Friday, August 7, 2020
Beranda Cerpen Serenada Pantai Gesing

Serenada Pantai Gesing

Siska Yuniati
Guru MTs Negeri 3 Bantul, Ketua Umum Perkumpulan Guru Madrasah Penulis (Pergumapi)

Suyanto.id–Kukemasi pakaianku. Pulang ke Gesing. Tidak ada tempat lain yang ingin aku datangi saat ini. Hamparan laut. Perahu-perahu biru. Buaian angin. Aroma asin. Pasir pias. Cerita para nelayan setelah sekian waktu terapung di laut luas. Segalanya ingin aku tandas membalur pedih dalam kalbu.

Setelah kejadian semalam. Ditingkahi hujan menderas, diam-diam bulir-bulir gerimis jatuh sedemikian rupa dari sudut mataku. Begitu saja menggenangi setiap cerita yang telah kurangkai bersama Sarah, perempuan yang aku dambakan. Selama ini namanya telah memenuhi setiap nadiku, mengalir bersama waktu. Toh, waktu jua yang membuatnya mendatangiku malam itu dan dengan entengnya Sarah berpamitan pergi.

“Aku sudah tidak mencintaimu, Bagas! Maafkan!”

Aih, mudah sekali ia berucap. Apa cinta itu seperti gunung es. Permukaan dan batinnya bisa juga berbeda. Apa itu komitmen, janji setia, pendamping, teman hidup. Segalanya copot satu persatu dari menara yang kubangun dalam kepalaku.

“Tidakkah ada alasan lain yang lebih nalar, Sarah?”

Sarah menggeleng mantap. Duhai, serasa aku kesetrum petir. Mencengangkan lantas melolosi tulang-tulangku disertai dengan memanasnya wajah.

“Bagas, kau sendiri yang bilang ingin bersama karena kita saling cinta. Sekarang aku tak lagi punya rasa itu. Bagaimana jika cinta dalam hatimu yang lebih dulu permisi? Sama saja, bukan? Ini hanya masalah waktu. Mengertilah.”

Mengerti? Bagaimana bisa aku mengerti. Aku merutuk dalam hati. Ini tidak hanya masalah rasa, namun juga masa depan. Dua tahun bersama, selalu aku sisihkan gajiku untuk kehidupan kami kelak. Kuabaikan bapak, yang wanti-wanti agar aku tetap di Gesing seusai kuliah. Kerap pula di akhir pekan aku tidak pulang agar aku bisa menghabiskannya bersama Sarah.

Dua kakakku sudah merantau ke Jakarta, bekerja di perusahaan. Tinggallah aku si anak ragil yang diharapkan untuk mendiami rumah. Namun, semua nasihat bapak aku pinggirkan. Selesai kuliah, aku tetap tinggal di Yogyakarta, menjadi marketing sebuah penerbit. Sarah yang kukenal ketika di bangku kuliah juga tidak kembali ke tempat asalnya. Ia merintis usaha pembuatan kaos bersama teman-temannya. Bagiku tergambar jelas bagaimana masa depan kami. Di Yogya, kami akan beranak-pinak. Jauh dari kesunyian Gesing yang membuatku tidak banyak bergerak.

“Sarah, apakah aku salah?” tanyaku kemudian. Kupandangi wajah ayunya. Matanya meredup. Sarah menggeleng.

“Aku pulang, Bagas!”

“Sarah!”

Kuburu Sarah.

“Mengapa? Mengapa, Sarah!” suaraku mulai meninggi.

Sarah terhenti.

“Ada janin di rahimku!” ucapnya dengan suara bergetar. Sarah berkelebat cepat menerobos kegelapan.

Aku terpaku. Cinta yang selama ini kurawat, ia cerabut dari hatiku. Serasa sanubari diiris dengan pisau tajam. Mengucur darah. Merah. Sementara gerimis di luar menyuarakan rintih-rintih perih.

***

Hari ini aku izin tak masuk kantor. Berbekal jaket tebal, kutinggalkan Kota Yogyakarta. Motor aku arahkan menyisir Jalan Imogiri Timur. Hari masih pagi. Semerawut anak-anak yang akan berangkat sekolah sudah terasa. Anak-anak berseragam putih-merah membonceng motor, berseliweran, mengingatkanku akan masa kecil.

