Saturday, June 12, 2021
BerandaManajemenPengantar Kepemimpinan

Pengantar Kepemimpinan

Prof. Dr. Husaini Usman
Guru Besar Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta

A. Filsafat Ilmu dan Filsafat Kepemimpinan

Setiap manusia adalah pemimpin, minimal memimpin dirinya sendiri. Oleh sebab itu, kepemimpinan merupakan urusan setiap orang. Setiap pemimpin diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Pemimpin yang lebih rendah menyampaikan tanggung jawabnya kepada pemimpin yang lebih tinggi.

Sebagai pemimpin, idealnya memiliki prasyarat untuk menjadi pemimpin efektif. Prasyarat tersebut, yaitu harus memiliki head of leadership, heart of leadership, dan hand of leadership (Sergiovanni, 1984 & 2006).

Jika ingin sukses, teori kepemimpinan perlu dipelajari, dihayati, dan diamalkan. Bahkan, kepemimpinan ini menjadi salah satu bagian dari 21st Century Skill. Sebagaimana kita ketahui, ada delapan 21st Century Skill, yaitu (1) leadership, (2) digital literacy, (3) communication, (4) emotional intelligence, (5) entrepeneurship, (6) global citizenship, (7) problem solving, dan (8) team-working (Person-Learning Curve Report, 2014).

Filsafat ilmu kepemimpinan menjelaskan ontologi, aksiologi, dan epistemologi kepemimpinan. Ontologi kepemimpinan berkenaan dengan definisi, pengertian, dan ruang lingkup kepemimpinan. Aksiologi kepemimpinan berkenaan dengan tujuan dan manfaat serta nilai-nilai kepemimpinan. Epistemologi kepemimpinan berkenaan dengan cara melaksanakan kepemimpinan.

Filsafat kepemimpinan berasal dari dua orientasi, yaitu orientasi “keras” terhadap penyelesaian tugas dan aliran “keras” terhadap hubungan manusiawi. Uraiannya digambarkan Manning & Curtis (2003) seperti berikut.

Gambar 1 Filsafat kepemimpinan

B. Definisi Pemimpin, Pimpinan, dan Kepemimpinan

Kepemimpinan (leadership) berasal dari memimpin (lead). Lead berasal dari bahasa Anglo Saxon yang artinya jalur perjalanan kapal yang mengarahkan awak kapal. Maksudnya adalah, pemimpin ibarat nakhoda kapal yang harus mampu mengarahkan kapal sebagai organisasi dan awak kapal sebagai pengikut (bawahan) untuk mencapai tujuan bersama yang telah ditetapkan.

Oleh sebab itu, pemimpin organisasi tidak ada tanpa pengikutnya, imam tidak ada tanpa makmum. Pemimpin dan pengikut harus memahami posisinya masing-masing. Sebagai pemimpin, ia harus memperhatikan pengikutnya dengan cara jadilah pemimpin yang pandai merasakan bukan merasa pandai. Jadilah pemimpin yang pandai menyejahterakan, bukan menyengsarakan pengikutnya. Jadilah pemimpin yang melindungi, bukan menzalimi. Sebagai pengikut, wajib setia dan patuh selama pemimpinnya taat pada peraturan yang berlaku.

Kata leader pertama kali digunakan Cowley (1920) dalam Manning & Curtis (2003), bahwa pemimpin adalah orang yang berhasil mengumpulkan orang lain untuk mengikutinya. Bush (2008) menyatakan bahwa pemimpin adalah orang yang menentukan tujuan, memotivasi, dan menindak pengikutnya.

Kouzes & Posner (2010) menyatakan pemimpin adalah pelopor, yaitu orang yang bersedia mengerjakan yang belum diketahuinya, ia berani mengambil risiko, melakukan inovasi dan percobaan untuk menemukan cara terbaik mengerjakan beberapa tugas.

