Sunday, February 5, 2023
spot_img
BerandaPendidikanPergeseran Metode Pembelajaran Abad 21

Pergeseran Metode Pembelajaran Abad 21

Junaidin
Kandidat Doktor Universitas Negeri Yogyakarta dan Widyaiswara LPMP Kalimantan Tengah

Suyanto.id–Pandemi Covid-19 masih berkelanjutan dan kita pun belum dapat memastikannya kapan akan berakhir. Secara sains, hal ini sangat ditentukan oleh peran disiplin manusia dalam mewujudkan protokol kesehatan. Sementara tanggung jawab profesional guru dalam pembelajaran harus dilaksanakan secara terus-menerus di abad 21 ini.

Pembelajaran di Abad 21 harus berbeda dengan abad sebelumnya, bahkan harus berbeda dengan budaya belajar di awal abad ini sekalipun, yaitu budaya masih dominannya guru dalam proses pembelajaran. Dominasi guru di tengah semakin meningkatnya literasi teknologi siswa dan masih rendahnya literasi digital pada sebagian kecil guru akan merugikan anak-anak. Pembelajaran harus lebih banyak melibatkan siswa. Beberapa negara (misalnya Singapora, Finlandia, dan Cina) yang konsen pada pentingnya masa depan anak-anak, baik di Asia maupun Eropa, telah bergerak cepat untuk mereformasi kultur belajar. Pendidik harus terus belajar.

Dalam bukunya yang berjudul 21st Century Skills, Trilling, B., & Fadel, C. (2009: 38) mengidentifikasi 14 metode pembelajaran yang cukup relevan untuk diterapkan dalam kelas Abad 21 ini, yaitu interactive exchange, skills, process, applied skills, questions and problems, practice, projects, on-demand, personalized, collaborative, global community, web-based, formative evaluations, and learning for life.

Perubahan ini terutama didorong oleh tuntutan pembangunan yang sedang menggeser ekonomi industri ke ekonomi pengetahuan. Globalisasi baru ini juga dipercepat oleh perkembangan perangkat digital, gaya hidup serba digital, dan tentu saja perkembangan sejumlah penelitian pembelajaran modern.

Dapatkah guru-guru kita mulai menggeser kultur pengajarannya dari direct instruction, knowledge, content, basic skills, facts and principles, theory, curriculum, time-slotted, one-size-fits-all, competitive, classroom, text-based, summative tests, dan learning for school? Saya selalu optimis, kita pasti bisa karena kita telah mengerjakannya. Kita harus berharap pada apa yang telah kita kerjakan secara terus-menerus. Semoga bermanfaat! (*)

spot_img

3 KOMENTAR

  1. Betul Prof. Bambang Subali, pendekatan saintifik yang ditekankan dalam Kurikulum 2013 telah dipraktekkan secara merata di semua daerah. Hanya saja masih ada beberapa praktik yang memberi tugas menguji pengetahuan level ingatan, mestinya kasus, atau minimal tugas pemahaman jika diukur dari Taxonomi Bloom. Kompetensi Keterampilan Abad 21 (4Cnya) bisa jadi akan terlambat dimiliki anak jika tidak diintervensi dengan berbagai cara secara terus-menerus. Matur nuwun.

  2. Saya kira sejak diberlakujan kurikulum 2018 sekarang para guru sudah tidak lagi bicara metode, namun sudah mempraktikkan model2x belajar dengan sintak yg jelas.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

Tulisan Terbaru

Cinta

0

Janji Proklamasi

1

Pelayatan Agung

0

Ziarah

1

Komentar Terbaru

Sedang Populer

1,166FansLike
68FollowersFollow