Sunday, February 28, 2021
Beranda Gagasan Ilmiah Populer Refigurisasi Guru sebagai Pemimpin Pendidikan yang Mulia

Refigurisasi Guru sebagai Pemimpin Pendidikan yang Mulia

Oleh Albert Efendi Pohan
Mahasiswa Doktoral Manajemen Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta

Suyanto.id–Berdasarkan sudut pandang, cara pandang, dan jarak pandang yuridisial, guru merupakan kompenen pendidikan yang sangat penting dalam penyelenggaraan pendidikan di Indonesia. Tanpa guru, pendidikan dipastikan tidak akan berjalan secara epistemik untuk mencapai tujuan pendidikan itu sendiri. Untuk itu, upaya-upaya manageable (terencana, terorganisir, terlaksana secara tuntas, terkendali, dan terukur) perlu dilakukan untuk mengoptimalkan fungsi dan peranan guru dalam mempersiapkan generasi bangsa yang memiliki multi talenta, unggul, dan berprilaku manusia sesuai dengan indikator Tuhan.

Figuritas guru pada dasarnya adalah sosok yang terpuji karena kemuliaan amanah yang diembannya sebagai pengajar, pendidik, pembimbing, pemercontoh, dan pendorong kemajuan dan motivasi belajar peserta didiknya dengan nurani. Dengan demikian, jargon “Guru adalah Pahlwan Tanpa Tanda Jasa” masih tetap berlaku terhadap identitas sosial guru tersebut sepanjang hayatnya. Hal ini karena pengabdian, perhatian, pemikiran dan pikiran, kebijaksanaan, dan curahan kasih sayang guru dalam mendidik peserta didiknya tidak bisa diukur dengan materi. Namun. hal itu perlu dihargai dengan sikap simpati dan empati oleh masyarakat dan pemerintah sebagai pemegang kebijakan sehingga keberadaan guru di tengah-tengah masyarakat tetap terpandang sebagai manusia yang terhormat dan mulia.

Tidak bisa dipungkiri bahwa belakangan ini gradasi kehormatan guru di Indonesia mengalami perubahan lateral dan perubahan radian, baik dari sudut pandang pemerintah, masyarakat, maupun diri guru itu sendiri. Tidak jarang pandangan keliru sering dialamatkan kepada guru sebagai profesi yang tidak menjanjikan asas-asas kebahagian hidup manusia di Indonesia oleh generasi bangsa ini. Pandangan ini lahir dari persepsi masyarakat yang melihat tingkat kesejahteraan dan penghasilan guru yang sangat rendah. Bahkan, lebih rendah dari pada penghasilan seorang yang tidak bersekolah dan bekerja sebagai tukang sapu di jalanan. Guru dipandang sebagai lapisan masyarakat miskin, papa, dan bahkan tidak pernah merasakan kebahagiaan hidup lahir dan batin.

Selanjutnya, guru juga sering menjadi bahan perbincangan nasional karena kompetensi yang dimiliki guru yang masih rendah diukur oleh berbagai lembaga yang tidak pernah menjadi guru. Berbagai mata panah kritik dialamatkan kepada guru, termasuk hasil-hasil temuan para peneliti yang sering mengindikasikan bahwa guru sebagai tenaga yang bukan profesional. Namun, pemerintah, masyarakat, dan pelaku usaha di Indonesia kurang menyadari bahwa mereka adalah termasuk pihak yang paling rendah inisiatifnya untuk meningkatkan kesejahteraan guru di Indonesia. Hal ini dibuktikan dengan perbandingan penghasilan guru Indonesia dengan berbagai negara di dunia bahwa guru Indonesia termasuk paling rendah. Mirisnya lagi, apapun yang salah dengan prilaku peserta didik baik di lingkungan sekolah maupun masyarakat, guru pasti akan dikumandangkan tidak beres mengerjakan tugasnya.

Deskripsi dan illustrasi di atas harus dilawan dengan refigurisasi guru sebagai pemimpin pendidikan yang sangat mulia. Guru harus mampu membuktikan bahwa guru Indonesia merupakan aset bangsa yang paling besar dan paling berharga kepada bangsa dan negara, masyarakat, dan pelaku dunia usaha. Meskipun pelaku dunia usaha sering menuntut kualitas yang baik dari pendidikan, namun partisipasi dan sumbangsih mereka sangat rendah dibandingkan pelaku usaha/swasta di negara lain. Data yang dirilis OECD bahwa kontribusi sektor swasta tidak lebih besar dari 4%. Namum, mereka menjadi pihak yang pertama menikmati hasil kinerja para guru melalui kompetensi yang ditemapa pada tiap lulusan.