Pemimpin adalah orang yang memimpin. Sinonim pemimpin adalah ketua (dipilih untuk memimpin) dan kepala (ditunjuk untuk memimpin), chief, chief executive officer (CEO), captain, bos, manager, director. Istilah leader dengan manager sampai sekarang masih terus diperdebatkan dan belum selesai.

Tugas utama pemimpin adalah menginspirasi pengikutnya agar patuh dan setia kepada dirinya sebagai pemimpin. Hal ini dilakukan dengan menggunakan teknik kepemimpinan atau cara memimpin (epistemologi), yaitu:

  1. memfokuskan diri pada visi, misi, tujuan, sasaran (VMTS) organisasi;
  2. membantu pengikut memahami dan cara mencapai VMTS melalui penjelasanan dalam sosialisasi, rapat, dan berbagai kesempatan;
  3. melakukan komunikasi efektif;
  4. memberdayakan pengikut sesuai keahliannya; dan
  5. melatih serta membimbing pengikut agar tidak ketinggalan ipteks (Goetsch & Davis, 2015).

Teknik kepemimpinan tersebut, mendukung ten commandements of success yang dikembangkan oleh Schwab, pemimpin legendaris perusahaan terkenal dan sukses di Carnegie Steel Company seratus tahun yang lalu. Kesepuluh perintah suksesnya, yaitu:

  1. kerja ikhlas, jelas, lugas, keras, cerdas, tangkas, lekas, tuntas, dan puas (9as), bukan bekerja 3as (malas, culas, dan tewas) karena tidak patuh keselamatan dan kecelakaan kerja (3K);
  2. belajar keras;
  3. berinisiatif;
  4. mencintai pekerjaan;
  5. jelas dalam berkomunikasi;
  6. bersemangat untuk sukses;
  7. kepribadian menjaga nama baik lembaga;
  8. saling membantu;
  9. demokratis; dan
  10. melakukan yang terbaik (Manning & Curtis, 2003).

Seseorang pemimpin dipilih karena ia memiliki kelebihan tertentu di kelompoknya, antara lain lebih dapat dipercaya (jujur), lebih pandai bergaul, lebih amanah, lebih percaya diri, lebih berwibawa, lebih cerdas, lebih stabil emosinya, lebih kaya, lebih sehat, lebih kuat, dan sebagainya (lihat Pendekatan Traits).

Seseorang diangkat sebagai pemimpin oleh kelompoknya menurut pendekatan traits karena memiliki sifat yang mendukung kepemimpinannya, misalnya sifat jujur (sidiq) nomor satu, mengajak kebaikan (tabliq), amanah, dan cerdas (fathonah) atau dalam bahasa Arab disingkat STAF.

Penelitian Kouzes & Posner (1987-2007) selama 20 tahun dengan responden 200.000 leader di berbagai organisasi, kemudian menjadi buku best seller, dicetak 500.000 eksemplar, selanjutnya diterjemahkan dalam 20 bahasa, menemukan ranking sifat pemimpin yang diharapkan pengikut, yaitu:

  1. jujur,
  2. pandangan jauh ke depan,
  3. memberi inspirasi,
  4. cakap,
  5. adil,
  6. mau memberikan dukungan,
  7. berpikiran luas,
  8. cerdas,
  9. lugas,
  10. dapat diandalkan,
  11. berani,
  12. mau bekerja sama,
  13. punya imajinasi,
  14. peduli,
  15. bertekad kuat,
  16. dewasa,
  17. ambisius,
  18. setia,
  19. mampu mengendalikan diri, dan
  20. mandiri (Kouzes & Posner, 2010).

