Monday, November 30, 2020
Beranda Buku Ramadhan di Tengah Wabah Covid-19

Ramadhan di Tengah Wabah Covid-19

Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed.
Dr. Ahmad Hasan Asy’ari Ulama’i, M.Ag.

Suyanto.id–Sejak Januari 2020, pandemi Covid-19 belum mereda. Bahkan, menurut prediksi para ahli epidemiologi, puncak penyebaran Covid-19 akan terjadi pada akhir April sampai Mei 2020. Para ahli Ilmu Falak memperkirakan puasa Ramadhan 1441 H akan dilaksanakan selama 30 hari (24 April-23 Mei 2020). Idul Fitri (1 Syawal 1441 H) bertepatan 24 Mei 2020. Rangkaian Ramadhan berlangsung di tengah puncak pandemi Covid-19.

Mengingat perkembangan dan memaksimalkan penanganan, pemerintah menetapkan wabah Covid-19 sebagai bencana nasional. Pemerintah memberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang di dalamnya terdapat pembatasan mobilitas dan berbagai kegiatan yang melibatkan pertemuan fisik di ruang publik. Sebagai warga negara, umat Islam berkewajiban mematuhi aturan-aturan Pemerintah dan hukum yang berlaku di Indonesia. Sesuai Qs. An-Nisa (4): 59, Pemerintah termasuk ulil amri yang—menurut para ahli tafsir—harus dipatuhi sepanjang tidak menyangkut hal-hal yang bertentangan dengan agama dan undang-undang.

Tulisan sederhana ini kami susun sebagai “perspektif”, bukan “panduan” atau “pedoman” dalam melaksanakan amalan Ramadhan. Pertama, kami menyadari adanya para ulama yang memiliki manhaj dan ijtihad yang berbeda. Kedua, walaupun kami berdua menjadi pimpinan Muhammadiyah, tulisan ini merupakan pandangan pribadi, bukan keputusan resmi organisasi. Ketiga, kami adalah manusia biasa yang awam dalam ilmu agama dan tidak memiliki kompetensi memberikan fatwa. Kami memberanikan diri menulis “perspektif” ini dengan harapan dapat memperkaya khazanah pemikiran keislaman. Selain manhaj dan madzhab yang sudah berkembang, “perspektif” ini semoga bisa menjadi alternatif dalam umat melaksanakan amalan Ramadhan.

Di dalam tulisan ini kami jelaskan amalan yang merupakan Syariah/Sunnah dan syiar Ramadhan yang dilaksanakan oleh masyarakat sebagai bagian dari tradisi keagamaan. Syariah/Sunnah amalan yang bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah yang sahih sebagai hujjah di dalam beribadah. Sedangkan syiar adalah amalan yang merupakan tradisi keagamaan yang melekat di dalam amalam Ramadhan yang dikembangkan oleh masyarakat. Syariat mengikuti hukum-hukum Allah. Tradisi mengikuti nilai dan norma sosial dan adat istiadat suatu masyarakat.

Baca juga:   Perbedaan antara Covid-19 dengan Bakteri

Secara umum tulisan ini membahas lima kajian yaitu (a) keutamaan Ramadhan, (b) tarhib Ramadhan, (c) puasa Ramadhan, (d) shalat Tarawih, dan (e) I’tikaf. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

Tulisan Terbaru

Indonesia Tanah Air Beta

Ibuku, Guruku

Catatan Seorang Guru

4

Fragmen Pohon dan Rimba

Komentar Terbaru

Sedang Populer

Catatan Seorang Guru

Fragmen Pohon dan Rimba

Pendidikan pun Butuh Sentuhan

1,071FansLike
45FollowersFollow