Monday, November 30, 2020
Beranda Pendidikan Pendidikan yang Memerdekakan

Pendidikan yang Memerdekakan

Oleh Ade Mulyono
Praktisi Pendidikan Pedagogi Kritis (Critical Pedagogy) dan Feminisme

Suyanto.id–Semakin banyak pengajaran, semakin baik hasilnya atau menambah materi pengetahuan akan menjamin keberhasilan. Itu kalimat pertama yang saya ingat dari buku Ivan Illich, Deschooling Society–yang dianggap “bid’ah” oleh sistem pendidikan formal. Tentu kritik Ivan Illich menantang kemapanan sekaligus menguji kembali asumsi yang telah masyarakat terima begitu saja dalam memahami subtansi pendidikan. Mengingat selama ini sekolah terlanjur dicampuradukkan antara proses dan subtansi, pengajaran dengan belajar, dan ijazah dengan kemampuan. “Kesadaran palsu” itu yang kini dipelihara di masyarakat.

Ketika masyarakat lebih menganggap ijazah sebagai prestise, bukan sebagai proses pencarian dan penggalian terus-menerus untuk mendapatkan pengetahuan itu sendiri. Pendidikan pada akhirnya telah kehilangan rasion d’etre-nya (pendidikan sebagai proses, bukan hasil). Lebih lanjut Ivan Illich mengatakan, “…realitas sosial itu sendiri sudah dibangun di atas pemikiran mengenai sekolah sebagai satu-satunya lembaga pendidikan.”

Satu hal yang bisa dipahami dari realitas sosial tersebut, bahwa ada ideologi yang menyeponsori asumsi yang berkembang di masyarakat sebagai suatu kebenaran. Misalnya, saat orang tua ramai-ramai menyekolahkan anaknya atas dasar lebih menghargai sertifikat, ijazah, dan uang yang akan mereka dapatkan setelah anaknya selesai bersekolah. Di situlah kemerdekaan peserta didik terampas karena pendidikan yang ornamental dan artifisial.

Inilah sistem pendidikan mekanis yang diselenggarakan atas dasar standarisasi-regulasi-otorisasi industrial. Pendidikan yang diorientasikan hanya untuk kepentingan pabrik dan industri semata. Kemanfaatan dan keberhasilan pendidikan masih diukur dengan kacamata industri kerja. Padahal, jika dikembalikan pada visi humanioranya, pendidikan ialah alat pembebasan dari penindasan. Sementara itu, lembaga pendidikan seperti universitas ialah tempat akumulasi pikiran untuk menghasilkan metodologi, bukan tempat pembibitan ideologi; misalnya penyelarasan antara pendidikan dengan dunia industri (link and match).

Masih relevankah kritik Ivan Illich dengan pendidikan abad 21 ini? Bukan itu soalnya, melainkan seberapa luas kita melihat pendidikan sebagai praksis. Ivan Illich juga tidak luput dari kritik. Tetapi dari situ kita tahu, ada perspektif lain dalam memandang pendidikan yang hendak ditawarkannya. Seperti persoalan paling aktual hari ini, yakni saat peserta didik belajar di rumah karena pandemi Covid-19. Apakah lembaga pendidikan seperti sekolah masih memahami belajar di rumah layaknya belajar di kelas-kelas sekolah?

Ada konsekuensi yang harus ditanggung jika terminologi itu yang dipakai. Terlalu banyak kritik yang dilayangkan publik terkait pembelajaran jarak jauh (PJJ). Ketidaksetaraan, keterasingan, ketidakmampuan, dan ketidakmandirian peserta didik selama belajar di rumah hanyalah sebagian kecilnya. Sebagaimana kita tahu, pendidikan dengan mekanisme daring tidak dikenal dalam pendidikan arus utama. Seperti disengat arus listrik, masyarakat kaget saat tiba-tiba model pendidikan itu hendak dipermanenkan tanpa terlebih dahulu membangun infrastruktur digital sebagai sarana pembelajaran jarak jauh (PJJ).