Kouzes dan Posner (2010) menemukan bahwa jujur adalah ranking satu karena dengan kejujuran menghasilkan kepercayaan dan kepercayaan menghasilkan kepemimpinan. Jadi, pemimpin dipercaya karena kejujurannya. Kepemimpinan adalah hubungan berdasarkan kepercayaan (Kouzes & Posner, 2010). Seseorang dipilih menjadi pemimpin karena kepercayaan yang diberikan pengikutnya. Orang sulit mempercayai kata atau janji dari pemimpin yang tidak dapat dipercaya karena sekali saja orang tidak percaya, seumur hidup tidak akan percaya.

Cara membangun kepercayaan:

  1. jujur,
  2. terbuka,
  3. setia,
  4. konsisten,
  5. kompeten,
  6. integritas,
  7. empati,
  8. simpati,
  9. tanggung jawab,
  10. menjadi pendengar yang baik,
  11. pandai memelihara kepercayaan (Robbins, 2001 & Manning & Curtis, 2003).

Pemimpin bersifat formal dan nonformal. Pemimpin formal ialah pemimpin yang diangkat dengan surat keputusan (SK), mendapat gaji dan fasilitas, memiliki kekuasaan, kewajiban, kewewenangan, tugas, dan tanggung jawab. Sebaliknya, pemimpin tanpa SK disebut pemimpin nonformal. Kepemimpin formal disebut juga assigned leadership. Sebaliknya, kepemimpinan nonformal disebut emergent leadership.

Pemimpin nonformal muncul untuk mengatasi keadaan darurat, contohnya, ketika terjadi kebakaran, tiba-tiba muncul seorang pemimpin yang memberi komando dan mengatur orang lain untuk memadamkan api. Ada kalanya, pemimpin nonformal lebih berkuasa dan menjadi “dalang” pemimpin formal sehingga semua keputusan strategis dan sangat penting, pemimpin formal harus meminta restu terlebih dahulu kepada pemimpin nonformal. Pemimpin formal yang keputusannya ditentukan oleh pemimpin nonformalnya disebut juga sebagai pemimpin simbolik atau pemimpin” boneka”.

Seseorang berambisi menjadi pemimpin karena ingin dihargai (Maslow), ingin bertanggung jawab dan kemajuan (Herzberg), ingin pertumbuhan (Alderfer), atau ingin berkuasa (McClelland) (Griffin & Moorhead, 1996).

C. Tiga Paham Pemimpin

Ada tiga paham pemimpin, yaitu (1) nativisme, (2) empirisme, dan (3) konvergensi. Penganut nativisme yakin bahwa seseorang dipilih sebagai pemimpin karena memiliki sifat sebagai pemimpin sejak lahir. Nativ berasal dari kata natal yang artinya ‘lahir’. Motonya leader are born not built, disebut juga sebaga natural leader. Paham ini menghasilkan pendekatan traits (sifat). Penganut paham ini menolak adanya pelatihan dan sekolah kepemimpinan karena melatih atau menyekolahkan seseorang untuk menjadi pemimpin adalah perbuatan yang sia-sia dan pemborosan waktu, tenaga, dan biaya saja. Penganut paham ini menghasilkan pendekatan traits.

Penganut emprisme yakin bahwa seseorang menjadi pemimpin karena dilatih atau dididik. Motonya adalah leader are built not born. Penganut paham  ini yakin bahwa kepemimpinan dapat dipelajari dan dilatih. Seseorang diberi pengalaman berlatih sebagai pemimpin atau diberi pengalaman memimpin, kelak dia akan menjadi pemimpin yang efektif. Penganut paham ini yakin bahwa pengalaman adalah guru yang terbaik. Plato seorang filosof Yunani Kuno terkenal menyatakan bahwa berilah dia seseorang dan dia dapat menjadikannya pemimpin yang efektif.

Penganut konvergensi yakin bahwa pemimpin dilahirkan dan dilatih. Motonya adalah leader are born and built. Pengikut paham ini menghasilkan teori kontingensi dalam mempelajari kepemimpinan.

Berkenaan dengan pemimpin, Presiden Amerika, Rosevelt, menyatakan bahwa jika Anda ingin mengetahui watak asli seseorang, jadikan dia pemimpin atau berilah dia kekuasaan.

