Saturday, December 5, 2020
Beranda Gagasan Ilmiah Populer Pendidikan di Masa Sulit

Pendidikan di Masa Sulit

Prof. Suyanto, Ph.D.
Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta; Dirjen Mandikdasmen Kemdiknas (2005-2013); Anggota Badan Standar Nasional Pendidikan (2019-2023))

Suyanto.id–Pandemi Covid-19 meluluhlantakkan banyak hal dalam kehidupan. Dunia akan mengalami kemunduran ekonomi bersama. Meski demikian, kemunduran ekonomi yang sedang dan akan diderita pasti berbeda-beda, sesuai kekuatan fondasi ekonomi setiap negara. Kemunduran itu terjadi karena semua negara harus menangani merajalelanya Covid-19 yang sedang mewabah.

Celakanya, semua program yang harus dipakai dalam menghadapi ganasnya Covid-19 memiliki sifat yang mendestruksi pilar-pilar penting ekonomi. Lalu, bagaimana dengan pendidikan kita saat ini? Apakah ia juga ikut menderita seperti sektor ekonomi? Jawabnya, ya. Sektor ekonomi dan sektor pendidikan memiliki hubungan yang simetris, saling memengaruhi, dan saling tergantung.



Kesulitan pendidikan

Saat ini praksis pendidikan berjalan tidak normal akibat ada gangguan virus ganas korona. Sekolah dan juga perguruan tinggi ditutup dalam rangka melaksanakan program pemerintah untuk memutus mata rantai penularan Covid-19 melalui pembatasan sosial. Implikasinya, peserta didik harus belajar di rumah masing-masing. Apa yang terjadi dengan program mendadak seperti itu? Ada persoalan yang dihadapi sektor pendidikan.

Dari aspek kultural, jelas peserta didik kita sebagian besar tidak siap untuk belajar mandiri dari rumah. Ada di antara mereka yang justru menganggap belajar di rumah identik dengan libur sekolah sehingga tidak semua siswa bisa belajar di rumah dengan kesadaran dan motivasi yang tinggi.

Hal yang paling jelek lagi jika budaya belajar di lingkup keluarga tidak ada, maka anak-anak kita tidak mendapat dukungan yang kondusif dari para orang tua. Bahkan orang tua sebagian besar tidak siap membimbing putra-putrinya belajar di rumah. Banyak anak mulai rindu masuk sekolah karena di rumah tak terfasilitasi belajarnya dan juga mereka kehilangan ikatan psikologis dan sosial dengan teman, guru, dan komunitas sekolah.

Hanya anak-anak dari kalangan sosial ekonomi menengah ke atas yang memiliki kemungkinan mendapat dukungan orang tua mereka dengan memadai dan mungkin bahkan hampir sempurna. Dari kalangan kelompok ekonomi berada, anak-anak bisa mendapatkan dukungan orang tua berupa akses untuk belajar online (daring) tanpa batas, di samping orang tua mereka memang telah membudayakan kegiatan belajar di tingkat keluarga.

Dari kalangan ini anak-anak bisa akses ke berbagai platform pembelajaran daring yang berbayar sekalipun. Hal ini terjadi terutama di kota-kota besar. Di kota-kota kecil, ada peluang anak-anak bisa akses ke online, tetapi tidak sebebas anak-anak di kota besar dari kelompok orang yang berada. Banyak anak dan orang tua memiliki ponsel pintar yang bisa digunakan untuk akses ke situs-situs yang menawarkan program belajar daring, terutama yang tak berbayar, seperti Rumah Belajar milik Kemendikbud.

Meskipun demikian, mereka sangat terbatas kemampuannya untuk akses karena rendahnya daya beli untuk paket data internet. Oleh karena itu, untuk mengatasi hal ini perlu ada bantuan kepada siswa-siswa yang tidak bisa beli paket data.

Pemerintah telah mengeluarkan peraturan pemerintah pengganti undang-undang (perppu) keuangan dan stimulus untuk menghadapi Covid-19. Sejumlah Rp405,1 triliun telah dianggarkan dengan alokasi Rp150 triliun untuk pemulihan ekonomi, Rp75 triliun untuk kesehatan (melawan Covid-19), Rp110 triliun jaring pengaman sosial, dan Rp70,1 triliun insentif perpajakan.