Kendati pandemi Covid-19 yang membuat wajah pendidikan babak belur, namun telah memberikan pelajaran berharga, bahwa kepentingan etis-humanistik harus mendahului kepentingan teknis-mekanis. Pada titik ini, siapa berani membantah argumentasi Ivan Illich, bahwa belajar sebagai tindakan praksis tidak sama dengan sekolah. Pembelajaran bisa dilakukan di mana saja. Tidak perlu memakai seragam, tidak perlu berbaris seperti bebek yang minta dihitung. Juga tidak perlu mencatat dan menghafal kemudian melaporkannya kepada guru, bahwa hasil tugas yang diberikan telah dikerjakan dengan baik.

Baca juga:   Covid-19: Pesantren Agung Masyarakat Dunia

Di dalam suasana tanpa kepastian, sekolah harus menurunkan egonya. Peserta didik bukanlah mesin yang harus diperlakukan secara mekanis. Ada pesan teologis, moralis, humanis, dan environmental ethics yang dapat dipetik sebagai proses pembelajaran dari adanya pandemi Covid-19 ini. Apakah lembaga pendidikan pernah menghitung daya tahan sosial peserta didik selama belajar di rumah? Ada ongkos sosial yang selalu diperhitungkan. Daya tahan ekonomi yang rentan dari kelas sosial bawah jelas bukan hanya menguras pikiran dan energi, melainkan juga mengancam harmoni, karena adanya distingsi, antara yang mapan dan miskin.

Dengan kata lain, ada hal yang harus dipertimbangkan, yang tidak cukup diselesaikan dengan cara teknikal. Menonton tayangan belajar di televisi milik pemerintah atau mengikuti layanan belajar digital berbayar jelas hanya dipahami oleh mereka yang tinggal di kota, bukan oleh peserta didik dari kelas sosial bawah yang tinggal di pinggiran desa. Sebab, peserta didik yang tersebar di berbagai wilayah jelas tidak seragam status bawaannya; ekonomi, insfrastruktur, bahasa, hingga sosio-budayanya.

Baca juga:   Pendidikan Jangan Jadi Klaster Baru

Problematika pendidikan di tengah intaian pandemi Covid-19 seharusnya menekankan pada aspek pembelajaran yang memerdekakan, peserta didik bebas dari kungkungan aturan sekolah. Pendidikan harus kembali pada habitat humanioranya. Meminjam Ki Hadjar Dewantara, esensi pendidikan adalah daya-upaya untuk memerdekakan aspek lahiriah dan batiniah manusia–ini filosofis humanismenya. Agenda itu yang seharusnya tidak hanya dihafal, melainkan dimanifestasikan.

Keluarnya kurikulum darurat seyogyanya tidak hanya dipahami karena tuntutan situasi di tengah pandemi, melainkan keniscayaan yang membutuhkan refleksi-aksi; bahwa pendidikan yang membebaskan memerlukan kemerdekaan; bahwa pendidikan yang berkeadilan harus tiba mendahului pendidikan yang berkemajuan; bahwa pendidikan yang membahagiakan ialah sebuah konsep yang harus diimplementasikan; bahwa kemerdekaan dan kebebasan ialah refleksi bawaan dari pendidikan yang tidak terpisahkan.

Selama ini pendidikan mengalami reduksi makna fungsionalnya dan hanya menjadi sekadar metode proses belajar mengajar dalam konteks persekolahan. Peserta didik masih terkungkung oleh aturan kurikulum. Itu tidak lepas dari arogansi lembaga pendidikan yang gemar membangun rel untuk dilewati sendiri–ringkasnya pendidikan yang sentralistik. Dengan demikian, model pendidikan kita masih mendahulukan aturan mekanis ketimbang pendidikan fungsional-organis.

Oleh karena itu, konsep merdeka belajar yang selama ini digembar-gemborkan harus dimaknai sebagai proposal gagasan yang harus harus siap diuji dan direvisi. Itulah watak intelektual organis. Akan tetapi, jika konsep merdeka belajar hanya sekadar jualan slogan, maaf, itu watak pengusaha yang oportunis. (*)

SebelumnyaPuisi Pemuda
BerikutnyaCinta Sejati

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

Tulisan Terbaru

Indonesia Tanah Air Beta

Ibuku, Guruku

Catatan Seorang Guru

4

Fragmen Pohon dan Rimba

Komentar Terbaru

Sedang Populer

Catatan Seorang Guru

Fragmen Pohon dan Rimba

Pendidikan pun Butuh Sentuhan

1,071FansLike
45FollowersFollow