D. Pengertian Pimpinan

Pimpinan adalah posisi atau jabatan, orang yang memiliki kedudukan tertinggi dalam suatu organisasi. Pimpinan sekolah disebut kepala sekolah, principal, head master atau head teacher. Pimpinan universitas disebut rektor, dan seterusnya. Pimpinan ada yang seumur hidup dan ada pula yang dibatasi waktu priodesasi.

E. Evolusi Definisi Kepemimpinan

Evolusi definisi kepemimpinan adalah sebagai berikut.

1920
Kepemimpinan adalah mempengaruhi pengikut agar taat, hormat, setia, dan mudah bekerja sama.

1929
Lebih menekankan pada kontrol dan sentralisasi kekuasaan.

1930-an
Memandang kepemimpinan sebagai mempengaruhi daripada mendominasi.

1940-an
Mendefinisikan kepemimpinan sebagai perilaku individu melibatkan secara langsung kegiatan kelompok. Pada saat yang bersamaan, kepemimpinan adalah mengimbau atau mengajak pengikutnya. Definisi ini membedakan kepemimpinan dengan supir atau memaksakan arah (Copeland, 1942).

1950-an
Kepemimpinan adalah pemimpin yang betindak di dalam kelompok. Kepemimpinan adalah hubungan dalam mengembangkan tujuan bersama berdasarkan perilaku pemimpin. Kepemimpinan adalah keefektifan kemampuan mempengaruhi seluruh pengikut untuk mencapai tujuan bersama.

1960-an
Kepemimpinan adalah perilaku mempengaruhi pengikut untuk mencapai tujuan bersama.

1970-an
Definisi kepemimpinan Burns (1991) adalah konsep terpenting kepemimpinan, yaitu timbal balik proses menggerakkan orang dengan motif, nilai, ekonomi, politik, dan sumber daya lain dalam konteks kompetisi dan konflik sehingga tujuan tercapai secara saling bergantung dan tumpang-tindih dilakukan pemimpin dan pengikut.

1980-an
Kepemimpinan didefinisikan sebagai:

  1. melakukan seperti yang pemimpin harapkan;
  2. pengaruh;
  3. traits; dan
  4. transformasi.

2000-kini
Perdebatan kepemimpinan dan manajemen berlangsung terus secara hingga kini. Kepemimpinan akan tetap dipahami sebagai perbedaan makna secara terus-menerus oleh orang yang berbeda.

F. Pengertian Kepemimpinan

Kepemimpinan merupakan objek dan subjek yang menarik dan tidak membosankan untuk dipelajari, dilatihkan, diteliti, ditulis, didiskusikan, diseminarkan, dan direfleksikan, baik oleh orang awam, akademisi, peneliti, maupun praktisi karena aspek dinamis yang terkandung di dalamnya. Posisi kepemimpinan dalam fungsi manajemen disebut leading atau directing.

Kata leadership pertama kali muncul tahun 1700-an. Pada tahun 1920-an, kepemimpinan didefinisikan sebagai  kemampuan mempengaruhi pengikut agar menjadi taat, hormat, setia, dan mudah bekerja sama (Gill, 2009). Pada tahun 2005, Amazon.com telah mendaftar 18.299 buku kepemimpinan. Google Schoolar mendaftar 16.800 buku kepemimpinan dan 386.000 kutipan definisi kepemimpinan (Bass & Bass, 2011: 6). Pada tahun 1993 sudah terdapat 221 definisi kepemimpinan yang ditulis dalam 587 publikasi (Bass, 2011: 15).

