Friday, August 7, 2020
Beranda Gagasan Ilmiah Populer Pendidikan Jangan Jadi Klaster Baru

Pendidikan Jangan Jadi Klaster Baru

Prof. Suyanto, Ph.D.
Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta; Anggota Badan Standar Nasional Pendidikan

Suyanto.id–New normal merupakan terminologi baru yang sangat populer saat ini. Orang harus hidup dengan kenormalan yang baru. Artinya, normal lama sudah harus ditinggalkan agar kita bisa menyesuaikan dengan tuntutan protokol kesehatan dalam kehidupan baru yang harus berdampingan dengan Covid-19.

New normal dalam sektor pendidikan tidak boleh ikut-ikutan new normal dalam kehidupan sosial masyarakat yang kurang patuh pada protokol kesehatan. Begitu pemerintah menyatakan adanya new nomal, banyak anggota masayarakat yang menganggap bahwa keadaan telah normal. Sektor pendidikan tidak boleh beranggapan seperti itu. Dunia pendidikan harus menjadi acuan perubahan perilaku dalam new normal. Perubahan apa yang harus terjadi dalam new normal pendidikan?



Pada dasarnya new normal adalah perubahan untuk memiiki perilaku baru dengan meninggalkan perilaku lama agar bisa aman dari penularan Covid-19. Caranya bagaimana? Cara yang harus ditempuh sektor pendidikan adalah harus taat asas menerapkan protokol kesehatan dalam proses pembelajaran. Cuci tangan dengan sabun, menjaga jarak aman antara satu sama lain, dan menggunakan masker adalah basis utama yang harus dipahami oleh komunitas sekolah. Kepala sekolah bersama guru dan orang tua harus saling mengedukasi siswa dan diri mereka sendiri bahwa dalam new normal semua komunitas sekolah harus mau dan mampu menerapkan protokol kesehatan guna mencapai tujuan personal maupun kolektif.

Oleh karena itu, semua stakeholder pendidikan harus saling memahami apa musuh bersama mereka dalam masa new normal di sektor pendidikan. Memahami musuh bersama, yaitu Covid-19, dalam new normal pendidikan sangat penting bagi stakeholder agar komunitas pendidikan bisa menegakkan protokol kesehatan dengan sukarela dan penuh kesadaran. Di pihak lain, dalam masa new normal, stakeholder pendidikan (siswa, guru, kepala sekolah, dan orang tua) juga perlu memiliki common goal (tujuan bersama) dalam melawan Covid-19, yaitu mencegah terjadinya penularan. Jika semua stakeholder memahami common enemy dan common goal dalam new normal, semua pihak yang berkaitan dengan proses pendidikan di sekolah maupun di rumah secara individu maupun kelompok bisa menciptakan ekologi pembelajaran yang aman dari penyebaran Covid-19.

Baca juga:   Menggerakkan Budaya Menulis di Era Pandemi Covid-19

Dalam new normal pendidikan, tidak semua sekolah diizinkan melakukan pembelajaran tatap muka di tahun ajaran baru pada pertengahan Juli nanti. Hanya di daerah zona hijau yang diizinkan melakukan pembelajaran tatap muka. Zona hijau (aman dari Covid-19) di wilayah RI hanya meliputi 6% (85 kabupaten/kota). Selebihnya, yang 94% (429 kabupaten/kota) merupakan daerah kuning, oranye, dan merah (zona non-hijau, tidak aman dari Covid-19), sehingga tidak diizinkan melakukan pembelajaran dengan tatap muka.

Dampak Besar

Bagi sekolah di zona hijau yang akan menyelenggarakan pembelajaran tatap muka, mereka harus mampu memastikan bahwa protokol kesehatan bisa ditegakkan. Sekolah harus menjamin ada fasilitias cuci tangan dengan sabun, tempat duduk di kelas harus diatur sesuai dengan persyaratan physical distancing, semua anak harus memakai masker, dan sekolah melakukan pemeriksaan temperatur tubuh siswa sebelum mengikuti proses pembelajaran. Di sinilah lataknya kebiasaan baru yang harus dilakukan dalam masa new normal.

Kemudian, bagaimana sekolah kita yang terletak di zona non-hijau? Sekolah yang berada di zona ini justru jumlahnya sangat masif, tersebar di 429 kabupaten/kota. Sektor pendidikan kita saat ini memiliki data raksasa. Betapa tidak! Jumlah sekolahnya sebanyak 220.098; peserta didiknya ada 44.621.547 orang; jumlah guru yang riil mendapat penugasan mengajar saat ini sebanyak 2.720.778; tenaga kependidikan berjumlah 85.074 dan rombongan belajar sebanyak 1.848.658 (Dapodikdasmen, 24 Juni 2020).

Baca juga:   Strategi Pengelolaan Keuangan di Masa Pandemi Covid-19

Data raksasa ini harus menjadi pertimbangan yang kuat bahwa pembelajaran di tahun ajaran baru nanti, harus benar-benar aman, bisa melindungi semua komponen data raksasa itu dari penyebaran Covid-19. Jangan sampai dengan new normal sektor pendidikan, justru terjadi kluster raksasa baru penularan Covid-19 di berbagai zona. (*)

Terbit pertama di Kolom “Opini” Harian Kedaulatan Rakyat edisi 9 Juli 2020

4 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

Tulisan Terbaru

Komentar Terbaru

Sedang Populer

1,023FansLike
37FollowersFollow