Wednesday, January 20, 2021
Beranda Psikologi Pendidikan Religiositas: Konsep, Pengukuran, dan Implementasi di Indonesia

Religiositas: Konsep, Pengukuran, dan Implementasi di Indonesia

Oleh Prof. Bambang Suryadi, Ph.D.

Pidato Pengukuhan Guru Besar Bidang Psikologi Pendidikan dan Konseling Fakultas Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Yang Terhormat

  1. Menteri Agama Republik Indonesia, Bapak K.H. Yaqut Cholil Quomas beserta jajarannya
  2. Ketua dan Sekretaris Senat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. Dr. Abuddin Nata dan Prof. Dr. Armai Arief
  3. Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. Dr. Hj. Amany Lubis, MA
  4. Dewan Guru Besar
  5. Para Dekan Fakultas dan Direktur Sekolah Pascasarjana
  6. Para Ketua Lembaga dan Kepala Pusat
  7. Para Ketua dan Sekretaris program Studi
  8. Tamu kehormatan yang tidak disebutkan satu persatu
  9. Kolega dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa
  10. Tamu undangan dan hadirin yang berbahagia

Marilah kita panjatkan puji syukur kepada Allah SWT yang telah memberikan nikmat yang tak terhingga sehingga kita bisa menyelenggarakan acara pengukuhan guru besar di Auditorium Prof. Dr. Harun Nasution, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, baik secara daring maupun luring.

Shalawat dan salam kita sampaikan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW dan para keluarga dan pengikutnya hingga akhir zaman.

Alhamdulillah, saya sangat bersyukur, sebagai wong deso iso mlebu kuto (anak desa yang bisa masuk kota) dan mencapai prestasi akademik sebagai Guru Besar di Bidang Psikologi Pendidikan dan Konseling pada usia 50 tahun. Sungguh, ini merupakan anugerah yang luar biasa dan di luar dugaan saya. Lebih luar biasa lagi, dalam dua tahun terakhir, UIN Jakarta telah penyelenggarakan pengukuhan 11 Professor dari berbagai bidang keilmuan.

Hadirin yang berbahagia

Saya masih ingat pada tahun 1990-an, New Straits Times, sebuah surat kabar ternama di Malaysia pernah memuat tulisan: It is easy to obtain two or three master  degrees, but not one doctoral degree. Sangat mudah untuk memperoleh gelar master dua atau tiga kali, tetapi tidak mudah untuk mendapatkan satu gelar doktor. Barangkali sekarang ungkapan tersebut tidak begitu relevan, tetapi ungkapan yang bisa kita katakan adalah: It is easy to get Doctor, but not Professor.

Pada kesempatan ini saya ingin menyampaikan orasi ilmiah dengan judul “RELIGIOSITAS: Konsep, Pengukuran, dan Implementasi di Indonesia”. Orasi ini penulis sarikan dari buku dengan judul yang sama, sebagai pengembangan dari artikel “Evaluating psychomatric properties of the Muslim Daily Religiosity Assessment Scale (MUDRAS) in Indonesian samples using the Rash Model” terbit di Journal of Mental Health, Religion, and Culture, Vol. 23, No. 3, Agustus 2020.

Hadirin yang berbahagia

Salah satu pertanyaan mendasar yang perlu kita renungkan bersama adalah: Apakah religiositas bisa diukur? Jika bisa, bagaimana mengukurnya? Orasi ilmiah ini bertujuan untuk memberikan jawaban terhadap permasalahan tersebut.

Kajian tentang religiositas di bidang psikologi bukan hal yang baru. Sebab Allport dan Ross pada tahun 1967–saya belum lahir–telah melakukan kajian dengan judul “Personal Religious Orientation and Prejudice”. Menurut penelitian ini orientasi beragama memiliki dua dimensi, yaitu dimensi instrinsik dan dimensi ekstrinsik.

Hasil penelitian Allport dan Ross (1967) menunjukkan: (1) rata-rata pengunjung gereja lebih berprasangka daripada non-pengunjung; dan (2) orang-orang yang memiliki orientasi keagamaan ekstrinsik secara signifikan lebih banyak mengalami perselisihan daripada orang-orang dengan orientasi keagamaan instrinsik.

Sampai sekarang kajian religiositas masih berlangsung dan terus berkembang baik di Barat maupun di Timur. Dalam kurun waktu satu dekade terakhir, sejak tahun 2010-2020, sekurang-kurangnya terdapat 39 penelitian tentang religiositas (Salam et al., 2019).