Baca juga:   Adaptasi Kepemimpinan dan Manajemen Sekolah di Era New Normal

Definisi yang paling lama dan menjadi dasar bagi definisi kepemimpinan berikutnya menurut Stogdill (1974) adalah kepemimpinan sebagai:

  1. titik fokus proses kelompok,
  2. kepribadian dan pengaruhnya,
  3. seni agar bujukan dipenuhi,
  4. latihan mempengaruhi,
  5. tindakan,
  6. bentuk membujuk,
  7. kekuatan hubungan,
  8. instrumen mencapai tujuan,
  9. suatu pengaruh interaksi,
  10. suatu perbedaan peran, dan
  11. inisiasi struktur.

Definisi kepemimpinan menurut Stogdill tersebut merupakan definisi kepemimpinan yang paling komprehensif. Kepemimpinan adalah tindakan mempengaruhi orang lain untuk mencapai tujuan akhir yang diharapkan (Bush, 2008 & 2011). Pendapat Bush tersebut didukung oleh Sharma (2009) yang menyatakan bahwa kepemimpinan adalah:

  1. tindakan mempengaruhi orang lain untuk mencapai tujuan yang diharapkan;
  2. mempengaruhi masyarakat, pengikut, institusi, dan siswa;
  3. membimbing mewujudkan visi dan sebagainya; dan
  4. membujuk pengikut untuk menyampaikan minatnya.

Pendapat Sharma tersebut mendapat dukungan Yukl (2015), bahwa kepemimpinan adalah proses mempengaruhi orang lain untuk memahami dan menyetujui kebutuhan yang harus dipenuhi dan cara menindaknya, serta proses memfasilitasi individu dan kelompok berusaha mencapai tujuan bersama. Manfaat keberadaan manusia bukan hanya dari yang diucapkannya tetapi yang lebih penting dari tindakan nyatanya. Kouzes & Posner (2010) menyatakan tindakan jauh lebih penting daripada berkata-kata dan konsistensi antara kata-kata dengan tindakan merupakan sara untuk menilai kejujuran pemimpin. Trueman mantan Presiden Amerika Serikat menyatakan, leadership is action not position. Salah satu tugas pemimpin adalah menciptakan, menjelaskan, dan mencapai visi.

Visi adalah mimpi indah yang ingin diwujudkan. Visi adalah cita-cita ideal yang ingin diwujudkan. Visi adalah ke mana organisasi hendak dibawa. Untuk mencapai visi perlu tindakan. Bennis (1989) menyatakan, leadership is capacity to translate vision into reality, ‘kepemimpinan berbasis tindakan digambarkan sebagai berikut’.

Gambar 2 Kepemimpinan berbasis tindakan

Tindakan adalah sesuatu yang dilakukan pemimpin secara nyata, dapat dilihat hasilnya atau bukti fisiknya atau dapat diukur atau dapat diamati bahkan diandalkan sebagai penilaian prestasi kerja atau hasil kerja atau hasil pelaksanaan tugas. Tindakan pemimpin merupakan hasil paling tampak atau terluar dari diri pemimpin atau manusia seperti yang tampak pada gambar berikut.

Baca juga:   Adaptasi Kepemimpinan dan Manajemen Sekolah di Era New Normal

Gambar 3 Tindakan sebagai bagian yang tampak dari kepemimpinan
(Bush, Bell, & Middlewood, 2010: 41)

Yukl (2015) mendefinisikan kepemimpinan yang dianggap cukup mewakili definisi kepemimpinan selama seperempat abad adalah sebagai berikut.

