Friday, August 7, 2020
Beranda Tips Hiseri Romantika Meraih Gelar Doktor Luar Negeri

Romantika Meraih Gelar Doktor Luar Negeri

Nizamuddin Sadiq
Ph.D. Candidate University of Southampton, UK, Dosen Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Islam Indonesia, dan Alumni Universitas Negeri Yogyakarta

Suyanto.id–Dua puluh enam tahun yang lalu, saat kuliah pertemuan pertama menjelang kelas berakhir, dosen pengampu mata kuliah yang saya ikuti mengingatkan, nadanya lebih tepat memberi peringatan, bahwa gelar doktornya harus ditulis pada setiap tugas yang kami kumpulkan. Alasannya terdengar klasik, bahwa mendapatkan gelar tersebut penuh perjuangan.

Tak pelak, peringatan itu serasa mantra nenek sihir kepada Putri Salju, hanya bisa hilang ketika Pangeran Katak datang dengan menyatakan cinta yang tulus. Itulah sebabnya, ucapan peringatan sang dosen itu masih terngiang di telinga hingga detik ini.

Saat itu, saya hanya bisa menimpali dalam hati, ”Sombong kali dosen ini! Baru S3, belum profesor, sudah begini kelakuannya.”



Saya belum sepenuhnya mengerti, apa pentingnya menuliskan gelar S3 tersebut. Mengapa harus dituliskan? “Tokh, ditulis atau tidak, tidak akan mengurangi kewibawaan dia sebagai dosen.” Semua komentar miring dan ketidakterimaan saya atas peringatan dosen tersebut semata-mata karena saya tidak tahu romantika pahit-getirnya meraih gelar akademik tertinggi tersebut. Hanya reaksi sesaat.

Dua puluh enam tahun berlalu, kini saya dalam kondisi sedang menempuh S3. Itu artinya saya mengalami romantika beratnya perjuangan meraih gelar doktor yang saya negasikan saat berstatus sebagai mahasiswa. Sekarang saya bisa mencontoh apa yang dikatakan Dilan, “S3 itu berat. Cukup aku saja yang merasakan,” sembari merevisi komentar miring dua puluh enam tahun yang lalu, “Duhai para dosen, tulislah gelar doktormu, bukan karena engkau sombong, melainkan rekognisi atas jerih payahmu dalam meraih gelar akademik tertinggi tersebut.”

Berdasar pengamatan saya, jerih payah para dosen dalam studi S3 dapat dilihat dari dimensi timing­-nya: sebelum berangkat, saat kuliah, dan kembali ke kampus atau ke tanah air (bagi yang studi di luar negeri).

Dari sekian banyak alasan mengapa dosen kurang tertarik untuk studi S3, salah satunya adalah kehidupan mereka yang sudah mapan dengan kedudukan struktural di pelbagai level jabatan. Dengan melanjutkan studi, maka fasilitas yang selama ini mereka nikmati akan hilang dan tidak mudah untuk mendapatkannya kembali. Jadi, sebelum berangkat, godaan menjabat dan tantangan untuk studi selalu berkecamuk, tarik ulur. Bagi mereka, pilihan ini ibarat buah simalakama, mempertahankan jabatan seperti kehilangan ibu, melanjutkan studi S3 artinya kehilangan ayah. Dua-duanya bukanlah pilihan yang mudah.

Selain itu, bagi dosen yang melanjutkan S3, penghasilannya akan terpangkas lebih dari setengahnya. Yang dia terima sebesar gaji pokok saja, semua tunjangan yang biasa dia terima berhenti. Jadi, dari sisi finansial, ini merupakan kehilangan besar. Benar dia akan menerima beasiswa. Namun, berdasarkan pengalaman, beasiswa yang diberikan hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Tidak lebih.

Sungguh make sense jika sebelum berangkat para dosen sudah harus bertarung dengan keadaan dan kondisi masa depan yang insecure. Oleh karena itu, bagi para dosen yang memutuskan untuk melanjutkan studi S3, mereka sudah menjejakkan kakinya ke depan gerbang para pejuang sejati yang akan diuji ketangguhannya.

Ketika pilihan sudah dijatuhkan, lanjut S3, artinya tombol pilihan sudah dikunci. Para dosen tersebut sesungguhnya memasuki tantangan baru, yakni berupa beasiswa, visa, supervisor (pembimbing-promotor), keluarga, dan dirinya sendiri.