Meskipun sudah banyak penelitian yang dilakukan, namun hasil penelitian tersebut belum konklusif, khususnya yang terkait dengan alat ukur (instrumen) karena perbedaan konstruk religiositas yang digunakan. Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian untuk mengembangkan alat ukur religiositas yang sesuai dengan karakteristik muslim Indonesia. Penelitian ini berupa adaptasi dari sebuah alat ukur, yaitu Muslim Daily Religiosity Assessment Scale (MUDRAS) yang dikembangkan oleh Olufadi (2017).

Hadirin yang berbahagia

Konsep Religiositas. Dari kajian literatur tentang definisi religiositas, terdapat beberapa kata kunci utama, yaitu keyakinan, ketaatan, ajaran, praktik ritual, hubungan vertikal, hubungan horizontal, pencarian makna kehidupan dan kebahagiaan. Dengan kata kunci ini, penulis mencoba memformulasikan definisi religiositas, yakni tingkat keyakinan dan ketaatan seseorang terhadap ajaran agama yang dianutnya dan praktik ritual baik dalam konteks hubungan vertikal maupun horizontal, sebagai upaya untuk mencari makna kehidupan dan kebahagiaan.

Selain istilah religiositas, kita juga mengenal istilah spiritualitas. Spiritualitas muncul dari kesadaran individu tentang hidup dan kehidupan (asal usul, tujuan, kebahagiaan) yang bersifat pribadi dan subyektif. Spiritualitas bisa muncul tanpa religiositas, meskipun sebagian besar pengalaman spiritualitas muncul karena religiositas. Artinya, orang yang tidak beragama pun, bisa menemukan spiritualitas dalam hidupnya. Namun, mereka yang beragama memiliki peluang yang sangat tinggi untuk mencapai spiritualitas, sebab agama merupakan jalan hidup (way of life/minhajul hayah).

Hadirin yang berbahagia

Pengukuran Religiositas. Dalam psikologi, sesuatu yang tidak dapat diamati secara langsung tetap dapat diukur, seperti variabel religiositas, sebab kita tidak mengukur suatu obyek, tetapi mengukur atribut dari obyek tersebut.

Antusiasme para intelektual Muslim sangat tinggi untuk mengukur religiositas. Sejak 2000-2017 terdapat 20 skala religiositas yang dikembangkan. Namun demikian, kita sulit menemukan skala religiositas yang secara murni dikembangkan oleh intelektual muslim Indonesia.

Dalam konteks Indonesia, selama kurun waktu 8 tahun terakhir (2012-2020), tim peneliti dari Fakultas Psikologi UIN Jakarta telah berhasil melakukan adaptasi terhadap tiga skala religiositas. Pertama, skala religiositas berdasarkan teori Fetzer (2003). Kedua, The Centrality of Religiosity Scale (CRS) yang dikembangkan oleh Huber dan Huber (2012). Ketiga, MUDRAS yang dikembangkan oleh Olufadi (2017). Hasil penelitian dan adaptasi dari tiga skala religiositas tersebut telah diterbitkan di jurnal Ilmiah Nasional dan Internasional. Selamat untuk Fakultas Psikologi UIN Jakarta. Semoga terus maju dan berjaya mengukir prestasi.

Hadirin yang berbahagia

Implementasi Religiositas.

Penelitian ini melibatkan 766 mahasiswa Muslim (638 perempuan dan 128 laki-laki) yang dipilih dengan menggunakan teknik pengambilan sampel nonprobabilitas. Usia rata-rata responden adalah 20,01 (SD = 1,4), dengan kisaran 17-24 tahun.

Responden penelitian ini adalah mahasiswa program sarjana (S1) di berbagai fakultas dari tujuh universitas Islam di Indonesia. Ketujuh universitas tersebut meliputi UIN Sumatera Utara (N = 91), UIN Raden Fatah Palembang (N = 93), UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (N = 216), UIN Maulana Malik Ibrahim Malang (N = 88), UIN Sunan Ampel Surabaya (N = 104), UIN Alauddin Makassar (N = 85), dan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (N = 89).

Baca juga:   The Influence of Adolescent-Parent Career Congruence and Counselor Roles in Vocational Guidance on the Career Orientation of Students

Skala religiositas terdiri atas 28 item dan dianalisis dengan menggunakan Model Kredit Parsial (PCM; Masters, 1982).