Di pinggir pantai kecil Gunungkidul aku tumbuh. Sekolahku adalah sebuah SD yang jaraknya lima kilometer dari rumah. Berangkat pagi buta dengan berjalan kaki, hingga penat mendera tatkala kami tiba di sekolah. Kadang, kami berangkat diantar orang tua dengan bersepeda motor. Acap pula aku tidak berangkat sekolah gegara menanti Pak Lik Tarno pulang melaut.

Aku tidak suka menjadi nelayan seperti Pak Lik Tarno. Tubuhku terlalu ringkih berada di lautan. Pernah sekali aku ikut melaut, aku pulang dalam keadaan mabok parah. Isi perut kumuntahkan di tengah laut, menjadi santapan ikan-ikan. Tubuhku lemas sekali, hingga menjadi sibuknya Lik Tarno dan dua kawannya.

Bapakku sendiri seorang petani. Tanah dan ternaknya banyak. Lagi-lagi aku tidak begitu suka mengurusi kambing-kambing bapak. Apa enaknya, setiap hari mencari ramban di kebon untuk kambing-kambing itu. Maka ketika memandang laut sambil menanti kepulangan Lik Tarno, aku sering iseng membayangkan seandainya aku bisa begitu bebas. Merdeka seperti ikan-ikan di laut yang dapat mengarungi hamparan samudra.

Itulah sebabnya selepas SMP aku minta bersekolah di Kota Wonosari. Aku menumpang di rumah saudara bapak. Kendati merasa berat, bapak mengizinkan, termasuk keputusanku untuk kuliah di Yogya selesai SMA.

“Setelah kuliah, pulanglah, Le. Ini rumahmu. Siapa yang akan menempatinya? Bapak lahir besar di Gesing. Selama ini tak kekurangan pangan. Paling penting kita bekerja. Asal obah isa mamah,” ujar bapak suatu kali.

Ah, kata-kata bapak seolah mencukil lukaku. Tak aku turuti wejangannya, justru kini Sarah pergi.

“Bagas ingin maju, Pak. Di kota banyak hal yang bisa dilakukan. Lebih menjanjikan,” kilahku waktu itu.

Bapak tidak marah mendengar jawabanku. Bapak bergeming sesaat, kemudian sibuk menata dedaunan di kandang kambing.

Bayangan bapak membuatku sesak. Kualihkan pandanganku pada jembatan Siluk yang menyembul di ujung Jalan Imogiri Timur. Jembatan yang berdiri anggun itu tegak memayungi Sungai Oyo. Sungai yang membelah Selopamioro itu berkelok menyapaku hangat. Inilah titik di mana tanjakan, tikungan tajam, serta jalan menurun akan menjadi bagian perjalananku selanjutnya.

Kuperkirakan setengah jam lagi aku akan sampai rumah. Matahari pagi menyambutku. Sinarnya malu-malu mengintip dari sela-sela daun jati. Dengan kecepatan sedang kunikmati pemandangan jalan di atas bebukit ini. Meskipun wajah Sarah sesekali berkelebat di antara mobil-mobil bak terbuka berisi para buruh urban. Kerap pula senyum Sarah menikamku ketika motorku berpapasan dengan perempuan atau lelaki tua yang bertelanjang kaki menyusur jalan.

Para pejalan kaki itu, mereka adalah para penduduk yang akan ke ladang. Mereka pulang menjelang petang dengan menggendong dedaunan. Betapa yang sederhana itu membuat mereka tetap tersenyum. Sedangkan diriku? Lihatlah, aku pulang membawa luka. Luka yang akan aku basuh di antara ombak dan sauh. Atau barangkali akan aku urai lewat cerita yang aku tuturkan kepada Kinan, karibku.

Baca juga:   Resepsi Siswa Madrasah Tsanawiyah Kabupaten Bantul terhadap Cerpen Remaja pada Surat Kabar Kedaulatan Rakyat

***

“Kok tidak kasih kabar dulu, Le. Tidak biasanya pulang di hari kerja,” ibu menyambutku begitu suara mesin motor memasuki halaman rumah.