Tantangan pertama berupa beasiswa. Durasi beasiswa maksimal yang disediakan penyandang dana umumnya hanya empat tahun dan teramat jarang yang bisa diperpanjang hingga lima tahun. Jika program doktoralnya langsung by research, dimungkinkan dapat menyelesaikan studi sesuai dengan skema beasiswa empat tahun. Namun, jika program S3-nya adalah integrated, yang mensyaratkan adanya coursework selama satu hingga dua tahun, durasi studi normalnya bisa menjadi lima tahun. Jika berada dalam kondisi seperti ini, akan ada masa di mana mahasiswa doktoral tersebut mengalami kesulitan pendanaan di tahun terakhir. Oleh karena itu, mereka harus mampu menjawab tantangan beasiswa berdurasi empat tahun ini. Do or die.

Selain beasiswa, tantangan yang juga dibatasi waktu adalah visa. Umumnya visa student tier 4 berdurasi empat tahun plus empat bulan. Artinya, jika kondisi mahasiswa doktoral tersebut sesuai dengan rencana, tidak akan ada masalah. Namun, jika studinya termasuk integrated program, dia akan membutuhkan dana untuk perpanjangan visa yang umumnya tidak ditanggung pemberi beasiswa.

Oleh karena itu, mahasiswa doktoral, yang oleh beragam sebab, harus berjibaku dalam memenuhi kebutuhan finansial dan menyelesaikan studinya. Dia harus memutar otak, bermandikan keringat, dan lintang pukang dalam mencari penghasilan tambahan. Tidak jarang pula kepala jadi kaki, kaki jadi kepala, demi menyelamatkan kehidupannya, baik kehidupan rumah tangga, sosial, terutama akademiknya.

Tantangan selanjutnya yang tidak kalah pentingnya adalah supervisor atau promotor. Supervisor ini bisa menjadi penentu kesuksesan atau kegagalan mahasiswa doktoral. Oleh karena itu, wajib hukumnya untuk mengenali tipe-tipe supervisor yang ada.

Berdasar pengamatan personal saya, tipe supervisor ini beragam. Ada supervisor yang merupakan tokoh kunci di bidang yang akan diteliti. Menghadapi tipe supervisor seperti serba salah. Secara keilmuan dan pengalaman dia di atas angin dan berdasar kedudukan di fakultas dia sangat berpengaruh. Omongannya seperti sabda pandhito ratu, akan diikuti oleh kolega yang lebih junior darinya. Karena dia benar-benar menguasai keilmuan tersebut, dia sangat perfeksionis, apa pun pekerjaan mahasiswa doktoral di matanya tidak ada yang benar. Jika bertemu dengan supervisor seperti ini, dibutuhkan kesabaran dan peningkatan kapasitas agar bisa memenuhi ekspektasi yang bersangkutan.

Ada pula supervisor yang super sibuk dengan proyeknya sehingga bimbingannya tidak mendapatkan layanan secara maksimal, bertemu susah, dan terkesan membiarkan mahasiswa. Keuntungannya, para supervisor tipe ini tidak terlalu tinggi tuntutannya. Lha, ketemu saja jarang, kok nuntut yang macam-macam. No fair.

Ada pula tipe supervisor yang menganggap bahwa mahasiswa doktoral seperti koleganya. Jika bertemu dengan supervisor tipe ini, dia amat jarang memberikan bimbingan. Alih-alih membimbing, dia akan menyerahkan semua proses studi dan penelitian kepada mahasiswa. Kemandirian dan rasa percaya diri harus dikuatkan jika mendapatkan supervisor dengan tipe ini.

Namun, ada pula supervisor yang memberikan bimbingan, tetapi mengatakan bahwa mahasiswa tersebut tidak harus mengikuti apa yang dia katakan. Sang mahasiswa harus independen. Akan tetapi, ketika mahasiswa membuat tulisan yang berbeda, sang supervisor marah karena dianggap tidak mengikuti apa yang dia sarankan. Bingung, kan, jadinya? Katanya harus independen, ketika melakukan hal berbeda, kok ngambek? Pendekatan bermain layangan, tarik ulur, sepertinya cocok dilakukan untuk supervisor seperti ini.