Baca juga:   Covid-19 Has Changed the World

Dari perppu itu nyata benar bahwa sektor pendidikan di masa sulit ini belum dianggarkan untuk subsidinya. Oleh karena itu, Kemendikbud perlu memindahkan dana-dana yang dialokasikan untuk program nonprioritas menjadi program subsidi belajar daring, baik untuk paket data maupun untuk perangkat keras yang diperlukan siswa dari keluarga tidak mampu.

Demikian pula dana UN yang dibatalkan, juga bisa digunakan untuk membantu anak-anak dari keluarga tidak mampu agar bisa ikut belajar secara daring atau paling tidak belajar melalui grup WA. Mengapa hal ini harus dilakukan? Karena kita tidak tahu kapan Covid-19 bisa ditaklukkan secara total sehingga anak-anak bisa belajar kembali secara normal di sekolah.

Modal sosial

Bisakah kita mengabaikan pendidikan di masa sulit ini? Tentu tidak. Jika pendidikan di masa sulit ini tidak juga diberdayakan seperti program pemulihan ekonomi, akan muncul benih-benih disparitas dalam arti kualitas dan kuantitas. Disparitas yang paling dirasakan semakin melebar nanti adalah Jawa-luar Jawa. Kemudian akan disusul bentuk-bentuk lain disparitas, seperti desa-kota, kota besar-kota kecil, kabupaten-kota.

Bahkan tidak tertutup kemungkinan akan muncul disparitas berbasis jender. Dalam keadaan ekonomi yang sulit, sehingga sumber daya yang dimiliki keluarga sangat minim, keputusan untuk tidak menyekolahkan akan jatuh pada anak perempuan.

Anak laki-laki akan menjadi prioritas untuk mendapatkan pendidikan. Kalau hal ini semua terjadi, dalam jangka panjang akan terjadi persoalan dalam pembentukan modal sosial di masyarakat. Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, modal sosial yang tinggi di masyarakat sangat penting. Tanpa ada modal sosial memadai, program-program yang dilakukan pemerintah akan menghadapi fenomena resistensi.

Apa sebenarnya modal sosial? Modal sosial menurut Thomas Sander (2015) merupakan nilai-nilai kolektif yang dipahami bersama oleh semua jalinan sosial dalam masyarakat dan kecenderungan-kecenderungan yang muncul darinya untuk bertindak satu sama lain atas dasar norma resiprositas.

Modal sosial pada akhirnya sangat bertumpu pada sebuah kebermanfaatan yang bersumber dari kepercayaan, prinsip resiprositas, informasi, dan kerja sama dari jaringan-jaringan sosial yang ada. Modal sosial mampu menciptakan nilai-nilai yang dipegang teguh secara bersama dalam masyarakat.

Jika pendidikan kita penuh dengan disparitas, maka sulit untuk menumbuhkan modal sosial dalam masyarakat. Bahkan tidak tertutup kemungkinan masyarakat kita akan menderita defisit modal sosial. Ini sangat berbahaya bagi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Kalau kita mengalami defisit modal finansial, pemerintah bisa mencari utangan ke lembaga keuangan dunia. Sebaliknya, jika kita mengalami defisit modal sosial, kita tak bisa meminjam ke negara lain untuk menutupinya. Oleh karena itu, dalam masa sulit Covid-19 ini, pendidikan hendaknya juga menjadi perhatian yang tinggi agar dalam jangka panjang tak memicu terjadinya defisit modal sosial. (*)

Tulisan ini terbit pertama di Harian Kompas 26 Mei 2020.

