Saturday, June 12, 2021
BerandaGagasan Ilmiah PopulerProfil Pelajar Pancasila Mewujudkan Program Nawacita

Profil Pelajar Pancasila Mewujudkan Program Nawacita

Oleh Dr. Romi Siswanto, M.Si.
Pengurus PP PERGUNU dan Fungsional Muda Ditjen GTK Kemdikbud RI

1. PENDAHULUAN

Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945 dalam bagian akhir bagian Pembukaan mengamanatkan agar melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial. Salah satu poin yang menjadi perhatian adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Inti dari kalimat ini adalah penyelenggaraan pendidikan.

Berdasarkan Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 tahun 2003, pengertian pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara.

Pada tahun 2014, setelah ditetapkan menjadi presiden melalui pesta demokrasi, presiden terpilih, Ir. Joko Widodo, langsung mencanangkan sembilan program prioritas yang sering disebut NAWACITA kepada rakyat Indonesia. Program ini disusun sebagai peta jalan Presiden Joko Widodo sebagai jalan perubahan menuju Indonesia yang berdaulat secara politik serta mandiri dalam bidang ekonomi dan berkepribadian dalam kebudayaan.

Sembilan program NAWACITA yang menjadi prioritas Pemerintahan Presiden Joko Widodo adalah sebagai berikut.

  1. Menghadirkan kembali negara untuk melindungi segenap bangsa dan memberikan rasa aman pada seluruh warga negara, melalui politik luar negeri bebas aktif, keamanan nasional yang terpercaya dan pembangunan pertahanan negara Tri Matra terpadu yang dilandasi kepentingan nasional dan memperkuat jati diri sebagai negara maritim.
  2. Membuat pemerintah tidak absen dengan membangun tata kelola pemerintahan yang bersih, efektif, demokratis, dan terpercaya, dengan memberikan prioritas pada upaya memulihkan kepercayaan publik pada institusi-institusi demokrasi dengan melanjutkan konsolidasi demokrasi melalui reformasi sistem kepartaian, pemilu, dan lembaga perwakilan.
  3. Membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan.
  4. Menolak negara lemah dengan melakukan reformasi sistem dan penegakan hukum yang bebas korupsi, bermartabat, dan terpercaya.
  5. Meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia melalui peningkatan kualitas pendidikan dan pelatihan dengan program “Indonesia Pintar”; serta peningkatan kesejahteraan masyarakat dengan program “Indonesia Kerja” dan “Indonesia Sejahtera” dengan mendorong land reform dan program kepemilikan tanah seluas sembilan hektar, program rumah kampung deret atau rumah susun murah yang disubsidi, serta jaminan sosial untuk rakyat di tahun 2019.
  6. Meningkatkan produktivitas rakyat dan daya saing di pasar internasional sehingga bangsa Indonesia bisa maju dan bangkit bersama bangsa-bangsa Asia lainnya.
  7. Mewujudkan kemandirian ekonomi dengan menggerakkan sektor-sektor strategis ekonomi domestik.
  8. Melakukan revolusi karakter bangsa melalui kebijakan penataan kembali kurikulum pendidikan nasional dengan mengedepankan aspek pendidikan kewarganegaraan, yang menempatkan secara proporsional aspek pendidikan, seperti pengajaran sejarah pembentukan bangsa, nilai-nilai patriotisme dan cinta tanah air, semangat bela negara dan budi pekerti di dalam kurikulum pendidikan Indonesia.
  9. Memperteguh kebhinekaan dan memperkuat restorasi sosial Indonesia melalui kebijakan memperkuat pendidikan kebhinekaan dan menciptakan ruang-ruang dialog antarwarga.

Terkait dengan program NAWACITA nomor tiga, membangun Indonesia dari pinggiran (daerah pesisir) dan desa-desa, sangatlah tepat mengingat selama ini bahwa sumber daya manusia (SDM) dari pinggiran dan desa-desa kurang mampu bersaing secara nasional maupun regional. Contohnya,  para nelayan dan petani kita tidak mempunyai bekal dengan pengetahuan dan keterampilan teknologi penangkapan ikan atau pengolahan ikan terkini. Tak hanya kuantitas ikan tangkapan mereka yang sedikit, kualitas ikan tangkapan mereka pun rendah karena tidak menggunakan teknologi pengawetan ikan yang baik.