  1. Kepemimpinan adalah perilaku dari seorang individu yang memimpin aktivitas-aktivitas suatu kelompok ke suatu tujuan yang ingin dicapai bersama.
  2. Kepemimpinan adalah pengaruh antarpribadi yang dijalankan dalam suatu situasi tertentu, serta diarahkan melalui proses komunikasi ke arah pencapaian satu atau beberapa tujuan tertentu.
  3. Kepemimpinan adalah pembentukan awal serta pemeliharaan struktur dalam harapan dan interaksi.
  4. Kepemimpinan adalah peningkatan pengaruh sedikit demi sedikit, pada dan berada di atas kepatuhan mekanis terhadap pengarahan-pengarahan rutin organisasi.
  5. Kepemimpinan adalah proses memengaruhi aktivitas-aktivitas sebuah kelompok yang diorganisasi ke arah pencapaian tujuan.
  6. Kepemimpinan adalah sebuah proses memberikan arti (pengarahan yang berarti) terhadap usaha kolektif dan yang mengakibatkan kesediaan untuk melakukan usaha yang diinginkan untuk mencapai sasaran.
  7. Para pemimpin adalah mereka yang secara konsisten memberikan kontribusi yang efektif terhadap orde sosial serta yang diharapkan dan dipersepsikan melakukannya.

Jika Yukl menyatakan kepemimpinan memfasilitasi individu dan tim, maka Northouse (2018: 5) menyatakan leadership is a process whereby an indivual influences a group of individuals to achieve a common goal, ‘kepemimpinan adalah proses yang dilakukan seorang untuk mempengaruhi kelompok dalam mencapai tujuan bersama’. Pendapat Yukl tersebut sejalan dengan pendapat Bass & Bass (2011), bahwa kepemimpinan adalah interaksi dua atau orang lebih dalam suatu kelompok terstruktur terhadap situasi persepsi dan harapan anggota. Hoy & Miskel (2013: 426) mendefinisikan kepemimpinan dalam arti luas adalah sebagai proses sosial yang mempengaruhi perilaku individual atau kelompok untuk mencapai tujuan bersama.

Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan adalah proses mempengaruhi sekelompok orang untuk mencapai tujuan bersama secara efektif dan efisien. Berdasarkan definisi tersebut, komponen kepemimpinan mengandung proses mempengaruhi, sekelompok orang, dan cara mencapai tujuan bersama.

G. Cara Mempengaruhi Pengikut

Yukl (2015: 8) memberikan cara mempengaruhi pengikut, yaitu:

  1. interpretasi kejadian internal dan eksternal organisasi;
  2. memilih tujuan dan strategi yang tepat;
  3. memotivasi pengikut untuk mencapai tujuan;
  4. saling percaya dan bekerja sama dengan pengikut;
  5. mengorganisasikan dan mengkoordinasikan tugas;
  6. mengalokasikan sumber daya untuk melaksanakan kegiatan dan mencapai tujuan (Yukl, 2015). Arena pengaruh digambarkan seperti berikut.

 Gambar 4 Arena pengaruh (Bush, Bell, & Middlewood, 2010: 44)

Tujuan kepemimpinan adalah:

  1. terwujudnya peningkatan mutu proses dan hasil organisasi,
  2. tersedianya visi organisasi dan agen perubahan,
  3. terkoordinasinya pengikut dalam mencapai visi,
  4. terberdayakannya pengikut secara optimal,
  5. terbinanya pengembangan karier pengikut termasuk kaderisasi, dan
  6. tingginya kinerja organisasi.

Manfaat kepemimpinan adalah:

  1. mampu menilai SWOT kemampuan dirinya yang diperlukan sebagai kepemimpinan efektif;
  2. menggunakan kekuasaan dengan tepat dan berpengaruh positif dalam meningkatkan komitmen pengikut;
  3. menguji nilai-nilai personal dan keyakinan dirinya yang berkaitan dengan asumsi tentang kepemimpinan dan pengikutnya,
  4. memahami sejumlah peranan kepemimpinan;
  5. mengenal hubungan antara pemimpin berorientasi tugas dan berorientasi hubungan manusia;
  6. mengenal pentingnya tujuan moral dan nilai etika dalam kepemimpinan (Chance, 2009), dan
  7. leadership is often regarded as the single most important factor in the success or failure of institutions (Hoy & Miskel, 2013).

 H. Urutan (Kronologis) Teori Kepemimpinan

 Urutan teori kepemimpinan seperti tabel berikut.