Baca juga:   Inovasi Pendidikan Tinggi

Yang lebih merepotkan lagi, jika bertemu dengan supervisor bertipe plin-plan. Minggu ini supervisor ngomong X, minggu berikutnya ngomong Y. Ketika diprotes ia tidak terima. Parahnya, dia lupa apa yang dia omongkan di kesempatan sebelumnya hingga akhirnya muter-muter, mbulet tidak karuan. Salah satu solusi adalah merekam proses bimbingan dengan audio recorder sehingga punya bukti apa yang diucapkan supervisor di setiap bimbingan.

Yang lebih parah, jika supervisor secara keilmuan dan pengalaman lebih rendah dari mahasiswa doktoral. Kelebihannya hanya satu, dia punya otoritas membimbing. Itu saja. Oleh karena itu, supervisor jenis ini biasanya banyak berdebat dengan mahasiswa bimbingannya. Sebagai supervisor, mana mau dia mengalah. Jika masing-masing pihak tidak mau mengalah, akibatnya bisa fatal. Hubungan menjadi tidak baik. Jika berkepanjangan bisa berganti supervisor. Atau jika berlanjut, dia kurang membantu saat ujian disertasi sehingga mahasiswa bimbingannya tidak lulus. Thus, sikap low-profile sangat dibutuhkan untuk menghadapi supervisor kategori ini.

Oleh karena itu, menjaga hubungan personal dengan supervisor harus dilakukan karena secara tidak langsung supervisor akan memainkan peran di saat-saat penting. Ujian thesis/disertasi, misalnya, supervisor tidak akan mengajukan penguji yang kemungkinan besar bimbingannya gagal sehingga faktor supervisor ini langsung atau tidak langsung sangat berpengaruh terhadap keberhasilan mahasiswa doktoral dalam menyelesaikan studinya.

Baca juga:   Bahasa dalam Konsep Ekor

Tidaklah berlebihan jika hubungan dengan supervisor ini bersifat unik. Kadang sangat personal, tetapi juga sangat profesional. Salah bersikap atau keliru melakukan pendekatan, bukan untung yang diraih tetapi malah buntung. Oleh karena itu, tantangan supervisor ini harus dijawab dengan penuh perhitungan dan kebijaksanaan.

Sementara itu, faktor keluarga juga sangat berpengaruh dalam keberhasilan mahasiswa doktoral. Utamanya, bagi mereka yang studi di luar negeri dengan membawa serta keluarganya. Lagi-lagi, berdasar pengalaman lapangan. Ada perbedaan signifikan antara mahasiswa doktoral yang masih bujangan alias single dengan mereka yang sudah berkeluarga. Ada banyak hal, minimal dari segi waktu dan finansial.

Dari segi waktu, umumnya para singelar lebih fleksibel. Kapan dan di mana saja dia tidak terikat. Waktu 24 jam sehari dapat dimanfaatkan dengan maksimal. Hal ini berbeda dengan mahasiswa yang berkeluarga, apalagi yang sudah mempunyai anak, ada waktu-waktu yang harus dialokasikan untuk mengurus keluarganya.

Dari segi pendanaan, mahasiswa doktoral singelar cukup menyewa kamar, belanja seadanya. Mereka bisa hemat karena tidak banyak pernak-pernik pengeluaran yang harus disisikan. Berbeda dengan mahasiswa doktoral yang berkeluarga, dari sisi sewa akomodasi saja, dia harus minimal menyewa rumah, tidak cukup satu kamar. Selain itu, masih ada juga belanja bulanan untuk konsumsi anak-istri serta pernak-pernik lain yang menjadi kebutuhan keluarga.

Akan sangat beruntung jika pemberi beasiswa juga memberikan dana khusus untuk keluarga. Artinya, dari sisi pendapatan, tidak akan terlalu memusingkan pikiran. Jika tidak, mau tidak mau, pikiran akan bercabang agar kebutuhan selama studi terpenuhi. Membawa dan tidak membawa keluarga studi di luar negeri juga ibarat memakan buah simalakama, keduanya penuh risiko.