Para petani tradisional yang masih mengandalkan air hujan, sapi/kerbau, dan alat pertanian tradisional pun banyak yang gulung tikar. Banyak di antaranya yang akhirnya memilih menjual lahan pertanian mereka karena pendapatan dari produksi pertanian mereka terus-terusan merosot. Harga panenan mereka dirasa tidak seimbang dibandingkan besarnya biaya pengolahan dan pengadaan pupuk. Mereka kalah bersaing dengan para nelayan-nelayan yang berasal dari luar negeri. Dampaknya kehidupan perekonomian mereka cenderung lemah dan anak-anak mereka cenderung tidak bersekolah karena meneruskan profesi orang tuanya baik menjadi nelayan maupun menjadi petani. Oleh karena itulah, membangun pendidikan dari daerah pinggiran dan pedesaan sangat penting dan sudah tepat sekali untuk meningkatkan SDM unggul dari kedua daerah tersebut.

Program Indonesia Pintar (PIP) merupakan salah satu program NAWACITA pada nomor lima, bahwa untuk meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia melalui peningkatan kualitas pendidikan dan pelatihan dengan program “Indonesia Pintar”. Masyarakat Indonesia sudah merasakan manfaatnya dengan program Indonesia Pintar, khususnya masyarakat yang memiliki anak-anak usia sekolah yang memiliki kesulitan ekonomi. Dengan adanya program Indonesia Pintar, kini terbuka kesempatan luas bagi mereka untuk menikmati sekolah gratis.

Secara operasional, rancangan Kementerian Pendidikan dan Kebudayan–sekarang Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi–adalah anak-anak usia sekolah dari keluarga miskin/rentan miskin/prioritas tetap mendapatkan layanan pendidikan sampai tamat pendidikan menengah, baik melalui jalur pendidikan formal (mulai SD/MI hingga anak lulus SMA/SMK/MA) maupun pendidikan nonformal (Paket A hingga Paket C serta kursus terstandar). Melalui program ini pemerintah berupaya mencegah peserta didik dari kemungkinan putus sekolah, dan diharapkan dapat menarik siswa putus sekolah agar kembali melanjutkan pendidikannya. PIP juga diharapkan dapat meringankan biaya personal pendidikan peserta didik, baik biaya langsung maupun tidak langsung.

PIP disambut hangat oleh masyarakat Indonesia, program ini sangat terasa dan dirasa oleh rakyat Indonesia. Kesempatan mendapatkan pendidikan memiliki hak yang sama sebagai warga negara Indonesia, karena pendidikan untuk semua kalangan.

Pada program NAWACITA nomor delapan lebih implementatif lagi melakukan revolusi karakter bangsa melalui kebijakan penataan kembali kurikulum pendidikan nasional. Hal ini dilakukan dengan mengedepankan aspek pendidikan kewarganegaraan, yang menempatkan secara proporsional aspek pendidikan, seperti pengajaran sejarah pembentukan bangsa, nilai-nilai patriotisme dan cinta tanah air, semangat bela negara, dan budi pekerti dalam kurikulum pendidikan Indonesia.

Ketiga poin penting program NAWACITA selaras dengan program Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang menempatkan tujuan akhir dari pembelajaran adalah terwujudnya Profil Pelajar Pancasila. Profil Pelajar Pancasila sesuai visi dan misi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sebagaimana tertuang dalam dengan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 22 Tahun 2020 tentang Rencana Strategis Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Tahun 2020-2024:

Dengan kata lain, Profil Pelajar Pancasila merupakan bagian dari pelaksanaan program NAWACITA yang telah diimplementasikan oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan.

2. PEMBAHASAN

Penting kiranya, melihat kembali sejarah semangat Revolusi Mental yang dilontarkan pertama kali oleh Presiden Soekarno pada peringatan Hari Kemerdekaan 17 Agustus 1956. Soekarno melihat revolusi nasional Indonesia saat itu sedang jalan di tempat. Padahal, semangat revolusi tujuan yang hakiki adalah kemerdekaan Indonesia, namun pada kenyataannya pada saat itu tujuan tersebut belum tercapai. Revolusi pada zaman kemerdekaan adalah perjuangan fisik (mengangkat senjata), perang melawan penjajah untuk mempertahankan bangsa Indonesia. Setelah bangsa Indonesia merdeka, perjuangan belum berakhir. Revolusi masih terus dilakukan, dengan cara yang berbeda. Kini, perjuangan terpenting yang harus dilakukan adalah membangun jiwa yang merdeka, mengubah cara pandang, pikiran, sikap, dan perilaku bangsa Indonesia.

