Home Gagasan Ilmiah Populer Revitalisasi Modal Sosial

Revitalisasi Modal Sosial

0

Prof.Suyanto, Ph.D.
(Guru Besar Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Yogyakarta)

Liburan Hari Raya Idul Fitri dan cuti bersama masih kita nikmati. Dalam liburan dan cuti bersama yang baru lalu itu ada fenomena nasional yang sangat unik, yaitu berupa mobilitas orang dalam jumlah puluhan juta. Mungkin fenomena ini merupakan satu-satunya di dunia di mana terjadi pergerakan manusia dalam jumlah puluhan juta dari pusat-pusat kota ke kampung halaman di berbagai pelosok tanah air.

Apa dampak yang biasa ditonjolkan oleh sistem kepegawaian di berbagai institusi  dan pranata sosial selama ini baik melalui media maupun sistem organisasi suatu institusi? Dampak yang sangat ditonjolkan dari fenomena gerakan manusia dalam puluhan juta itu antara lain lahirlah konsep yang sangat populer seperti: arus mudik-balik, kemacetan lalu lintas, mangkir kerja, urbanisasi, dan sebagainya. Masyarakat kita hanya dikenalkan dengan berita-berita seputar konsep populer di atas. Mangkir kerja, misalnya, selalujadi sorotan media elektronik dan media cetak. Seorang menteri sering disorot televisi dalam melakukan sidak di kementriannya untuk mencari tahu siapa di antarapegawainya yang mangkir kerja. Kemacetan lalu lintas menjadi berita utama; Bertambahnya urbanisasi juga menjadi topik berita utama media.

Sebenarnya adasatu fenomena lain yang maha penting yang terlupakan oleh media. Apa itu? Tak lain adalah revitalisasi modal sosial. Dampak mudik yang paling dahsyat adalah terbentuk dan menguatnya modal sosial di dalam masyarakat kita. Modal sosial ini amat sangat penting untuk pembangunan suatu bangsa di samping modal-modal lainnya: modal manusia, modal intelektual, dan modal kapital. Tanpa modal sosial yang kuat mustahil kehidupan sosial, ekonomi, dan politik akan bisa kondusif bagi perwujudan kesejahteraan masyarakat.

Lalu apa sebenarnya modal sosial itu? Menurut World Bank, modal sosial (social capital) didefinisikan sebagai “…the relationships, the attitudes and values that govern interactionsamong people and contribute to economic and social development”. Jadi, social capital dengan demikian menjadi semacam perekat yang mengikat semua orang dalam sebuah masyarakat. Di dalamnya  ada prinsip saling berbagi nilai yang dipegang teguh oleh para anggota masyarakat serta bekerjanya suatu sistem pengorganisasian peran-peran orang dalam masyarakat yang dicerminkan dalam pola-pola hubungan, saling menaruh kepercayaan, saling memahami tujuan bersama dan saling mengerti terhadap tanggung jawab bersama.

Baca juga:   Modal Sosial

McKenzie dan Harpham (2006) membuat abstraksi konsep modal sosial dengan entitas sebagai berikut: (1) Modal sosial merupakan jejaring sosial, jejaring pribadi yang tidak memaksa; (2) Merupakan partisipasi anggota masyarakat dan penggunaan jejaring warga masyarakat; (3) Bisa  berbentuk Identitas warga masyarakat dalam skala lokal, misalnya: rasa memiliki, solidaritas, kesetiakawanan dan kesetaraan sesama anggota kelompok yang eksis di dalam masyarakat; (4)Berlakunya kaedah berperilaku yang mengutamakan prinsip timbal balik dalam sebuah kehidupan dan semangat menegakkan nilai-nilai kerja sama antar idividu dan/atau antarkelompok, rasa keterpanggilan untuk melakukan tolong-menolong dan mempercayai satu sama lain ketika saling berdampingan dalam peran sosial tertentu; dan (5) Terjadinya  suasana kebatinan yang saling mempercayai dalam komunitas.

Dari pengertian dan abstraksi modal sosial diatas, sungguh fenomena mudik yang berakhir dengan arus balik tiga hari lagi, sebenarnya merupakan revitalisasi modal sosial yang ada di dalam masyarakat. Dengan saling berkunjung, bertemu, bertegur sapa, berbagi hadiah uang receh dengan para sanak saudara di desa maka modal sosial kembali menjadi kuat setelah satu tahun lamanya tidak mendapatkan penguatan. Orang-orang yang meninggalkan kota besar kembali ke desa-desa asal dengan perjuangan melawan kemacetan menunjukkan betapa kuatnya mereka untuk membangun modal sosial yang lebih kuat. Tidak bisa dibayangkan tanpa modal sosial yang baik, apa yang terjadi pada pasca penetapan presiden terpilih oleh KPU pada tanggal 22 Juli yang lalu. Karena modal sosialkita yang kuat, maka tidak terjadi gesekan antar pendukung kubu Capres No.1 danNo.2. Padahal TNI dan Polri sudah mengantisipasinya jika terjadi kekacauan. Nyatanya tidak terjadi, karena modal sosial kita relatif baik.

Tulisan ini terbit pertama di Harian Kedaulatan Rakyat edisi 1 Agustus 2014.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here