Wednesday, January 20, 2021
Beranda Pendidikan Refleksi 2020 dan Mimpi 2021

Refleksi 2020 dan Mimpi 2021

Dr. Romi Siswanto
Ketua IKA S3 Universitas Negeri Yogyakarta

Refleksi 2020

Virus korona (Covid-19) yang datang dari Wuhan Cina merupakan wabah yang luar biasa dampaknya bagi seluruh dunia. Kasus Covid-19 di Indonesia dari pertengahan Maret 2020 sampai dengan tulisan ini  ditulis (Desember 2020) masih belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Akibatnya, segala aktivitas seperti ekonomi, pendidikan, sosial, dan budaya terhenti sementara. Aktivitas berserikat dan sosial pun dibatasi oleh pemerintah yang kita kenal sebagai Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) atau di dunia lebih dikenal  dengan istilah lockdown.

Covid-19 selain menjadi pandemi yang menakutkan, juga menciptakan peradaban baru. Hal ini terjadi karena aktivitas sosial manusia dibatasi sehingga mau tidak mau mereka harus bertemu dan bersosialisasi di dunia maya melalui sambungan internet.  Berbagai pekerjaan yang selama ini dilakukan melalui tatap muka harus diselesaikan dengan cara online. Tak terkecuali pekerjaan dan atau pembelajaran di sekolah juga harus dapat diselesaikan/dituntaskan secara online. Hasilnya efektif atau tidak, tetap diselesaikan dengan cara online.

Salah satu aktivitas yang sangat menjadi perhatian masyarakat di tengah pandemi ini adalah bidang kesehatan. Masyarakat silih berganti harus menjalani serangkaian tes kesehatan terkait Covid-19, seperti swab dan rapid test. Masyarakat yang terindikasi terpapar Covid-19 diwajibkan melakukan karantina di rumah atau di rumah sakit yang telah ditentukan oleh pemerintah.

Seiring dengan bertambahnya pemahaman dan pengetahuan tentang Covid-19, ada sedikit toleransi untuk melakukan aktivitas sosial. Yang penting harus menerapkan protokol kesehatan secara ketat seperti menjaga jarak, mencuci tangan, dan memakai masker. Ketiganya dikenal dengan istilah 3 M. Di beberapa daerah bahkan dunia pendidikan (baca: sekolah) sudah diperbolehkan melakukan aktivitas pembelajaran dengan tatap muka. Lagi-lagi juga harus menerapkan protokol kesehatan yang ketat. Meski demikian, ada juga yang mengombinasikan antara pembelajaran online dan tatap muka.

Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) merupakan pembelajaran yang mengombinasikan antara tatap muka dan online/dalam jaringan. Ada beberapa penyelenggara pendidikan yang melakukan kesalahan dalam menerapkan PJJ dengan beranggapan bahwa PJJ adalah pembelajaran online. Akibatnya, ada siswa yang secara ekonomi atau infrastruktur belum atau tidak dapat mengakses internet tidak dapat mengikuti pembelajaran secara online.

Seharusnya, siswa yang tidak dapat mengikuti pembelajaran online berhak mendapatkan materi dan proses pembelajaran yang sama dengan siswa yang melakukan pembelajaran online. Guru atau pihak sekolah dapat melakukan kunjungan ke rumah siswa (home visit) atau yang lebih populer dengan sebutan Guru Kunjung dalam melakukan pembelajaran.

Pengalaman saya sebagai orang tua dalam melakukan pembelajaran online (kebetulan kami bisa melakukan pembelajaran online), pada awal pemberlakuan pembelajaran sangat menyenangkan. Kami dapat langsung mendampingi anak belajar dari rumah. Hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan; perjuangan yang luar biasa dalam mendampingi anak-anak kami belajar secara online. Aktivitas ini menyadarkan kami sebagai orang tua betapa luar biasanya tugas dan tanggung jawab profesi seorang guru. Mereka harus memahami keinginan dan pemikiran banyak anak. Meski mengampu beberapa kelas dan tiap kelas terdiri dari puluhan siswa, bapak dan ibu guru tetap dengan sabar mendampingi anak-anak untuk menuntaskan setiap materi pembelajarannya.