Setelah ditetapkan sebagai Presiden Republik Indonesia, Ir. Joko Widodo segera bergerak, cepat tanggap, dengan menetapkan program NAWACITA. Program ini dilaksanakan mulai pada semua Kementerian dan lembaga agar sembilan program prioritas tersebut dijalankan.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menyambut baik program NAWACITA dengan menerbitkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tentang Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) pada Satuan Pendidikan formal dengan mereferensi Peraturan Presiden No. 87 Tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2017 Nomor 195).

PPK dilaksanakan dengan menerapkan nilai-nilai Pancasila melalui pendidikan karakter terutama meliputi nilai-nilai religius, jujur, toleran, disiplin, bekerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan bertanggung jawab. Penyelenggaraan PPK menggunakan pendekatan berbasis: kelas, budaya sekolah, dan masyarakat agar lebih optimal.

Religius. Sikap religius mencerminkan keberimanan dan ketakwaan kepada Tuhan yang Maha Esa. Dengan penanaman nilai ini, siswa ditekankan agar menjadi pemeluk agama yang taat tanpa harus merendahkan pemeluk agama lain. Apalagi saat ini sedang diwacanakan kurikulum anti terorisme, seyogyanya kita sambut dengan melatih siswa untuk selalu mengedepankan toleransi antarumat beragama.

Baca juga:   Refleksi 2020 dan Mimpi 2021

Integritas. Integritas artinya selalu berupaya menjadikan dirinya sebagai orang yang bisa dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan. Siswa yang berintegritas akan berhati-hati dalam menjalin pergaulan, sebab kepercayaan yang diberikan teman-temannya itu mahal harganya.

Dengan maraknya praktik bullying (perundungan), sekolah perlu membuat kebijakan tegas bahwa siswa di sekolah harus berkata dan bertindak positif antarteman sebagai bagian dari pembiasaan melatih karakter integritas. Kecurangan dalam menyelesaikan ujian juga dapat dihapuskan dengan menanamkan dan mengimplementasikan nilai integritas melalui PPK. Tak hanya praktik perundungan, praktik-praktik yang bertentangan dengan norma dan hukum juga akan dapat ditekan apabila setiap anak tumbuh menjadi pribadi yang mempunyai integritas.

Mandiri. Mandiri artinya tidak bergantung pada orang lain dan menggunakan tenaga, pikiran, dan waktu untuk merealisasikan harapan, mimpi, dan cita-cita. Mandiri erat hubungannya dengan kesuksesan seseorang. Orang yang hidup mandiri sejak kecil umumnya meraih sukses saat menginjak usia dewasa. Itulah alasan mandiri menjadi karakter terdepan yang harus dimiliki anak sekolah.

Baca juga:   Pendidikan Karakter dan Tafsir Pancasila Tidak Boleh Stagnan

Nasionalis. Nasionalis berarti menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi dan kelompok. Untuk memupuk jiwa nasionalis, perlu dimulai dari hal-hal kecil. Seperti mematuhi peraturan sekolah, menjaga kebersihan lingkungan, dan mengikuti upacara bendera dengan khidmat. Jiwa nasionalis yang tumbuh kuat pada diri peserta didik di masa depan akan menjadi modal penting demi tetap tegaknya negara kesatuan republik Indonesia sekaligus mewujudkan Indonesia sebagai negara yang kuat dan mampu bersaing tidak hanya di tingkat regional, tetapi juga dalam skala global.

Gotong Royong. Gotong royong mencerminkan tindakan menghargai kerja sama dan bahu-membahu menyelesaikan persoalan bersama. Di era digital ini, tradisi gotong royong semakin lama semakin hilang akibat kerasnya tekanan hidup dan gaya hidup yang cenderung cenderung individualis. Kondisi ini tentu bertentangan dengan salah satu kecakapan abad ke-21 yaitu kolaborasi, bekerja sama. Gotong royong merupakan wujud kolaborasi yang telah dipraktikkan nenek moyang kita sejak dulu yang sesuai dengan budaya bangsa Indonesia. Karena itulah, nilai gotong royong harus ditumbuhkembangkan melalui pembiasaan dalam praktik di sekolah, rumah, dan di masyarakat. Di sekolah gotong royong dapat diwujudkan melalui pembiasaan-pembiasaan baik seperti kerja bakti, mengedepankan musyawarah, dan saling menghargai antarteman.

