsa manusia. Budaya atau kebudayaan nasional memiliki kedudukan sangat penting dalam program pengembangan pendidikan nasional suatu bangsa atau muatan lokal suatu daerah. Bangsa yang berbudaya dan bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai, mengembangka dan mewariskan budayanya kepada generasi muda. Melalui kekayaan budaya yang dimiliki, seharusnya kita bisa menyusun berbagai model dan program pendidikan dan pembelajaran, bisa dalam bentuk program studi, intrakurikuler, ekstrakurikuler, maupun dalam bentuk budaya sekolah.
  4. Potensi alam melalui program pendidikan berbasis potensi lingkungan, diharapkan tumbuh kearifan lokal dan karakter yang peduli lingkungan dan sebaliknya dapat memanfaatkan potensi lingkungan hidupnya. Orang yang arif adalah orang yang hidupnya harmoni dengan lingkungan seraya dapat memanfaatkan lingkungan untuk kepentingan hidupnya dan orang yang berkarakter akan marah apabila lingkungan ekosistemnya dirusak.
Baca juga:   Menjadi Ibu Pekerja
Baca juga:   Mengayuh Senja

Untuk pengembangan dapat dilakukan dengan langkah berikut.

  1. Mengidentifikasi keadaan dan kebutuhan daerah, dapat dilakukan dengan kegiatan di antaranya memperhatikan lingkungan alam, sosial, dan budaya. Selanjutnya, dengan menentukan prioritas rencana pembangunan daerah (jangka pendek maupun jangka panjang). Pengembangan ketenagakerjaan termasuk jenis ketrampilan dan kemampuan yang diperlukan. Aspirasi masyarakat mengenai pelestarian alam dan pengembangan daerahnya.
  2. Menentukan fungsi dan tujuan, cara ini dapat dilakukan melalui kegiatan melestarikan dan mengembangkan kebudayaan daerah, meningkatkan ketrampilan di bidang pekerjaan tertentu dan terakhir meningkatkan kemampuan berwiraswasta, meningkatkan penguasaan bahasa Inggris untuk keperluan sehari-hari, meningkatkan penguasaan teknologi.
  3. Menentukan kriteria bahan kajian dengan memperhatikan hal-hal di antaranya memperhitungkan kesesuaian dengan tingkat perkembangan siswa dengan memperhatikan kemampuan guru dan ketersediaan tenaga pendidik yang diperlukan.
  4. Tersedianya sarana dan prasarana kemudian tidak menimbulkan kerawanan sosial dan keamanan.

Mewujudkan sekolah dengan kearifan lokal adalah sebuah keniscayaan. Dengan adanya kekompakan kebersamaan dalam sistem manajemen sekolah tersebut, dengan melibatkan berbagai komponen yang ada, termasuk stakholder sekolah, guru, tenanga pendidikan, komite, siswa, wali atau orang tua, dan masyarakat lingkungan sekitar. Dengan demikian semua akan berjalan beriringan menunjukkan hasil nyata. Semoga. (*)

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

Tulisan Terbaru

Komentar Terbaru

Sedang Populer

1,166FansLike
52FollowersFollow