“Bagas kangen Ibu,” jawabku sekenanya. Kucium tangan keriput ibu. Tak ayal rindu itu merasuk tiba-tiba.

“Bapak di mana, Bu?”

“Bapakmu sudah berangkat ke Panggang, ke rumah Lik Siti. Mungkin siang sudah pulang. Makanlah dulu, Bagas, atau beristirahatlah,” tutur ibu seraya mengambil ransel yang baru saja aku turunkan.

Ah, bapak. Di masa tua tak selayaknya sering pergi sendirian.

“Bagas ingin ke pantai, Bu. Barangkali sudah ada perahu yang merapat.”

Kuturuti langkah kakiku menuju “pelabuhan kecil” kami. Tiga puluhan perahu bercat biru memenuhi bibir pantai. Di depan bangunan Tempat Pelelangan Ikan tampak banyak orang berkumpul. Mobil pick up milik pengepul ikan juga sudah terparkir.

Pukul delapan pagi. Biasanya perahu nelayan yang berangkat kisaran pukul empat sore telah kembali. Melihat sumringahnya wajah-wajah para nelayan, dapat dipastikan perahu mereka penuh ikan. Aku mendekat ke tempat pelelangan ikan. Sekilas kerapu, keting, kakap merah, remang, serta pari memenuhi lantai bangunan TPI, siap untuk ditimbang.

“Bagas, kapan pulang?” Lik Tarno memanggilku. Tangannya masih sibuk mengepaki jaring dan pancing.

“Tadi, Lik! Panen, ya!”

“Ada caru kalau mau kau bawa,” Lik Tarno memperlihatkan seekor ikan putih besar kepadaku.

Bagiku ikan caru sudah enak meski hanya digoreng. Terlebih jika ditemani sambal terasi. Kalau hanya menginginkan olahan ikan, di tempat ini banyak warung yang menyediakannya. Mau dibakar, digoreng, dimasak asam manis, asam pedas, tinggal memilih. Akan tetapi bukan itu tujuanku. Aku ingin bertemu Kinan.

Matur nuwun, Lik. Saya ingin jalan-jalan dulu.”

Basa-basiku menuntunku menuju pantai. Berjalan di pasir putih nan lembut, mencelupkan kaki pada air bergradasi bening, hijau, biru. Kuhirup dalam-dalam udara pantai yang khas. Menghempaskannya perlahan bersamaan dengan ombak kecil yang menjilati pasir.

Baca juga:   Tarian Canting

Di kejauhan kulihat Kinan. Gadis berperawakan sedang itu sibuk bermain air di dekat tebing. Kinanti tidak pernah berubah. Sejak kecil tempat itulah yang paling ia senangi.

“Kinan!”

Kinanti menoleh dan melambaikan tangannya. Berlari kecil aku dekati gadis itu.

“Kapan pulang? Bukunya mana?”

Kukeluarkan sebuah novel yang masih tersegel. Setiap kali aku pulang, selalu Kinanti minta dibawakan buku atau novel anyar. Sama sepertiku, Kinanti juga kuliah di Yogya. Kinanti juga senang mengembara. Bedanya, setelah kuliah ia mengabdikan diri menjadi guru di SD kami dulu. Ia lebih menuruti nasihat orang tuanya. Kinanti mengalah karena ia anak satu-satunya. Menimbang betapa kelahirannya sudah lama dinanti-nantikan.

“Kau tidak ngajar?”

“Aku hanya masuk tiga hari. Hari ini libur agar bisa memandang laut di antara dua tebing ini!” Kinanti menunjuk salah satu tebing yang mengapit Pantai Gesing.

Mengikuti telunjuk Kinanti kudapati lautan membiru, berpadu dengan langit cerah. Dua tebing penuh tumbuhan hijau memagari Pantai Gesing serupa benteng kokoh melingkupi taman cantik. Tahun lalu, akses jalan menuju pantai belumlah sesempurna sekarang. Jalan berbatu yang cukup merepotkan pengendara pernah dikeluhkan para pengunjung, termasuk Sarah.