Keterbatasan sebagian besar orang tua adalah tidak mempunyai bekal ilmu pedagogi (pedagogik adalah seni atau ilmu bagaimana menjadi seorang guru, dalam hal ini sangat berkaitan erat dengan pengajaran). Mereka tidak paham bagaimana cara mengajar yang baik; bagaimana mendampingi anak menyelesaikan materi dengan baik. Wajar karena pendidikan dan keahlian orang tua sangat beragam. Untuk pembelajaran akademik tidak banyak orang tua yang dibekali ilmu pedagogi, kecuali mereka yang kuliah di jurusan Ilmu Pendidikan

Dua bulan terakhir ini merupakan titik jenuh terhadap pembelajaran online, baik orang tua maupun anak-anaknya. Kami merasakan bahwa anak-anak merindukan teman-temannya, guru-gurunya, dan lingkungan sekolahnya. Kondisi ini terasa cukup berat kami rasakan sebagai orang tua.

Tanpa kita sadari, pandemi Covid-19 ini, telah mengembalikan anak-anak pada madrasah pertamanya, yaitu rumah, kembali bertemu guru pertamanya, yaitu ibu. Bagaimana anak-anak pertama kali belajar makan, belajar berbicara, belajar merangkak, belajar berjalan dan belajar segala hal bersama ibunya. Semua proses di atas berlangsung dengan naluri seorang ibu. Naluri yang kemudian diasah dan diajarkan oleh orang tuanya terdahulu (kakek/nenek) atau dengan lingkungannya.

Pandemi Covid-19 ini juga merupakan kesempatan bagi orang tua untuk memberikan contoh-contoh yang baik terhadap anak-anaknya. Selama ini kita sadari anak-anak selama delapan jam sehari berada di sekolah belajar karakter dengan guru-gurunya serta lingkungan sekolahnya. Pandemi ini merupakan kesempatan yang baik untuk menanamkan karakter kepada anak menebus kealfaan kita sebagai orang tua. Orang tua dapat memanfaatkan pandemi ini dengan menciptakan habituasi positif seperti makan bersama, membersihkan pekarangan atau ruangan, salat berjamaah, mengaji, belajar bersama, dan masih banyak aktivitas baik lain yang dapat dilakukan secara bersama-sama. Kegiatan tersebut merupakan kebiasaan  baik yang ditanamkan kepada anak agar kelak mereka siap dalam menghadapi masa depannya.

Baca juga:   Pendidikan di Masa Sulit

Mimpi 2021

Pendidikan merupakan fundamen dalam membenahi kehidupan beragama, bersosialisasi, berbangsa, dan bernegara. Dengan pendidikan, manusia akan memiliki kecerdasan akademik, sosial, dan spritual sehingga tercipta kehidupan yang damai. Pendidikan mampu merekontruksi pola pikir kehidupan manusia menjadi lebih baik.

Masa depan Indonesia salah satunya ditentukan oleh siswa-siswi yang sedang duduk di bangku Sekolah Dasar. Oleh karena itu, pembentukan karakter siswa indonesia yang kuat merupakan sebuah keharusan. Pendidikan karakter yang ditanamkan banyak mengangkat kearifan lokal daerahnya. Sudah seharusnya, sejak kecil kepada mereka sudah ditanamkan rasa bangga akan keunggulan lokal daerahnya. Memberikan mimpi yang kelak dapat mereka gapai juga sangat penting. Banyak cerita rakyat seperti legenda atau cerita religi yang dapat memotivasi siswa dalam menggapai mimpinya.

Kita ketahui bersama banyak peristiwa memprihatinkan dalam dunia pendidikan beberapa tahun terakhir ini, seperti perundungan (bullying), perkelahian antarpelajar di sekolah itu sendiri atau antarsekolah. Permasalahan ini erat sekali kaitannya dengan pendidikan karakter.

Baca juga:   Covid-19 Goyang Pendidikan, Perlu Kurikulum Adaptif

Semua itu membuat saya membangun mimpi-mimpi yang ingin saya wujudkan di tahun 2021.

Kelas Rendah Diajar oleh Guru Hebat (Inovatif, Kreatif, Inspiratif, dan Dedikatif)

Kelas satu, dua, dan tiga atau yang kita sebut dengan kelas rendah ini merupakan pondasi pendidikan kita. Berawal dari sinilah masa depan siswa Indonesia tercipta. Mempersiapkan siswa kelas rendah dengan baik akan mempermudah untuk mempersiapkan masa depan berikutnya.

