Tuesday, January 31, 2023
spot_img
BerandaGagasan GuruSeni Bernegosiasi

Seni Bernegosiasi

AMK Affandi
Guru Matematika SMP Muhammadiyah 4 Yogyakarta

Suyanto.id–Nama lengkapnya Samuel Leroy Jackson, sorang aktor jempolan kulit hitam asal Amerika Serikat. Sudah puluhan film dibintangi lelaki kelahiran 21 Desember 1948 ini, mulai peran pembantu hingga peran utama. Kehadiran Jackson memiliki ruh dalam setiap episode film, hingga cerita menjadi hidup.

Salah satu film yang ia bintangi adalah Negotiator di mana Jackson berperan sebagai Letnan Danny Roman. Film ini berkisah tentang seorang negosiator yang hendak membebaskan seorang sandera. Dari plot ceritanya, sudah bisa ditebak, bahwa film ini akan dipenuhi dengan dialog, minim kekerasan, tidak obral peluru sebagaimana ciri khas film produk Amerika.



Sebagai seorang negosiator, Letnan Danny Roman bukanlah orang yang memiliki otak biasa. Ia mampu mencium gelagat lawan. Ia tidak mungkin memberi umpan recehan karena yang hendak dikail adalah ikan besar. Untuk kepentingan ini, dibutuhkan strategi dan stamina yang handal, efektif dalam dialog, dan terukur dalam menyusun kalimat.

Setiap saat, manakala kita berkomunikasi dengan orang lain, hampir bisa dipastikan memiliki kandungan negoisasi. Hasil yang akan kita peroleh sedapat mungkin menyeluruh, tidak parsial. Informasi yang kita dapatkan diusahakan terinci. Saat kita memberi informasi kepada orang lain pun diusahakan lengkap.

Dalam dialog yang hendak dibangun adalah win-win solution karena semuanya ingin puas, tak ada yang dirugikan. Kesepakatan yang diraih menghasilkan keuntungan kedua belah pihak.

Ada kalanya, negosiasi berjalan cukup alot bila salah satu pihak ingin mendapatkan porsi yang lebih besar atau kedua belah pihak saling mempertahankan haknya, tanpa sedikit pun memberikan kewajiban kepada pihak lain. Negosiasi seperti ini didasari karena kepentingan kelompok tertentu, tidak ingin kehilangan miliknya.

Untuk bisa memainkan peran dalam negoisasi, ada baiknya kita simak nasihat Nic Peeling. Sosok ini dikenal sebagai seorang front line manager di QinetiQ, sebuah perusahaan terkemuka di bidang teknologi pertahanan dan keamanan. Diakuinya, bahwa tips berikut ini merupakan pengalaman kesalahannya dalam melakukan proses negosiasi. Dari pengalaman ini, muncul motivasi untuk menemukan dan menyarikan apa yang diketahui, dilakukan, dan dikatakan oleh negosiator.

Tahap awal adalah persiapan. Seorang petarung datang untuk berlaga, tak mungkin dengan bekal tangan kosong. Petinju yang handal akan selalu berlatih sebelum bertanding. Pedagang yang ingin meraup keuntungan, pasti sudah mempersiapkan segala sesuatunya sebelum dagangannya digelar. Negosiator tak mungkin berangkat dengan tangan hampa.

Baca juga:   Perempuan, Rahim, dan “Perlombaan” Memiliki Anak

Apa saja yang perlu disiapkan? Persiapannya adalah membuat kerangka negosiasi. Pertanyaan mendasarnya adalah apa yang akan didapatkan dari negosiasi, finansial atau penyelesaian konflik? Andai finansial yang hendak dipungut, maka perlu disiapkan perhitungan yang matang, kalkulasinya jangan sampai meleset, lengkap dengan kemungkinan untung dan ruginya. Apabila negosiasinya penyelesaian masalah, maka bekal yang harus dipelajari terlebih dahulu adalah akar masalah. Usahakan memperoleh info yang lengkap dari kedua kubu yang berseberangan, faktor apa saja yang paling dominan.

Periode kedua adalah saling berbagi. Setelah tahap awal dilakukan dengan menguasai kerangka negoisasi, sekarang masuk ke langkah kedua, yaitu saling berbagi. Negosiator, betapa pun ulungnya, dia tak akan pernah mengetahui konsep lawan sebelum mitra negosiasi membuka permasalahan. Di sinilah ruang untuk berbagi informasi agar jalan menuju kesepakatan terbuka lebar.

Membagi informasi, berarti negosiator telah membangun hubungan. Membagi informasi adalah awal yang baik. Dengan demikian, banyak interaksi yang bersifat bukan perdebatan. Pada tahap ini, masing-masing negosiator saling mengenal.

Orang yang telah berpengalaman dalam bernegosiasi, ia akan membuka dengan kalimat-kalimat yang disukai oleh lawan bicara. Dengan menyanjung, memberi apresiasi terhadap lawan, berarti negoisasi telah berjalan setengahnya. Orang lain akan segan manakala diperlakukan sebagai manusia yang memiliki harga diri.

Periode ketiga, tawar-menawar. Tawar-menawar adalah permainan dengan aturan-aturan yang sudah ditetapkan dengan baik. Ada tiga kata kunci untuk membuka tawar-menawar, (1) jelaskan secara rinci keinginan dalam tawar menawar ini, (2) tetapkan tujuan yang benar-benar menantang, dan (3) jangan masuk ruang tawar-menawar tanpa persiapan.

Setelah pembukaan negoisasi berjalan dengan baik, saatnya kita membuka yang setulus-tulusnya maksud dan tujuan melakukan negosiasi. Tahapan ini akan diraih secara bersama-sama, win-win solution. Kita tidak perlu pelit memberi informasi, tidak perlu juga memberi informasi yang berlebihan.

Tahap keempat adalah penutup dan komitmen. Setelah tawar-menawar sampai ke titik puncak, muncullah komitmen bersama. Hasil perundingan sebagai perjanjian terikat, satu dengan yang lainnya menghormati itikad bersama. Kepercayaan harus dijunjung tinggi.

Andai salah satu mengingkari perjanjian itu, runtuhlah satu sendi bangunan kesepakatan. Ada baiknya kita berkaca dari tokoh-tokoh yang derajat kepercayaannya terpelihara. Membawa amanah tidaklah ringan apalagi menyangkut kredibelitas dalam masyarakat. Kecemerlangan negosiator diukur dari amanah yang diemban, di samping juga luasnya wawasan, serta diplomasi yang anggun. (*)

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

Tulisan Terbaru

Cinta

0

Janji Proklamasi

1

Pelayatan Agung

0

Ziarah

1

Komentar Terbaru

Sedang Populer

1,166FansLike
68FollowersFollow