Keempat tantangan di tersebut merupakan faktor eksternal. Meskipun demikian, dampaknya bisa sangat psikis jika tidak dapat di-handle dengan baik dan penuh kehati-hatian. Faktor eksternal ini belum lengkap karena ada satu faktor internal yang justru menjadi mesin penggerak kesuksesan mahasiswa doktoral. Faktor tersebut adalah dirinya sendiri.

Sukses tidaknya menyelesaikan studi S3, utamanya ada di tangan mahasiswa doktoral tersebut, bukan orang lain. Sejak dari awal hal ini harus disadari secara penuh dan bertanggung jawab. Kesadaran dan tanggung jawab ini pulalah yang akan menggerakkan sikap disiplin, istiqomah, tidak mudah putus asa, serta daya juang yang tinggi. Tanpa ini semua, amat sulit untuk sampai di puncak kesuksesan.

Selain itu, faktor kesehatan juga amat berperan. Sering kali orang memberi plesetan gelar Ph.D. dengan sebutan permanent health damage (kerusakan kesehatan permanen). Plesetan ini tentu saja hanyalah guyonan. Namun, berdasar pengalaman berbagi cerita dengan sesama mahasiswa doktoral, penyakit asam lambung menjadi teman yang akrab. Tidak mengherankan karena penyakit asam lambung amat dekat dengan stres, kebugaran, serta disiplin dalam memberi asupan bagi tubuh. Seringkali karena diburu deadline, jadwal makan tidak dihiraukan, kurang tidur, dan pikiran bercabang-cabang, asam lambung pun menjadi cepat naik.

Oleh karena itu, mahasiswa doktoral dituntut untuk menjaga kesehatan jasmani, psikis, dan rohaninya. Sehat pikirannya, sehat finansialnya, sehat aktivitas sosialnya, sehat anggota tubuhnya, dan sehat ibadahnya. Ketika semua bentuk kesehatan ini tidak menjadi permanent damage, inilah kesuksesan yang sesungguhnya.

Akhirnya, pada saat pulang, masalah belum selesai, tantangannya juga tidak kalah pentingnya. Hal krusial yang umumnya dijumpai oleh para dosen yang studi S3 di luar negeri ketika pulang ke tanah air adalah sekolah untuk anak-anak mereka. Umumnya, tidak ada sekolah negeri yang mau menerima. Alasan klasiknya, karena anak-anak tersebut tidak punya rapor seperti di Indonesia, tidak punya nomor induk sekolah, dan lain-lain alasan yang kadang tidak masuk akal. Intinya, tetap dipersulit. Kalaupun ada celah, itu artinya harus cari orang dalam dan tentu saja akan mengikuti pola penerimaan berbasis donasi. Seberapa besar dana yang bisa disiapkan atau didonasikan untuk sekolah. Mumet kan? Akhirnya suka tidak suka, pilihannya jatuh ke sekolah swasta. Banyak sekolah swasta yang mau menerima. Namun, masalahnya, sekolah-sekolah swasta bonafide menarik biaya yang sangat wow, menguras kantong, dan tentu saja memusingkan kepala.

Belum lagi urusan sekolah anak-anak selesai, urusan “menormalkan kembali status” membutuhkan kurang lebih satu tahun. Status kepegawaiannya bisa langsung diaktifkan saat itu, tetapi persoalan penggajian dan penerimaan penghasilan lain-lain harus menunggu hingga satu tahun dengan beragam alasan. Ini artinya, satu tahun pertama kepulangan, para dosen harus siap kerja serabutan agar dapurnya bisa ngebul. Inilah masa transisi yag harus dihadapinya saat kepulangan.

Dengan demikian, lengkap sudah tantangan para dosen prakeberangkatan, saat studi, dan pascastudi (kepulangan). Semua tantangan itu tidak ada yang mudah. Kalau mudah, ya bukan tantangan, tetapi tentengan.

Ada banyak kisah dan cerita haru dan pilu dibalik keberhasilan para dosen dalam meraih gelar akademik tertingginya. Tentu saja hal ini patut mendapat apresiasi. Mereka sudah rela melepas segala rupa kenyamanan, tidak jarang bahkan ada yang berdarah-darah demi menyelesaikan studi S3. (*)

Catatan ringan akhir pekan – Southampton, 12 Juli 2020

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

Tulisan Terbaru

Komentar Terbaru

Sedang Populer

1,023FansLike
37FollowersFollow