Friday, August 7, 2020
Beranda Seminar Seminar Nasional Pendidikan Karakter Era New Normal

Pendidikan Karakter Era New Normal

Suyanto.id–Untuk mengubah dari yang jelek menjadi baik, pengulanganya 100 kali. Misalnya, saat anak ke kamar mandi, tidak pernah menyiramnya, tidak cukup diberita tahu, tetapi perlu melakukan langsung dengan pengulangan hingga menjadi kebiasaan. Demikian juga terhadap anak yang saat pulang membuang begitu saja tas sekolahnya, juga perlu belajar menempatkan tasnya dengan rapi secara berulang agar menjadi kebiasaan.

Sementara itu, untuk anak-anak yang mau berperilaku baru yang bermoral, harus diulang paling tidak 21 kali. Hal ini bergantung kompleksitas perilaku tersebut. Jika sudah menjadi kebiasan, seperti kita makan, walau dalam keadaan listrik mati saja, kita masih bisa melakukannya.

Demikian disampaikan Prof. Suyanto, Ph.D. saat menjadi narasumber dalam Webinar “Mengawal Karakter Siswa Menghadapi New Normal di Sekolah” yang diselenggarakan oleh Komunitas Koordinator Virtual Indonesia (KKVI) Daerah Istimewa Yogyakarta, Rabu (24/6).


Lebih lanjut, Tim Nasional Pendamping dan Asistensi Penguatan Pendidikan Karakter Kemdikbud ini mengemukakan, merujuk pembelajaran karakter di Amerika, ada enam pilar karakter yang diajarkan di sana. Keenam pilar tersebut meliputi bisa dipercaya, menghargai orang lain, tanggung jawab, tidak pilih kasih, peduli, dan kewarganegaraan. Keenam karakter ini dipandang relevan dalam pendidikan karakter era New Normal saat ini.

Pertama, bisa dipercaya atau jujur itu sangat penting. Misalnya, siswa harus jujur, apakah dia sudah cuci tangan atau belum. Hal ini terkait untuk melindungi diri, teman, dan juga gurunya.

Kedua, menghargai orang lain atau tidak egois. Orang yang egois tidak ada tempatnya. Kita harus belajar menghargai orang lain, baik menghargai hak maupun menghargai kewajiban orang lain. Sebagai contoh, seorang siswa yang memerlukan sesuatu milik temannya, harus meminjam, kemudian dikembalikan, tidak bisa secara diam-diam mengambilnya.

Ketiga, anak diajarkan untuk bertanggung jawab. Misalnya, anak diajarkan bertanggung jawab membersihkan lingkungan, menjaga kesehatan, serta bisa melakukan pekerjaan yang harus dilakukan. Contoh praktisnya adalah membersihkan kamar mandi. Hal ini baik walau di masa New Normal.

Di Indonesia, tanggung jawab kurang diajarkan dengan baik. Anak kadang merasa diperlakukan seperti bos. Anak-anak harus diajarkan memiliki tanggung jawab, misalnya tanggung jawab kebersihan bersama, bisa juga menjaga energi bersama. Contoh praktis menjaga energi bersama adalah mematikan lampu saat tidak digunakan.

Baca juga:   Fostering Ki Hadjar Dewantara-Based Character Values Through Social Studies Learning Innovation for Primary School Students

Keempat, jangan pilih kasih. Karakter ini berlaku universal, di mana saja. Orang jika diperlakukan secara tidak fair bisa timbul dendam dalam hatinya.

Kelima, yaitu memperhatikan. Orang bisa suka karena temanya suka. Dia bisa sedih karena temannya mengalami kesedihan.

Keenam adalah kewarganegaran. Pendidikan atau karakter kewarganegaraan ini tidak hanya di Amerika atau di Indonesia, tetapi di setiap negara.

Di Indonesia sendiri, karakter utama yang ditanamkan meliputi lima hal. Kelima karakter tersebut adalah religius, nasionalis, integritas, gotong-royong, dan mandiri.

Untuk dapat berubah sehingga berkarakter baik, setidaknya anak perlu memiliki kesadaran, pikiran kreatif, belajar untuk memperhatikan, serta mau belajar hidup bersama. Di Indonesia, belajar hidup bersama ini masih sulit untuk dilakukan. Oleh karena itu, dalam cabang olahraga beregu, Indonesia sering mengalami kekalahan karena team work-nya lemah.

Seminar dilangsungkan pukul 13.00-15.00 WIB menggunakan aplikasi Webex yang disediakan oleh Direktorat Pembinaan SMK. Bertindak sebagai host dalam acara ini adalah B. Puji Krismawan, S.T., guru SMK Negeri 1 Yogyakarta dan sebagai moderator Yudi Biantoro, S.Pd., Guru SMP Negeri 7 Yogyakarta.

Humas kegiatan ini, Eko Pratiwiningsih, M.Pd., mengemukakan bahwa seminar dihadiri oleh 220 peserta melalui Webex dan 575 peserta hadir melalui live streaming YouTube. Para peserta yang hadir berasal dari berbagai provinsi di Indonesia. (*) Lihat salindia acara ini….

8 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

Tulisan Terbaru

Komentar Terbaru

Sedang Populer

1,023FansLike
37FollowersFollow