Saturday, December 5, 2020
Beranda Pendidikan Persoalan Pembelajaran Jarak Jauh di Daerah 3T: Bagaimana Solusinya?

Persoalan Pembelajaran Jarak Jauh di Daerah 3T: Bagaimana Solusinya?

Desi Nurhikmahyanti, S.Pd., M.Pd.
Dosen Universitas Tidar dan Kandidat Doktor Manajemen Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta

Suyanto.id–Pandemi Covid-19 yang melanda dunia saat ini telah mengubah kegiatan sehari-hari manusia. Penyebaran virus yang terjadi melalui kontak fisik menjadikan interaksi fisik pun terhenti. Hal ini juga dialami di dunia pendidikan, seperti madrasah, sekolah, dan perguruan tinggi. Akibatnya, seluruh kegiatan tatap muka berpindah ke media lain yang tidak memerlukan adanya kontak fisik, seperti komunikasi melalui internet. Hal ini dilakukan semata-mata dalam rangka mengurangi risiko terpapar Covid-19.

Pembelajaran yang biasanya dilakukan dengan tatap muka terpaksa dilakukan secara virtual melalui media internet. Bahan pembelajaran yang dibutuhkan disimpan di server sekolah. Proses pembelajaran dilakukan siswa dari rumah maupun tempat lain. Interaksi antara guru dengan siswa melalui aplikasi chatting atau video conferencing secara daring. Dengan demikian, kegiatan tetap dapat berlangsung tanpa melakukan kontak fisik. Proses pembelajaran yang demikian dinamakan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).



Penyelenggaraan PJJ ini membutuhkan infrastruktur yang memadai, seperti gawai berupa smartphone, tablet, dan laptop serta ketersediaan jaringan internet, yaitu sinyal wi-fi ataupun sinyal selular 3G/4G. Siswa yang tinggal di daerah yang telah tersedia akses internet dan memiliki salah satu gawai tersebut, dapat mengikuti PJJ sebagaimana yang diharapkan. Lain halnya dengan siswa yang tinggal di daerah yang jaringan internetnya belum bagus apalagi jika ditambah tidak adanya gawai, PJJ akan terkendala seperti banyak terjadi saat ini.

Apabila jaringan internet tersedia, pemerintah daerah dapat mengambil kebijkan dengan memberikan akses wi-fi gratis atau mengalokasikan dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah) untuk membeli kuota internet. Jika jaringan internet belum memadai apalagi belum tersedia serta diperparah dengan tiadanya gawai, kegiatan PJJ secara daring akan terancam gagal.

Di Indonesia, kondisi daerah yang tidak memiliki infrastuktur jaringan internet yang baik maupun tidak tersedianya listrik tercatat masih cukup banyak. Daerah ini tergolong kategori 3T atau terluar, terdepan, dan tertinggal. Mayoritas daerah 3T menjadi gerbang tapal batas Indonesia. Daerah ini umumnya terletak jauh dari ibu kota provinsi yang biasanya infrastruktur sangat tertinggal, bahkan listrik pun bisa jadi belum tersedia. Data Dapodik Kemdikbud menunjukkan, sekitar 16% dari total siswa yang ada di Indonesia terletak di daerah 3T.

Sisi lain dari daerah 3T selain ketidaktersediaan infrastruktur adalah akses jalan raya yang tidak memadai, jarak sekolah dengan rumah siswa sangat jauh, pemukiman warga di pulau yang sangat terpencil, dan kondisi alam yang luar biasa menantang seperti jalanan di perbukitan, berawa, melintasi sungai yang sangat panjang, bahkan dipenuhi binatang buas. Kondisi tersebut menyebabkan PJJ tidak dapat berlangsung dengan baik. Menilik lagi persoalan tersebut, Kemendikbud dan pemerintah daerah perlu mencarikan solusi.

Baca juga:   Inovasi Kepala Sekolah Mengefektifkan PJJ di Masa Pandemi

Sebelum menentukan alternatif solusi diperlukan pemetaan secara lebih rinci kondisi riil daerah 3T. Adapun pemetaan daerah 3T adalah sebagai berikut.

  1. Ketersediaan infrastruktur jaringan listrik;
  2. ketersediaan akses internet (3G/4G);
  3. jarak antartempat tinggal siswa;
  4. kepadatan siswa per daerah;
  5. jarak daerah tempat tinggal siswa ke daerah lain yang memiliki akses internet;
  6. kondisi keamanan daerah (daerah perbatasan negara, konflik teroris/gerakan separatis);
  7. kondisi daerah yang sulit diakses (akses jalan raya, berbukit-bukit, hutan lebat, kepulauan, rawa); dan
  8. kondisi sosial budaya (suku yang menolak teknologi).

Berdasarkan pemetaan kondisi daerah 3T, berbagai pertimbangan yang ada telah dianalisis dan berujung pada alternatif solusi seperti gawai yang memiliki kapasitas penyimpanan besar dengan akses sinyal seluler (3G/4G). Secara garis besar, pengajuan alternatif solusi pada perbedaan kondisi daerah 3T bermuara pada tiga hal, yaitu sebagai berikut.

  1. Alternatif solusi 1
    • Gawai dilengkapi dengan bahan pembelajaran tanpa akses internet atau secara luring;
    • Sumber daya listrik portabel, misalnya tenaga surya, tenaga manusia (kayuh), tenaga angin.
  2. Alternatif solusi 2
    • Gawai dilengkapi dengan bahan pembelajaran tanpa akses internet atau secara luring;
    • Daerah 3T dapat dikembangkan untuk PJJ.
  3. Alternatif solusi 3
    • Tersedianya bahan pembelajaran pada gawai masing-masing siswa;
    • Tersedia akses internet;
    • Dapat melakukan pengunduhan dokumen bahan ajar tambahan;
    • Dapat melakukan ujian online walaupun masih terbatas.
Baca juga:   Mencermati Suara Daring Guru

Paparan alternatif solusi perlu segera digunakan sebagai dasar pembuatan kebijakan yang tepat oleh Kemendikbud dan pemerintah daerah dalam pengadaan sarana dan prasarana PJJ di daerah 3T. Hal tersebut mengingat sarana dan prasarana PJJ sangat diperlukan untuk daerah 3T dengan berbagai kondisi yang genting.

Dengan demikian, siswa yang berada di daerah 3T tetap dapat melanjutkan pendidikannya dalam kondisi pandemi Covid-19. Hal ini sesuai amanat UUD 1945 Pasal 31 yang menyatakan bahwa setiap warga negara Indonesia berhak mendapatkan pendidikan dan pemerintah wajib menyediakan fasilitas dan akses pendidikan bagi seluruh warga negara Indonesia. (*)

SebelumnyaBukit Bagantung
BerikutnyaUdan Sore

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

Tulisan Terbaru

Kesiapan menjadi Kampus Merdeka

1

Indonesia Tanah Air Beta

Ibuku, Guruku

Catatan Seorang Guru

4

Komentar Terbaru

Sedang Populer

1,071FansLike
46FollowersFollow