Hadirin yang berbahagia

Bagaimana Gambaran Religiositas Mahasiswa Muslim Indonesia?

Secara umum, mahasiswa muslim responden penelitian ini memiliki tingkat religiositas tinggi, yaitu 58,7% dan sekitar 41.3% memiliki religiositas rendah.

Berdasarkan gender, perempuan cenderung memiliki religiositas yang tinggi apabila dibandingkan dengan laki-laki, dengan persentase 61.1% berbanding 46.9%. Selain itu, berdasarkan kategorisasi domisili (Jakarta dan Luar Jakarta), mahasiswa yang berasal dari luar Jakarta cenderung lebih religius apabila dibandingkan dengan mahasiswa yang berasal dari Jakarta, dengan persentase 66.9% berbanding 38%.

Baca juga:   The Influence of Adolescent-Parent Career Congruence and Counselor Roles in Vocational Guidance on the Career Orientation of Students

Tiga perilaku religius yang positif dari mahasiswa muslim Indonesia adalah perilaku taubat (item 11), gemar membaca Al-Qur’an (item 1), dan gemar bersedekah (item 6). Tiga perilaku religius ini patut dijaga bahkan ditingkatkan untuk memujudkan sikap muslim yang moderat (Islam wasatiyah).

Hadirin yang berbahagia

Kesimpulan.Sebagai kesimpulan, religiositas memiliki akar dan dasar yang kuat dalam agama dan telah menarik perhatian para peneliti, khususnya di bidang psikologi, baik di Barat maupun di kalangan ummat Islam. Dengan demikian, pertanyaan ‘Apakah religiositas dapat diukur dan bagaimana mengukurnya?’ telah terjawab baik secara teoritis maupun empiris, dengan dihasilkannya MUDRAS versi Indonesia.

Namun demikian, pengembangan alat ukur religiositas justru belum mendapat perhatian yang besar di Indonesia. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian psikologi selama ini masih terbatas pada adaptasi dan belum menjadikan Al-Qur’an dan Hadis sebagai acuan utama dalam pengembangan instrumen. Inilah salah satu tantangan yang dihadapi para ilmuan di bidang psikologi di tanah air.

Rekomendasi. Penelitian ini menginspirasi dan mendorong para peneliti di Indonesia untuk mengembangkan alat ukur dengan tema keislaman dan merujuk langsung kepada Al-Qur’an dan Hadis. Diantara tema keagamaan yang perlu segera dikembangkan alat ukurnya adalah tema tentang sabar, syukur, toleransi, qanaah, dan tawadhu’.

Hasil penelitian ini juga merekomendasikan dalam pengembangan alat ukur psikologi memerlukan kolaborasi interdisiplin keilmuan, antar fakultas dan antarperguruan tinggi. Dengan demikian akan muncul berbagai instrumen yang dikembangkan dengan basis ajaran Islam dan sesuai dengan karakteristik muslim Indonesia.

Pengembangan alat ukur psikologi yang terkait dengan keagamaan tersebut merupakan peluang emas sekaligus tantangan bagi para akademisi dari Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN). Dari segi sumber daya manusia, banyak pakar yang menguasasi bidang ilmu-ilmu kauniyah (revealed knowledge) dan ilmu-ilmu aqliyah (acquired knowledge). Bahkan mayoritas visi dan misi yang dirumuskan PTKIN juga fokus pada integrasi keilmuan dengan kata kunci iman, ilmu, dan amal. Dalam hal ini, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta memiliki peran yang sangat strategis, mengingat institusi ini memiliki banyak pakar dan ahli dari berbagai bidang keilmuan. Dengan demikian impian menjadikan UIN Jakarta sebagai center of excellence dan flag ship of Islamic Higher Education Institution dapat diwujudkan dengan sukses.

Dengan semangat untuk mendorong pengembangan keilmuan dan penelitian di bidang keberagamaan, penulis memberikan izin kepada siapa pun yang akan menggunakan skala religiositas ini tanpa berbayar, sebab skala religiositas ini didedikasikan untuk para ilmuwan dan akademisi yang cinta ilmu dan penelitian.

Ucapan Terimakasih

Last but not least, saya ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada semua pihak atas kerja sama dan dukungan yang mereka berikan sehingga acara pengukuhan Guru Besar ini dapat berjalan dengan lancar dan sukses.