Baca juga:   Pendidik Profesional di Masa Pandemi

Guru harus bangkit dan menghidupkan konsep berpikir radian, mendasar, spekulatif, dan kritis agar mampu mengoptimalkan peranan dan fungsi dirinya sebagai tenaga pengajar yang andal. Dengan demikian, kehormatan guru sesuai dengan yang semestinya bisa dihidupkan kembali pada figur-figur guru Indonesia. Guru tidak boleh tampak sebagai insan yang fakir, miskin, serta papa karena penghasilan yang sedikit. Guru harus menjadi orang terhormat, terpandang, dan memiliki pengaruh yang kuat, baik di masyarakat maupun di sekolah. Guru tidak boleh berpenampilan kusut, kumuh, dan lesuh, guru harus berpenampilan menawan dan terhormat di tengah-tengah masyarakat. Untuk itu, guru harus mampu membagi waktu untuk berwirausaha sebagai tambahan penghasilan agar tidak menggantungkan harapan kepada pihak-pihak yang benar-benar sudah terbukti gagal mensejahterahkan guru bangsa ini. Guru harus mampu move-on dari berharap kepada yang tidak bisa memberi karena potensi guru sangat besar untuk mengubah nasib dan level kesejahteraannya sendiri.

Guru harus mampu melakukan resistemisasi pelaksanaan tugas pokoknya di era digital ini dengan kemampuan memimpin pihak-pihak yang terkait dengan baik terhadap tugas-tugas sebagai guru. Guru harus meningkatkan keterampilan memanejemen tugas-tugasnya dengan seefektif mungkin. Melakukan tugas pokok secara terencana, terorganisasi, terlaksana secara tuntas, terkendali, dan terukur dengan indikator acuan yang berlaku sehingga profesionalitas sebagai guru tidak tergadaikan dengan urusan lain. Melakukan berbagai best practice yang tidak hanya dilakukan di ruangan kelas, tetapi juga sudah harus berdampak pada keefektifan menyelesaikan masalah yang terjadi di kelas dan juga bernilai ekonomis yang berdampak pada peningkatan penghasilan guru. Misalnya, guru multimedia, selain mengajar juga bisa membuka usaha percetakan dan jasa periklanan. Guru bahasa Inggris membuka layanan bimbingan bahasa Inggris berbasis digital dan calling home digitally. Guru bahasa Indonesia, membuka café literasi dan menjadi guru YouTuber yang kreatif. Tentu semua guru memiliki kesempatan untuk berwirausaha di era teknologi dan komunikasi ini.

Baca juga:   Di Ujung Rotan Ada Emas

Di samping langkah-langkah di atas, guru harus membangun relasi global untuk mengetahui konsep-konsep mutakhir yang diterapkan oleh guru-guru dari berbagai negara maju bagaimana mereka meningkatkan profesionalisme dan kesejahteraan mereka. Hal yang harus dihindari pada saat ini adalah berharap dan memohon banyak kepada pemerintah dan sektor swasta yang sudah terbukti gagal mensejahterahkan guru dengan kebijakan yang arif. Dengan melakukan hal tersebut, guru tidak dipandang sebelah mata oleh pihak-pihak yang paling membutuhkan buah tangan guru-guru Indonesia, tetapi menjadi figur yang ideal sebagai pemimpin pendidikan yang berjasa mulia. (*)

2 KOMENTAR

  1. Pemerintah memiliki peran yang dominan dalam mensejahterakan guru, selain juga pihak swasta yang berkepedulian. Misalnya ketika pemerintah mengganti kurikulum dengan mengadopsi sistem kurikulum dari negara lain, tidak dilakukan secara totalitas. Maksudnya tidak disertai dengan mengadopsi sistem penggajiannya. Hanya model kurikulumnya yang diadopsi, walaupun sebenarnya belum terbukti cocok untuk diterapkan di Indonesia.
    Realitas alamiahnya, sudah banyak guru yang berwirausaha untuk mencukupi kebutuhan hidupnya. Misalnya dengan bertani, berdagang, atau profesi lain yang bisa dilakukan diluar waktu dinasnya. Hal itu tak lain karena gajinya yang tergolong minim.

    • Peranan swasta terhadap pendidikan Indonesia sangat rendah jika kita lihat data yang dirilis oleh OECD. Sedangkan kita lihat konsep akenomi di Indonesia bukan sosialis, tapi over kapitalis. Karena kurang lebih 85% kekayaan diindonesia hanya dimiliki oleh segelintir orang saja (nol koma persen). Mestinya, kontribusi pihak swasta lebih baik dibanding dengan pihak swasta negara seperti Australia negara yang pihak swastanya sangat berkontribusi terhadap pendidikan, Amerika, dan German padahal di sana juga kapitalis dan sekitar 50% penguasa pemilik modal swasta.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

Tulisan Terbaru

Hari yang Dijanjikan

Menangis adalah Hak

Problematika Terurai

Kilasanmu Ayah

Komentar Terbaru

Sedang Populer

Menangis adalah Hak

Kilasanmu Ayah

Problematika Terurai

1,160FansLike
46FollowersFollow