 Tabel 1 Urutan Teori Kepemimpinan menurut Delapan Ahli Sumber: Koleksi pribadi
Keterangan: MP = Manajemen Pendidikan

Perhatikan dalam tabel ada istilah pendekatan, teori, dan kepemimpinan yang tidak boleh tertukar cara menulis dan cara mengucapkannya.

I. Kepemimpinan Abad 21

Kepemimpinan abad 21 menurut Whitehead et al. (2013) adalah kepemimpinan:

  1. strategis/visionary,
  2. perubahan,
  3. instruksional,
  4. distributed(shared),
  5. era digital,
  6. sistemik,
  7. pelayan,
  8. prima, dan
  9. kewirausahaan.

Masing-masing kepemimpinan memiliki definisi, tujuan, manfaat, cara melaksanakan, kelebihan dan kekurangan.

J. Suka (Bahagia) Duka (Derita) sebagai Pemimpin

Suka dan duka sebagai pemimpin seperti yang tercantum dalam tabel berikut.

Tabel 2 Suka Duka sebagai PemimpinSumber: Koleksi pribadi

K. Kasus

Setiap orang dapat menjadi pemimpin. Menjadi pemimpin pun dapat berbagai sebab, antara lain:

  1. kehendak rakyat,
  2. kehendak partai,
  3. kehendak penguasa,
  4. kehendak pengusaha,
  5. kehendak kelompok yang sedang berkuasa (oligarki),
  6. kehendak teman sejawat/tim,
  7. melanjutkan masa akhir jabatan sebagai pelaksana tugas,
  8. priodesasi pemimpin,
  9. komitmen arisan atau gantian sebagai pemimpin,
  10. karbitan, yaitu muncul mendadak sebagai top leader karena tidak ada kaderisasi dan tanpa melalui tingkatan pemimpin (low, middle, top leader) di organisasi),
  11. hasil pencitraan/kampanye,
  12. hasil kecurangan,
  13. hasil money politic,
  14. tidak ada orang lain yang mau jadi pemimpin,
  15. keberuntungan/bernasib baik/takdir,
  16. menggantikan pemimpin mendapat musibah cacat permanen atau meninggal dunia,
  17. menggantikan pemimpin yang dipecat,
  18. kenaikan jenjang karier,
  19. hasil dinasti politik (mengorbitkan  keluarga dekat sendiri), walaupun menjadi pejabat adalah hak setiap orang, tetapi perlu mempertimbangjkan etika dan moral,
  20. menghalalkan segala cara,
  21. kehendak sendiri atau ambisi pribadi.

Kesimpulannya, orang dapat menjadi pemimpin karena faktor eksternal, internal, dan kombinasi. Dalam kasus-kasus seperti di atas terkesan bahwa seseorang tidak perlu bersusah payah belajar dan berlatih kepemimpinan apalagi teori kepemimpinan yang dipelajari atau dilatihkan berbeda jauh dengan praktiknya di lapangan. Memang, tidak selamanya praktik sehebat teori. Ada pula pendapat yang penting menjadi pemimpin dulu sambil belajar, tidak harus memiliki penguasaan teori kepemimpinan karena pengalaman adalah guru terbaik dan dapat mengalahkan sejuta teori. Semakin banyak peluang untuk memimpin, semakin besar pemimpin mengembangkan keahliannya. Anda harus berani mengambil kesempatan sebagai pemimpin untuk menguji diri menghadapi tugas baru yang sulit. Pemimpin adalah pembelajar. Pemimpin belajar dari kesalahan dan keberhasilan.