Saya sangat berhutang budi dan berterima kasih kepada kedua orang tua, Bapak S. Dwidjohartono dan Ibu Ngadiyem serta Kakak dan Adik saya. Terimakasih Kepada Mertua, Bapak Samsuri (Alm) dan Ibu Kintamani, serta Kakak dan Adik Ipar beserta keluarga mereka.

Ucapan terima kasih kepada istri tercinta, Qurrotul Aini yang telah mendampingi di saat suka dan duka sejak 1998 hingga saat ini. Demikian juga ucapan terima kasih kepada anak-anak saya: Aisyah Zakiyah, Ahmad Taqiyuddin Ulwan, Rafidah Amali, dan Rafie Ahmad Najati. Mereka telah mengorbankan waktu dan berpisah sekian lama sehingga kadang kurang mendapatkan hak mereka.

Ucapan terima kasih kepada para Pimpinan Pondok Modern Gontor, para Ustadz/Guru, dan kolega di Pondok Modern Gontor Ponorogo. Kepada Pimpinan Pondok Pesantren Pabelan dan para asatidzah. Terima kasih kepada para guru SD Negeri Blangu I, para dosen Institut Pendidikan Darussalam (IPD)–sekarang Universitas Darussalam (UNIDA) Pondok Modern Gontor, para dosen International Islamic University Malaysia (IIUM), dan para dosen University of Malaysia (UM), khususnya Promotor Disertasi, yaitu Prof. Dr. Suradi Salim (Alm).

Saya juga menyampaikan terimakasih kepada para Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta: Prof. Dr. Azyumardi Azra, MA., Prof. Dr. Komaruddin Hidayat, Prof. Dr. Dede Rosyada, MA., dan Prof. Dr. Hj. Amany Lubis, MA beserta para Wakil Rektor dan jajarannya.

Kepada para Dekan Fakultas Psikologi Dr. Netty Hartati, M.Si, Jahja Umar, Ph.D., Prof. Dr. Abdul Mujib,M.Ag., M.Si, dan Dr. Zahrotun Nihayah, M.Si beserta para Wakil Dekan, para Ketua dan Sekretaris Prodi S1 dan S2 beserta jajarannya. Ucapan terima kasih juga saya sampaikan kepada para dosen Fakultas Psikologi UIN Jakarta, dan tenaga kependidikan lainnya yang tidak saya sebutkan satu persatu.

Terima kasih kepada Bahrul Hayat, Ph.D Ketua Umum Himpunan Evaluasi Pendidikan Indonesia (HEPI) beserta jajarannya. Saya juga berterima kasih kepada para tim pengelola Jurnal TAZKIYA dan Jurnal Pengukuran Psikologi dan Pendidikan Indonesia (JP3I). Saya juga berterima kasih kepada tim peneliti, yaitu Bapak Bahrul Hayat, Muhammad Dwirifqi Kharisma Putra, Yuli Rachmawati, dan Farah Purnomo.

Terimakasaih kepada para Ketua, Sekretaris dan anggota BSNP Periode I, II, III, IV yang telah memberikan banyak wawasan keilmuan dan pengalaman kepada saya.

Ucapan terimakasih juga disampaikan kepada Bapak Helmy Fauzy Duta Besar Republik Indonesia di Mesir (2016-2020), Bapak Lutfi Rauf Duta Besar Republik Indonesia di Mesir (2020-2024), dan Bapak M. Aji Surya Wakil Duta Besar,beserta jajarannya.

Terima kasih kepada para akademisi, ulama, ilmuwan, para tokoh dan kolega yang berkenan memberikan ucapan selamat melalui video. Sungguh saya merasa terhormat dengan dukungan Bapak dan Ibu, termasuk panitia penyelenggara pengukuhan Guru Besar UIN Jakarta.

Terima kasih kepada semua pihak yang telah berjasa atas keberhasilan ini. Mohon maaf saya tidak dapat menyebut semua nama. Semoga seluruh amal salih Bapak dan Ibu mendapatkan pahala terbaik dari Allah Swt.

Ciputat, 13 Januari 2021

Download file asli….

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

Tulisan Terbaru

Mamuju

Tresna Tanpa Syarat

Tepuk Dada

Komentar Terbaru

Sedang Populer

1,145FansLike
46FollowersFollow