Wednesday, January 20, 2021
Beranda Kesehatan Perbedaan antara Covid-19 dengan Bakteri

Perbedaan antara Covid-19 dengan Bakteri

Dr. Heru Nurcahyo, M.Kes.
Dosen Jurdik Biologi FMIPA Universitas Negeri Yogyakarta

Suyanto.id–Di alam ini, terdapat berbagai kelompok organisme tak kasatmata yang meliputi virus, bakteri, dan jamur. Ada juga prion, yaitu semacam virus tetapi ukurannya lebih kecil dan memiliki struktur lebih sederhana. Walaupun sangat kecil dan sederhana, prion ini dapat mematikan pada sapi, namanya penyakit sapi gila (mad cow disease). Semoga tidak mengalami perubahan sehingga menjadi dapat menular ke manusia sehingga menyebabkan manusia gila.

Organisme tidak kasatmata pada umumnya dapat dilihat menggunakan alat bantu mikroskop cahaya biasa (maksimum perbesaran 1000 kali). Akan tetapi, Covid-19 hanya tampak apabila dilihat dengan menggunakan mikroskop elektron.



Organisme mikroskopis ternyata jenisnya beraneka ragam dan jumlahnya sangat banyak, mencapai milyaran. Eloknya, ada satu kesamaan antara makhluk tersederhana virus dengan makhluk hidup yang paling kompleks manusia, bahwa mereka semua memiliki material genetik yang strukturnya sama yakni DNA atau RNA. Kesamaan dalam keberagaman ini kemudian dikenal dengan istilah UNITY IN DIVERSITY. Itulah salah satu temuan ilmiah mengapa virus Covid-19 dapat menular dan berkembang biak pada paru-paru manusia karena virus Covid-19 memiliki material genetik yang strukturnya sama dengan yang dimiliki inti sel paru-paru manusia.

Berdasarkan fakta ilmiah bahwa virus merupakan oragnisme paling sederhana, para ahli sepakat belum memasukkan virus ke dalam golongan organisme hidup. Secara struktural, virus memang tidak memenuhi persyaratan sebagai makhluk hidup.

Struktur virus Covid-19 merupakan partikel sangat kecil ukurannya nano (10 pangkat minus-9), bukan berupa sel hidup dan bukan pula benda mati, tidak makan, tidak bernapas, tidak dapat bergerak, tetapi dapat berkembang biak. Pada umumnya virus hanya mempunyai materi genetik dan selubung protein dan lemak serta memiliki tonjolan-tonjolan protein. Materi genetik virus memiliki fungsi menentukan karakter dan keganasan virus. Ibarat suatu rumah tempat tinggal, maka virus hanya memiliki satu petak kamar kos atau malah seperti liang lahat, tidak punya kamar mandi, juga kamar tidur dan dapur, sangat minimalis.

Oleh karena itu, cara hidup virus betul-betul merupakan organisme parasit. Virus menggantungkan seluruh kehidupannya pada inang sehingga sifat alaminya mudah mati jika berada di luar inang. Secara alami, ketika virus berada di luar inang, dia hanya berdiam diri (inert) dan tidak melakukan kehidupan. Jadi, kalau ada yang mengatakan virus dapat bertahan hidup di permukaan suatu benda selama beberapa jam itu merupakan pernyataan yang tidak sesuai dengan kaidah biologi virus artinya di luar kenormalan.

Cara berkembang biak virus pun berbeda dengan bakteri, yakni dengan cara menitipkan materi genetiknya kepada materi genetik (DNA) pada inti sel inang setelah terlebih dahulu berikatan dengan reseptor spesifiknya pada permukaan sel inang. Ibarat mau bikin sate kambing, maka semua peralatan dan bahan diambil dari inangnya. Virus hanya bermodalkan tusuk sate, selebihnya menggunakan peralatan dan bahan yang dimiliki inang. Demikian juga ketika berkembang biak membentuk virus baru (virion), maka semua bahan dan pirantinya menggunakan milik inang, kecuali cetakannya yaitu materi genetik virus.

Baca juga:   Merawat Wajah Tampak Muda di Masa Covid-19

Setelah virion baru terbentuk, secara otomatis sel-sel hospes menjadi rusak dan tidak dapat berfungsi lagi. Makanya, oleh tubuh segera disikapi dengan menghancurkan virus tersebut dengan mengirimkan pasukan perang yakni sistem kekebalan. Oleh karena itu, hampir semua infeksi virus ditandai dengan peradangan berupa panas tinggi (hipertermia) untuk beberapa waktu karena pertempuran antara sistem kekebalan dengan virus. Jika sistem pertahanan mampu mengalahkan virus, manusia dapat bertahan hidup dan akan sembuh dengan terbentuknya zat kebal (antibody).