Penanaman kelima nilai utama tersebut harus melibatkan seluruh stakeholder pendidikan mulai dari kelas, sekolah, dinas pendidikan, organisasi masyarakat, dan pemerintah pusat menggerakan agar PPK dapat berjalan dengan baik. Untuk itu, PPK menggunakan tiga pendekatan yaitu pendekatan berbasis kelas, pendekatan berbasis budaya sekolah, dan pendekatan berbasis masyarakat.

Pendekatan berbasis kelas dilakukan dengan cara berikut.

  1. Mengintegrasikan nilai-nilai karakter dalam proses pembelajaran secara tematik atau terintegrasi dalam mata pelajaran sesuai dengan isi kurikulum;
  2. Merencanakan pengelolaan kelas dan metode pembelajaran/ pembimbingan sesuai dengan karakter peserta didik;
  3. Melakukan evaluasi pembelajaran/ pembimbingan; dan
  4. Mengembangkan kurikulum muatan lokal sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik daerah, satuan pendidikan, dan peserta didik

Pendekatan berbasis budaya sekolah dilakukan dengan cara berikut.

  1. Menekankan pada pembiasaan nilai-nilai utama dalam keseharian sekolah;
  2. Memberikan keteladanan antarwarga sekolah;
  3. Melibatkan seluruh pemangku kepentingan pendidikan di sekolah;
  4. Membangun dan mematuhi norma, peraturan, dan tradisi sekolah;
  5. Mengembangkan keunikan, keunggulan, dan daya saing sekolah sebagai ciri khas sekolah;
  6. Memberi ruang yang luas kepada peserta didik untuk mengembangkan potensi melalui kegiatan literasi; dan
  7. Khusus bagi peserta didik pada satuan pendidikan jenjang pendidikan dasar atau satuan pendidikan jenjang pendidikan menengah diberikan ruang yang luas untuk mengembangkan potensi melalui kegiatan ekstrakurikuler

Pendekatan berbasis masyarakat dilakukan dengan cara sebagai berikut.

  1. Memperkuat peranan orang tua sebagai pemangku kepentingan utama pendidikan dan Komite Sekolah sebagai lembaga partisipasi masyarakat yang menjunjung tinggi prinsip gotong royong;
  2. Melibatkan dan memberdayakan potensi lingkungan sebagai sumber belajar seperti keberadaan dan dukungan pegiat seni dan budaya, tokoh masyarakat, alumni, dunia usaha, dan dunia industri; dan
  3. Mensinergikan implementasi PPK dengan berbagai program yang ada dalam lingkup akademisi, pegiat pendidikan, lembaga swadaya masyarakat, dan lembaga informasi.

Pada periode kedua kepemimpinan Presiden Joko Widodo, melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, di bawah kendali Menteri Nadiem Anwar Makarim dengan program Merdeka Belajar, implementasi program NAWACITA dikuatkan dengan Profil Pelajar Pancasila. Profil Pelajar Pancasila adalah perwujudan pelajar Indonesia sebagai pelajar sepanjang hayat yang memiliki kompetensi global dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai Pancasila. Profil Pelajar Pancasila mempunyai enam ciri utama yaitu beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia, berkebinekaan global, bergotong royong, mandiri, bernalar kritis, dan kreatif, seperti ditunjukkan oleh gambar berikut.

Gambar: Profil Pelajar Pancasila

Keenam profil tersebut pada gambar di atas diuraikan sebagai berikut.

  1. Beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia

Pelajar Indonesia yang beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia adalah pelajar yang berakhlak dalam hubungannya dengan Tuhan Yang Maha Esa. Ia memahami ajaran agama dan kepercayaannya serta menerapkan pemahaman tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Ada lima elemen kunci beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia yaitu (a) akhlak beragama; (b) akhlak pribadi; (c) akhlak kepada manusia; (d) akhlak kepada alam; dan (e) akhlak bernegara.