21 KOMENTAR

  1. Luar biasa Prof
    Izin juga menggarisbawahi dalam
    Semoga tdk ada diaparitas apalagi sampai berakibat issue gender
    Semoga wabah segera usai
    Anak anak sebagai generasi penerus mendapatkan layanan pendidikan yang optimal sehingga siap menghadapi tantangan zaman. Sehat, cerdas, berkarakter dan berahlak mulia. Terima kasih Prof, sukses terus. Wassalamwrwb

  2. Belajar kelompok dpt dimanfatkan lewat jejaring WA, tetapi infrasttuktur ponsel dalam pemilikan terbata oleh konfisi sosial ekonomi orang tua. Di kalangan mahasiswa pun tugas dan kerja kelompok blm sepenuhnya berjalan
    Proses evaluasinya tidak dilakukan dan sulit dilakukan. Evaluasi mungkin hal paling problimatik, terutama jika mendasarkan kurikulum berbasis kompetensi.

  3. Terima kasih pak Prof. atas pencerahannya. Mohon ijin menyampaikan komentar.

    Karena harus bdr para peserta didik di SMK ketrampilannya tidak berkembang bahkan mungkin merosot. Mata pelajaran Praktek Kejuruan pada hampir semua Kompetensi Keahlian ( dulu pada saat saya sekolah di STM disebut Jurusan ) tidak bisa berjalan secara optimal selama bdr, karena tidak adanya alat-alat praktek dan bahan-bahan pembelajaran di rumah masing-masing peserta didik. Hanya ada beberapa peserta didik dari Kompetensi Keahlian tertentu, misalnya Tata Boga, Tata Busana, Komputer dan lain-lainya yang ketrampilannya bisa terus dikembangkan selama bdr. Itupun jika orang tuanya memiliki alat-alat yang memadai dan juga menyediakan bahan-bahan untuk pembelajaran prakteknya. Setelah besuk bisa belajar lagi di sekolah kiranya perlu diberikan tambahan waktu untuk belajar mata pelajaran Praktek Kejuruan agar ketrampilan para peserta didk SMK memenuhi tuntutan kurikulum.

  4. Terimakasih Prof. Tulisan yang menarik dan bisa membangkitkan semangat untuk bangkit kembali. Defisit modal sosial memang lebih membahayakan ya…..
    Kami nanti-nantikan tulisan Profesor berikutnya ya.

  5. Terima kasih Prof. Pendidikan memasuki dunia baru, mengikuti bidang bisnis online yg sidah mendahului. Mau tidak mau, siap tidak siap pengelola pendidikan harus bisa.cepat beradaptasi. Yg lambat atau tak.mampu, lambat laun akan tergerus.
    Gedung2 sekolah, kampus siap2 beralih fungsi.

  6. Luar biasa Prof,
    Ijin komentar. Kindisi dampak covid 19 diperlukan kesadaran peeubahan yang cepat bagi pengelola lembaga pendidikan termasuk didalamnnya guru. Tidak hanya merebuh metode dari pertemuan di kelas bergeser ke daring. Menumbuhkan keingintahuan melalui literasi dan menanamkam dan menumbuhkembangkan copetitifners kepada siswa dengan mengoptimalkan kemampuan, minat dan bakat siswa sangat diperlukan yang kami berikan dalam bentuk Skill Pasport. Materi life skill education bersama pendampingan gyru , orang tua dan masyarakat salah satu pilihan untuk menghindari kejenuhan siswa belajar di rumah. Inilah yang sekarang kami coba di SMK Model PGRI 1 Mejayan . Meskipun panduan dan legalitas kami belum menemukan ? Mohon bimbingan dan arahan

  7. Terimakasih ulasannya menginspiratif… Namun pada pembelajaran daring tidak kalah pentingnya adalah bagaimana para guru bisa paham bagaimana memberikan KBM lewat daring, jika gurunya saja gaptek teknologi bagaimana pembelajaran daring bisa berjalan dgn baik. Karena tidak sedikit guru yang kurang paham tentang TIK . Utk itu perlu adanya pemahaman TIK kepada para guru agar KBM sistem daring dapat berjalan sebagaimana mestinya . Terimakasih.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

Tulisan Terbaru

Kesiapan menjadi Kampus Merdeka

1

Indonesia Tanah Air Beta

Ibuku, Guruku

Catatan Seorang Guru

4

Komentar Terbaru

Sedang Populer

1,071FansLike
46FollowersFollow
Baca juga:   Herd Immunity