Bakteri berkembang biak dengan cara menempel pada sel inang, kemudian mengeluarkan racun (toksin) untuk merusak sel inang. Selain ukuran sel bakteri jauh lebih besar daripada ukuran virus, yakni dalam skala mikron (10 pangkat minus 6), strukturnya berbeda dengan virus. Pada sel bakteri terdapat dinding sel dan beberapa peralatan (organel) walaupun belum mempunyai organel secara lengkap untuk mendukung kehidupannya dan berkembang biak (reproduksi).

Bakteri memiliki DNA yang menyusun kromosom dan DNA melingkar (plasmid). Pada saat sebelum membelah, bakteri mengkopi materi genetiknya terlebih dahulu kemudian membagi materi genetik tersebut kepada anakannya sama persis pada saat membelah. Jadi, sebelum membelah, bakteri mencetak materi genetiknya secara mandiri. Bakteri berkembang biak dengan cara membelah diri (pembelahan biner) dari 1 sel menjadi 2 sel anakan yang sama persis dengan induknya. Kemudian, dari 2 menjadi 4 dan seterusnya, dari 4 menjadi 8 dalam waktu yang relatif singkat (satuan jam).

Kaitannya dengan kepentingan manusia, bakteri dapat dibedakan menjadi dua kelompok, yakni kelompok bakteri pathogen dan yang menguntungkan. Kelompok bakteri pathogen adalah bakteri yang bersifat merugikan karena menyebabkan penyakit pada manusia, hewan, atau tanaman. Kelompok bakteri menguntungkan adalah bakteri yang memberi manfaat kepada manusia atau hewan. Bakteri jenis ini terdapat dalam minuman, makanan terfermentasi atau sejenisnya yang dikenal sebagai probiotik seperti Yakult, yoghurt, kefir, nata de coco, dan buah-buahan terfermentasi. Salah satu manfaat bakteri probiotik adalah untuk merangsang sistem kekebalan tubuh sehingga dapat meningkatkan daya tahan tubuh terhadap infeksi virus Covid-19.

Realita dalam kehidupan sehari-hari, masih banyak dijumpai warga yang hidup bersama dengan bakteri pathogen. Mereka menderita infeksi bakteri menular, tetapi tidak dipedulikan, sebagai contoh, penyakit tuberculosis (TB) paru-paru. Penyakit menular ini disebabkan oleh infeksi bakteri tahan asam namanya Mycobacterium tuberculose. Oleh karena itu, dalam kehidupan sehari-hari masih banyak warga yang berperan sebagai karier atau pembawa bibit penyakit. Mereka kelihatan tidak sakit, tetapi membawa bibit penyakit.

Baca juga:   Buka Sekolah Jangan Korbankan Keselamatan Anak

Pada kondisi seperti wabah pandemi saat ini, apabila pada seseorang sudah mengalami infeksi bakteri, maka orang tersebut akan lebih mudah terserang virus Covid-19 atau memberikan peluang untuk mudah terinfeksi. Apabila terjadi infeksi ganda antara TB dan virus Covid-19,  keduanya dapat saling memperparah derajat penyakit dan berujung ke kematian. Bisa jadi sudah ada TB terlebih dahulu kemudian diikuti virus masuk atau sebaliknya virus terlebih dahulu kemudian diikuti bakteri atau jamur sebagai infeksi sekunder.

Demikian, semoga bermanfaat dan dapat untuk pencerahan. (*)

13 KOMENTAR

  1. Terimakasih pencerahannya. Semangat terus untuk mencerdaskan masyarakat Indonesia. Boleh dikirim ke surat kabar agar lebih banyak pembacanya.

  2. Terima kasih Prof Heru,ilmu yg diberikan menjadi sedekah yg tak kan habis dimakan waktu….ttg prion itu hsl baru..sangat bermanfaat…semoga barokah Prof Heru…Aamiin

  3. Sedikit lebih paham proff Her. Ternyata virus itu makhluk hidup bukan, matipun tidak. Dan jahat semuakah?
    Tapi kalau bakteri lebih komplek susunannya, ada yg baik ada yg jahat. Insyaa Allah bermanfaat bagi pembaca mas Proff.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

Tulisan Terbaru

Mamuju

Tresna Tanpa Syarat

Tepuk Dada

Komentar Terbaru

Sedang Populer

1,145FansLike
46FollowersFollow