  1. Berkebinekaan global

Pelajar Indonesia mempertahankan budaya luhur, lokalitas, dan identitasnya, serta tetap berpikiran terbuka dalam berinteraksi dengan budaya lain, sehingga menumbuhkan rasa saling menghargai dan kemungkinan terbentuknya dengan budaya luhur yang positif dan tidak bertentangan dengan budaya luhur bangsa. Elemen dan kunci kebhinekaan global meliputi mengenal dan menghargai budaya, kemampuan komunikasi interkultural dalam berinteraksi dengan sesama, dan refleksi dan tanggung jawab terhadap pengamalan kebhinekaan.

  1. Bergotong royong

Pelajar Indonesia memiliki kemampuan bergotong-royong, yaitu kemampuan untuk melakukan kegiatan secara bersama-sama dengan suka rela agar kegiatan yang dikerjakan dapat berjalan lancar, mudah dan ringan. Elemen-elemen dari bergotong royong adalah kolaborasi, kepedulian, dan berbagi.

  1. Mandiri

Pelajar Indonesia merupakan pelajar mandiri, yaitu pelajar yang bertanggung jawab atas proses dan hasil belajarnya. Elemen kunci dari mandiri terdiri dari kesadaran akan diri dan situasi yang dihadapi serta regulasi diri.

  1. Bernalar kritis

Pelajar yang bernalar kritis mampu secara objektif memproses informasi baik kualitatif maupun kuantitatif, membangun keterkaitan antara berbagai informasi, menganalisis informasi, mengevaluasi dan menyimpulkannya. Elemen-elemen dari bernalar kritis adalah memperoleh dan memproses informasi dan gagasan, menganalisis dan mengevaluasi penalaran, merefleksi pemikiran dan proses berpikir, dan mengambil keputusan.

  1. Kreatif

Pelajar yang kreatif mampu memodifikasi dan menghasilkan sesuatu yang orisinal, bermakna, bermanfaat, dan berdampak. Elemen kunci dari kreatif terdiri dari menghasilkan gagasan yang orisinal serta menghasilkan karya dan tindakan yang orisinal.

Pada masa Pandemik Covid 19, menerbitkan Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 719/P/2020 tentang Pedoman Pelaksanaan Kurikulum pada Satuan Pendidikan dalam Kondisi Khusus,  Pelaksanaan Kurikulum pada Kondisi Khusus bertujuan untuk memberikan fleksibilitas bagi Satuan Pendidikan untuk menentukan Kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan pembelajaran Peserta Didik.

Terlepas terbitnya Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tentang Pedoman Pelaksanaan Kurikulum di Satuan Pendidikan dalam Kondisi Khusus di masa Pandemi Covid 19, Menteri Nadiem Anwar Makarim di awal kepemimpinannya sudah berencana menyelaraskan kurikulum dengan semangat NAWACITA. Rencana penerbitan Kurikulum baru lebih kontekstual disesuaikan dengan kekhasan daerah masing-masing dan mengusung kearifan lokal. Cinta tanah air, menanamkan jiwa patriotisme ditanamkan sejak bangku sekolah dasar. Tujuan besar penyederhanaan kurikulum pendidikan adalah mewujudkan Profil Pelajar Pancasila dan  diharapkan pada tahun 2045 menelurkan Generasi Emas Indonesia yang bersaing di kancah global. Identitas sebagai orang Indonesia dimanapun berada tetap mengedepankan nilai-nilai luhur Pancasila.

3. KESIMPULAN

Revolusi mental dengan penguatan pendidikan karakter dan keluarannya diharapkan menciptakan Profil Pelajar Pancasila yang dikembangkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan merupakan upaya nyata untuk mewujudkan program NAWACITA. Program-program lain di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan seiring sejalan dengan program pemerintah untuk menyukseskan program NAWACITA presiden Joko Widodo.

Semoga tercipta SDM unggul yang memiliki jiwa Pancasila dan bangga akan identitas sebagai orang Indonesia di tahun 2045, sebagai kado emas 100 tahun Kemerdekaan Indonesia. (*)

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

Tulisan Terbaru

Komentar Terbaru

Sedang Populer

1,166FansLike
52FollowersFollow