Mimpi saya, kelas rendah ini wajib diajar oleh guru-guru yang hebat, yang komitmennya tinggi, yang bertanggung jawab terhadap kemajuan siswa satu per satu secara akademik. Di tangan guru hebat ini biasanya tercipta anak-anak dengan prestasi yang luar biasa. Seperti contoh anak-anak yang belum lancar membaca, belum lancar berhitung, dan atau aktivitas belajar lainnya. Masalah tersebut merupakan sebuah tantangan bagi guru hebat dan bukan menjadi sebuah masalah. Mereka terbiasa mencari jalan keluar dalam memecahkan masalah tersebut, bukan mengeluh dan lari dari masalah.

Apabila anak-anak dipersiapkan dengan baik di kelas rendah, sproses belajar mengajar untuk tingkatan selanjutnya akan lebih lancar dan lebih mudah. Siswa tidak lagi menjadi beban di kelas tinggi maupun nanti jenjang pendidikan menengahnya. Beberapa kejadian kita temui di daerah Indonesia, ada siswa kelas empat atau lima belum dapat membaca atau berhitung. Ini merupakan salah satu dampak siswa tidak atau kurang dipersiapkan dengan baik pada kelas rendahnya.

Menyediakan Bahan Bacaan Kearifan Lokal secara Elektronik

Secara kuantitatif sekolah-sekolah di Indonesia minim koleksi bacaan di perpustakaannya. Hal ini menyebabkan siswa-siswa menjadi malas untuk pergi ke perpustakaan karena koleksi bukunya itu-itu saja alias tidak up to date. Salah satu mimpi saya di tahun 2021 adalah ingin memiliki database cerita yang berasal dari 516 kabupaten/kota di Indonesia, diklasifikasikan berdasarkan usia baca anak yang dianjurkan UNESCO.

Cerita-cerita tersebut dapat berupa cerita legenda, cerita religi, cerita tokoh pahlawan, atau cerita yang menarik lainnya yang mengangkat kearifan lokal daerah tersebut. Kebanggaan anak-anak Indonesia pada daerahnya sendiri akan memotivasi mereka untuk memiliki banyak mimpi membangun daerahnya agar menjadi lebih baik lagi. Alangkah indahnya apabila kita memiliki database cerita dari 516 kabupaten/kota yang menarik atau semacam perpustakaan terbuka yang dapat dibaca oleh masyarakat luas!

Pengetahuan tentang pendidikan, sosial, dan budaya di 516 kabupaten/kota dapat tersaji dan diakses melalui perpustakaan terbuka ini.

Membaca Masuk dalam Sistem Pembelajaran

Membaca merupakan kebutuhan bagi kita semua. Informasi penting maupun tidak penting, kita dapat dari membaca. Mimpi saya tentang membaca adalah membaca masuk dalam mata pelajaran, dalam sistem pembelajaran. Apabila masuk dalam sistem pembelajaran, mau tidak mau suka tidak suka, kegiatan membaca menjadi wajib dilakukan. Mimpi saya, membaca menjadi habituasi yang diciptakan sedari kecil, membaca menjadi bagian hidup yang tidak terpisahkan setiap pelajar Indonesia. Mimpi saya, membaca dilakukan pada satuan pendidikan Sekolah Dasar. Dalam satu hari ada waktu membaca, menceritakan kembali isi cerita dan membuat kesimpulan dalam cerita tersebut.

Mengapa harus di SD? Pada bagian di atas sudah dibahas bahwa fundamental, tatanan dasar pendidikan formal di Indonesia adalah di Sekolah Dasar.

Untuk mewujudkan mimpi saya menciptakan minat baca menjadi sebuah kebutuhan berawal dari membaca masuk dalam satu sistem pembelajaran. Apabila membaca sudah menjadi kebutuhan setiap anak Indonesia, sistem ini dapat dilepas. Karena, saat membaca telah menjadi kebutuhan, di mana pun anak Indonesia berada, pasti mereka tidak dapat lepas dari membaca (baik buku cetak maupun digital). Dan benarlah bahwa membaca membuka cakrawala dunia. Amiin. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

Tulisan Terbaru

Mamuju

Tresna Tanpa Syarat

Tepuk Dada

Komentar Terbaru

Sedang Populer

1,145FansLike
46FollowersFollow