Ketika seseorang diangkat sebagai pemimpin, ada pemimpin yang menganggap mendapat berkah dan ada pemimpin yang mengaggap sebagai musibah. Bagi yang mendapat berkah biasanya ia berpesta pora bersama keluarga dan pendukungnya untuk merayakan dirinya menjadi pemimpin. Sebaliknya, bagi yang mendapat musibah merefleksi diri dengan bertanya kepada hati nuraninya, misalnya “Mampukah aku mengemban amanah yang berat ini? Mampukah aku tidak melanggar sumpah? Mampukah aku mengembangkan organisasi? Mampukah menghadapi berbagai cobaan? Mampukah aku berbuat jujur dan adil? Mampukah aku mencapai visi dan menepati janji-janjiku? Mampukan aku mensejahterakan, kesejahteraan, dan mempersatukan mereka? Mampukan aku menjadi pemimpin yang arif dan bijaksana? Mampukan aku bertahan terhadap tekanan berbagai pihak? Mampukan aku mengatasi orang sulit?”

DAFTAR PUSTAKA

Bass, B.M., & Bass, R. 2011. Handbook of leadership: Theory, research, and management application. Fouth Edition. New York: Free Press.

Bush, T. (2008). Leadership and management development in education. London: Sage.

Bush, T. (2011). Theories of educational leadership and management. 4th Edition. London: Sage Publications, Ltd.

Bush, T., Bell, L., & Middlewood, D. (Eds). (2010). The principles of educational leadership & management. 2nd Edition.  London: Sage.

Chance, P.L. (2009). Introduction to educational leadership & organizational behavior: Theory into practice. Second Edition. New York: Eye on Education.

Gill, R. (2009). Theory and practice of leadership. London: Sage.

Goetsch, D.L., & Davis, S. (2015). Quality management for organizational excellence: Introduction to total quality. Harlow, Essex: Pearson Educational Limited.

Griffin, R.W., & Moorhead, G. (1996). Organizational behavior. Boston: Hought Miffin Company.

Hoy, W.K., & Miskel, G.M. (2013). Educational administration: Theory, research, and practice. Ninth Edition. New York: McGraw Hill.

Kauzes, J.M.,  & Posner, B.Z. (2010). The leadership challenge. San Francisco: Jossey-Bass Publishing.

Lunenburg, F.C., & Ornstein, A.C. (2011). Educational administration: Concept and practice. London: Wadsworth.

Manning, G.K., & Curtis, K. (2003). The art of leadership. New York: McGraw-Hill.

Northouse, P.G. (2018). Leadership. 7th Edition. London: Sage Person-Learning Curve Report, 2014.

Robbins, S.P. (2001). Organizational behavior: Concepts controversies and applications. London: Prentice-Hall International, Inc.

Sadler, P. (1997). Leadership. London: 1997.

Sergiovanni, T. (1984), Leadership and excellence in schooling. Educational Leadership, 7, 4-3.

Sergiovanni, T. (2006). The principalship; A reflective practice perspective. Boston: Pearson.

Sharma, S.L. (2009). Educational management a unified approach of education. New Delhi: Global India Publication, Pvt, Ltd.

Stogdill, R.M. (1974). Handbook of leadership: A survey of theory and research. New  York: The Free Press.

Whitehead, B.M., Bosschee, F., & Decker, R.H. (2014). The principal leadership for a global society. London: Sage.

Yulk, G. (2015). Leadership in organizations. London: Prentice-Hall International.

spot_img

15 KOMENTAR

  1. Mantaap Prof, selalu menginspirasi kami generasi muda dalam mengembangkan karakter dan kepribadian kami sebagai pemimpin yg efektif.. Sehat selalu, nggeh, Prof🙏🏻🙏🏻

  2. Sesuai judul. Ini hanya pengantar. Nanti jika sdh membahas pendekatan situasional & gaya baru dibahas secara khusus kepemimpinan Ki Hajar Dewantara. Demikian pula ketika menbahas pendekatan traits baru dibahas secara khusus kepemimpinan Hastabrata.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

Tulisan Terbaru

Komentar Terbaru

Sedang Populer

1,166FansLike
52FollowersFollow