Saturday, December 5, 2020
Beranda Pendidikan Program Organisasi Penggerak dan Dinamikanya

Program Organisasi Penggerak dan Dinamikanya

Abdulah Mukti, M.Pd.
Mahasiswa Doktoral S-3 Manajemen Pendidikan UNY dan Staf Khusus PP Muhammadiyah

Suyanto.id–Pada 10 Maret 2020, Kemdikbud meluncurkan Program Merdeka Belajar Jilid 4, yaitu Organisasi Pengerak. Program ini bertujuan mengajak seluruh organisasi kemasyarakatan bidang pendidikan bergerak bersama secara nyata memajukan pendidikan di Indonesia.

Program monumental yang sangat prestisius ini mendapat perhatian serius dari  masyarakat karena memberi harapan besar untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan penguatan sumber daya manusia. Program ini secara konseptual menginginkan kepemimpinan pembelajaran yang mampu menggerakkan sumber daya yang ada di sekolah, menggerakkan berbagai sumber belajar yang tidak monoton, serta mampu melakukan terobosan-terobosan inovatif dalam proses pembelajaran.



Dari sisi kepala sekolah, Organisasi Penggerak diharapkan mendorong terciptanya atmosfer perubahan di sekolah dengan melibatkan berbagai pihak. Selain itu, program ini mendorong kepala sekolah untuk memastikan guru menjalankan tugasnya dalam mewujudkan pembelajaran yang mampu bergandengan tangan dengan teknologi dan informasi, sehingga digital native dan multitasking siswa terwujud dengan tetap memperkuat karakter dan integritas kebangsaan.

Peran kepala sekolah sangat penting karena pengaruhnya pada kehidupan dan strategi sekolah melakukan perubahan. Sebagaimana diungkapkan Anderson et all (2018) dan Hillmann et all (2017), kepala sekolah harus memiliki keterampilan dan pengetahuan untuk dapat menjawab, tidak hanya proses pembelajaran di sekolah, tetapi juga untuk berkontribusi secara efektif terhadap transformasi masyarakat melalui praktik menjalankan perubahan di sekolah atau kepemimpinan pembelajaran.

Sebagai penggerak perubahan, peranan kepala sekolah tidak akan berjalan optimal jika tidak didukung oleh peranan guru. Proses pembelajaran yang dilakukan guru memiliki dampak nyata terhadap proses perubahan. Guru memiliki peranan utama dalam menghadirkan pendidikan yang mencerdaskan kehidupan bangsa. Dalam sidang Unesco 2015 yang mengangkat tema Recovery Begin with Teachers, Malik Fadjar mengungkapkan, jika menginginkan perubahan bangsa ini, dimulai dari proses pembelajaran di kelas dan sekolah.

Dinamika di Masyarakat

Tanggal 23 Juli 2020, Kemdikbud merilis daftar organisasi yang terpilih dalam program Organisasi Penggerak. Sebanyak 183 proposal dari 156 organisasi dinyatakan layak mendapatkan bantuan total 595 miliar. Organisasi yang mendapat bantuan terbagi menjadi tiga, yaitu kijang, macan, dan gajah yang masing-masing mendapat alokasi anggaran 1, 5, dan 20 miliar.

Baca juga:   Gebrakan Kepala Sekolah Kunci Sukses PPDB

Pengumuman organisasi terpilih ini ternyata menimbulkan gejolak di masyarakat. Kritikan timbul terkait nama-nama organisasi yang lolos, di antaranya terdapat lembaga CSR yang sepatutnya membantu dana pendidikan, bukan mendapatkan bantuan. Kritikan masyarakat ini juga diikuti oleh protes keras dari DPR, di mana kriteria pemilihan peserta Organisasi Pengerak pun dipertanyakan dan dianggap tidak transparan.

Organisasi yang selama ini konsern dan memiliki rekam jejak panjang di bidang pendidikan, bahkan jauh sebelum Indonesia merdeka, dipandang tidak diakomodasi secara proporsional. Kebijakan yang digadang-gadang menjadi terobosan inovatif dan solutif ini pun dipandang kurang mempertimbangkan aspek historis dan rekam jejak di bidang peningkatan sumber daya manusia melalui pendidikan.

Bukan di Ruang Kosong

Pendidikan di Indonesia bukan berada di ruang kosong, baru, dan akan, namun telah berjalan bahkan sejak sebelum Indonesia merdeka. Oleh karenanya, perancangan program semestinya tidak meniadakan kontribusi nyata yang sudah berjalan, tidak dapat pula mengabaikan kondisi sekolah yang multikultur, memiliki keanekaragaman bentuk, corak, dan lintasan historis.

Semestinya pengambil kebijakan mampu mereformulasikan reformasi pendidikan yang konfiguratif, berkolaboratif, dan bersinergi karena kekayaan khazanah pendidikan Indonesia telah banyak bukti dan torehan karya nyata, agar berkesinambungan dan tidak ahistoris. Sayang, beribu sayang, hal itu tidak dilakukan dengan baik, sehingga terdapat kesan organisasi kemasyarakatan, bahkan akademisi yang sudah memiliki pengalaman nyata kurang dilibatkan.

Baca juga:   Realisasi Merdeka Belajar dan Guru Penggerak di Era Otonomi Daerah

Mundurnya Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah Pimpinan Pusat Muhammadiyah dan Lembaga Pendidikan Ma’arif NU PBNU sebagai organisasi penggerak yang sebenarnya lolos dalam program tersebut, merupakan kode keras bagi pengambil kebijakan. Keberadaan Muhammadiyah, Taman Siswa, dan Nahdlatul Ulama dalam proses panjang bangsa dan pendidikan tidak bisa diabaikan begitu saja.

Dengan adanya dinamika ini, sudah waktunya Mas Mentri melepaskan ego-ego “masa depan”-nya, sebagaimana ungkapannya sebelum menjabat, “Saya tidak tahu masa lalu, tapi saya tahu masa depan”. Bagaimanapun juga, kontribusi Muhammadiyah, Taman Siswa, dan Nahdlatul Ulama sejak sebelum Indonesia merdeka dalam melahirkan negeri tercinta dan berbuat nyata untuk pendidikan di Indonesia tidak dapat dipandang sebelah mata.

Semoga ada hikmah dan pelajaran dari kejadian ini. (*)

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

Tulisan Terbaru

Kesiapan menjadi Kampus Merdeka

1

Indonesia Tanah Air Beta

Ibuku, Guruku

Catatan Seorang Guru

4

Komentar Terbaru

Sedang Populer

1,071FansLike
46FollowersFollow