Sarah, lagi-lagi nama itu melintas. Mengingatnya berderet pula rasa dikhianati, ditikam, ditinggalkan, hadir timbul tenggelam. Tidak pernah aku bayangkan Sarah akan menderaku sedemikian rupa. Cinta adalah saling menjaga. Bukan seperti ini jadinya. Hangat. Bening mengalir kembali bercampur dengan tempias ombak membentur karang.

“Kau kenapa, Bagas?”

Kinanti, gadis itu selalu cepat menangkap perasaanku. Aku terdiam, mencoba mengamati gazebo-gazebo kecil di atas tebing. Gesing memang kian molek. Beberapa rumah makan di atas tebing semakin melengkapi kenyamanan tempat ini. Seharusnya di tempat elok ini aku juga merasa damai jika nama Sarah dapat segera hilang.

“Kalau mau cerita, bicara saja!”

Kinanti berjalan menyisir pantai. Aku mengikutinya. Kinanti tak ubahnya laut. Laut yang tenang, kendati banyak sampah dan kotoran sungai bermuara di sana, namun segalnya ia endapkan. Pun Kinanti. Segala rupa cerita aku tumpahkan kepadanya, dan ia tetap tersenyum.

“Sarah telah pergi. Ia tak lagi mencintaiku,” kataku lirih. Kinanti memandangku.

“Rasanya sakit,” lanjutku. Hening.

“Memang itu kenyataannya. Sayangnya, engkau baru tahu,” akhirnya Kinanti membuka suara.

“Maksudmu?”

“Apa pernah engkau ke rumahnya? Engkau belum tahu rumahnya, kan? Seberapa sering ia ke sini bertemu dengan orang tuamu? Seingatku baru sekali. Terus seberapa sering engkau bicarakan rencana pernikahan dengannya?”

Kata-kata Kinanti menusuk-nusukku. Biarpun aku mengiyakannya. Ya, Sarah selalu menolak setiap kali aku ingin mengantarnya pulang. Ia juga menghindari pembicaraan berkenaan dengan tujuan hubungan kami.

“Bagas, dulu aku sepertimu, ingin pergi ke kota, mencari penghidupan yang lebih baik. Tapi itu tak sepenuhnya benar, selain aku anak satu-satunya, seharusnya aku bisa memberikan yang terbaik untuk tanahku,” Kinanti mengalihkan pembicaraan.

Mungkin itu sebabnya ia memilih menjadi guru honorer SD. Namun aku menanggapinya dengan memainkan kakiku di atas pasir.

“Sudahlah, Bagas! Lebih baik engkau turuti nasihat Pak Dullah, bapakmu, untuk tinggal di sini!”

Aku tercenung. Gesing yang dulu sunyi memang mulai berbenah. Biasanya hari libur banyak pengunjung dari luar daerah yang singgah. Menurut kabar, beberapa warga sudah berencana membangun penginapan.

“Baiknya memang aku bangun rumah kita di atas bukit, dan anak-anak kita bahagia berlarian di pinggir laut,” kataku begitu saja.

“Kita? Maksudmu?” Kinanti terlihat salah tingkah.

Kulirik ia. Pipi putihnya bersemu merah. Aku sendiri terkejut dengan apa yang kukatakan. Jangan-jangan aku baru tahu apa yang ada di antara kami. Entahlah.

Kujawil tangan Kinanti. Kuajak ia melanjutkan menapak di atas pasir putih, menikmati nyanyian angin di Pantai Gesing. (*)

Cerpen ini adalah pemenang pertama pada Lomba Menulis Cerita Pendek Tingkat Nasional Festival Geopark Gunung Sewu, 2016.

12 KOMENTAR

  1. Koq jadi baper aku bacanya, aku menanti akan meluncur narasi melo spt roman picisan. Tak tunggu tunggu di larikan kalimat berikutnya nggak ketemu.
    Ach…secepat ini cerpen ini berakhir.

    Selamat bu ketum.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

Tulisan Terbaru

Komentar Terbaru

Sedang Populer

1,023FansLike
37FollowersFollow