Sunday, May 16, 2021
BerandaGagasan Ilmiah PopulerRefleksi Dunia Pendidikan di Masa Pandemi Covid-19

Refleksi Dunia Pendidikan di Masa Pandemi Covid-19

Dr. Romi Siswanto
Fungsional Perencana Muda pada Ditjen GTK Kemdikbud, Ketua IKA S3 MP Universitas Negeri Yogyakarta

Suyanto.id–Dunia pendidikan sedang menghadapi kondisi yang belum pernah terjadi di Indonesia, yaitu wabah corona atau Covid-19. Dampak wabah ini menjadi demikian terasa setelah diterapkannya kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Semua aktivitas pun harus dilakukan di rumah, baik guru maupun siswa.

Bagaimana dunia pendidikan menghadapi kondisi tersebut? Mari kita cermati beberapa prilaku warga sekolah akibat darurat Covid-19. Pertama, guru adalah perangkat pendidikan yang paling siap dalam menghadapi kondisi darurat Covid-19 ini karena sudah terbiasa melakukan pembelajaran yang inovatif dan kreatif. Mungkin masih ada guru yang kebingungan, tetapi saya rasa jumlahnya tidak banyak.



Saat ini sudah banyak perangkat/sistem pembelajaran daring, baik yang disediakan pemerintah maupun swasta. Semua dapat dimanfaatkan guru untuk pembelajaran dari rumah. Kendalanya mungkin kesulitan sinyal, akses listrik yang masih terbatas, atau jarak guru dengan siswa terlalu jauh sehingga tidak bisa melakukan pembelajaran langsung.

Kedua, siswa, dalam kondisi ini ada siswa yang senang dan ada yang sedih. Namun demikian, aktivitas belajar tetap dilakukan, baik secara daring maupun mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh guru secara langsung. Pembelajaran di rumah mencerminkan kolaborasi yang cukup kuat antara guru, siswa, dan orang tua. Menurut pandangan penulis, ini adalah pola baik yang harus terus dibangun.

Ketiga, orang tua, dalam kondisi darurat ini, yang paling tidak siap adalah orang tua. Mengapa demikian? Seperti yang dialami penulis maupun hasil pengamatan kepada orang tua secara umum, kemampuan akademik orang tua sangatlah beragam. Kondisi ini sangat menyulitkan dalam menghadapi pertanyaan-pertanyaan anak, apalagi untuk anak-anak yang duduk di bangku kelas 7 ke atas. Mata pelajaran yang dirasa sulit dipahami adalah sains dan matematika.

Dalam kondisi normal, anak belajar di rumah mungkin dua jam sudah cukup. Sebagaimana yang saya terapkan, anak belajar selepas Maghrib (sekitar pukul 18.15) sampai dengan pukul 20.00 WIB. Nah, pada kondisi darurat Covid-19 ini orang tua yang juga bekerja di rumah harus mendampingi anaknya belajar. Di keluaga saya yang bersekolah ada lima orang, 1 di SMP dan 4 di SD. Saya menyadari, setiap anak, baik kemampuannya, kemauannya, maupun gaya belajarnya berbeda. Saya dihadapkan dengan kondisi yang menuntut perjuangan yang cukup berat.

Baca juga:   Social Distancing Covid-19

Hikmah yang dapat diambil sebagai orang tua dari darurat Covid-19 ini adalah saya sebagai orang tua menyadari betul betapa luar biasa perjuangan bapak dan ibu guru dalam mendidik anak-anak. Refleksi atas keterbatasan orang tua harusnya berdampak pada penghargaan pada jasa guru.

Berangkat dari kondisi di atas, banyak hal yang harus dilakukan dalam dunia pendidikan kita, misalnya bagaimana cara yang paling efektif untuk melakukan pembelajaran dalam kondisi darurat. Kondisi darurat perlu ada altenatif model pembelajaran, seperti dengan model blended learning (tatap muka dan pembelajaran jarak jauh/dalam jaringan). Praktiknya, bisa mencoba dalam lima atau enam hari sekolah ada satu atau dua hari belajar di rumah mengerjakan tugas sekolah mungkin seperti Project Base Learning yang dikaitkan dengan materi mata pelajaran masing-masing dan dikerjakan kelompok atau individu dan mengikutsertakan anggota keluarga.

Baca juga:   Herd Immunity

Dalam kondisi apapun, pedidikan dan pembelajaran harus tetap berjalan karena akan menentukan nasib masa depan sebuah bangsa. Dalam masa darurat ini, banyak langkah-langkah inovatif yang menurut penulis bisa dilakukan, di antaranya sebagai berikut.

Pertama, jika ditemui siswa kesulitan terkoneksi teknologi informasi, perlu ada perjuangan seorang guru yang rela mendatangi siswa ke rumah, memberi tugas-tugas pelajaran agar pembelajaran tetap berjalan.

Kedua, jika siswa sudah terfasilitasi dengan teknologi informasi, guru dapat memberikan proyek pelajaran, baik melalui SMS, WhatsApp (WA), maupun media lain. Melalui grup WA, guru bisa memberikan proyek kelompok ke siswa, maksimal lima orang per kelompok. Pada proses pembelajaran, banyak yang dapat dilakukan oleh guru, misalnya video conference, video call, dan atau pembuatan video tutorial sehingga interaksi guru dan peserta didik dapat berjalan dengan baik.

Ketiga, jika terkendala secara geografis, guru dapat memberikan pembelajaran melalui radio bekerjasama degan radio pemerintah maupun swasta. Media ini efektif bagi daerah yang masih kesulian akses internet.

Semoga virus Covid-19 segera lenyap dari muka bumi, kondisi darurat pendidikan ini segera berakhir, dan kita dapat melakukan aktivitas normal kembali. Saya secara pribadi atau mewakili orang tua Indonesia mengucapkan terimakasih kepada bapak dan ibu guru yang telah mendidik anak kami dengan baik. (*)

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

Tulisan Terbaru

Komentar Terbaru

Sedang Populer

1,166FansLike
52FollowersFollow