Sunday, November 1, 2020
Beranda Gagasan Ilmiah Populer Stoicism: Obat Antibaper dari Yunani

Stoicism: Obat Antibaper dari Yunani

Lena Citra Manggalasari
Alumni Technische Universität Dresden dan Kandidat Doktor PTK Universitas Negeri Yogyakarta

Suyanto.id–Baper merupakan kata yang sering diucapkan oleh anak zaman sekarang, yaitu kependekan dari ‘bawa perasaan’, sebagai sebuah reaksi emosi atas kekecewaan, kegelisahan, kegalauan, kebingungan, perasaan tidak terima, atau amarah atas sebuah kejadian yang menimpa seseorang. Baper sendiri dialami oleh manusia dari berbagai tingkatan usia dan mungkin tak terkecuali kita.

Berapa banyak dari kita yang melampiaskan baper dengan menghamburkan uang di pusat perbelanjaan, makan di restoran mahal, membeli barang-barang bermerek, ke salon atau liburan mahal? Mungkin banyak dari kita yang jika baper menjadi tidak produktif karena menghabiskan waktu untuk curhat sana-sini, menangis, meratap, menyalahkan Tuhan, serta menyalahkan orang lain dan keadaan.

Reaksi emosi tersebut sangat manusiawi, tetapi jika kita bisa memahami setiap kejadian dengan cara pandang yang berbeda, datangnya hal yang tidak kita duga atau sukai justru bisa menjadikan kita lebih produktif dan terhindar dari baper. Lebih dari itu, dengan pemahaman yang baik, sebuah masalah bisa menjadi hikmah.

Sebuah mahzab filsafat Yunani kuno yang berusia lebih dari 2000 tahun, stoicism atau sering juga disebut stoa, masih sangat relevan untuk dipelajari dan diaplikasikan dalam kehidupan modern untuk menghindari baper dalam menjalani hidup.

Stoa percaya bahwa emosi negatif seperti baper dapat menghancukan manusia dan kehidupannya. Aliran filsafat yang dicetuskan oleh Zeno ini dianut oleh filsuf-filsuf besar, seperti Seneca, Epictetus, dan Marcus Aurelius. Dalam stoa, kebahagiaan tidak terletak pada uang, kesehatan, atau jabatan, tetapi pada pola pikir kita; bahwa hidup yang bahagia adalah hidup yang selaras dengan alam dan tidak sebaliknya. Bagi orang beriman, hal ini dapat diartikan menerima semua kejadian dalam hidup, baik atau buruk sebagai kehendak Tuhan. Di mana orang beriman mempercayai bahwa Tuhan selalu memberikan yang terbaik bagi manusia.

Orang-orang penganut stoa juga percaya bahwa dikotomi kendali sangat penting untuk dipahami dan diaplikasikan. Jika kita memahami, mana saja yang ada dalam kendali kita dan yang tidak ada dalam kendali kita, kita akan terhindar dari baper. Hal-hal yang tidak ada dalam kendali kita, seperti kematian, penyakit, wabah, pikiran orang tentang kita, bencana alam, dan musibah sebaiknya dilepaskan karena memang tidak ada dalam kendali kita. Jadi jika, saat ini kita hidup dalam pandemi atau pikiran orang terhadap kita kurang baik, sebaiknya kita justru tidak fokus ke hal tersebut karena tidak ada dalam genggaman kita.

Baca juga:   Belajar Bermakna di Masa Pandemi Covid-19

Hal yang ada dalam genggaman kita merupakan cara pandang kita terhadap pandemi dan bagaimana menjalani hidup dalam pandemi. Penganut stoa akan memilih tetap produktif, berusaha mencari peluang, serta melakukan apa yang dapat dikerjakan di masa pandemi daripada marah kepada Tuhan. Pikiran atau kata-kata negatif orang pada kita juga tidak akan dianggap karena termasuk dalam hal yang tidak ada dalam kendali. Pepatah “anjing yang menggonggong tidak akan menggigit” memang ada benarnya, anjing yang menggonggong, tidak mungkin bisa menggigit karena dia sibuk menggonggong. Tentu saja ini hanyalah sebuah perumpamaan.

Dalam stoa segala hal yang terjadi dalam hidup adalah netral, tidak ada yang baik dan buruk. Cara pandang kitalah yang menentukan hal-hal tersebut buruk atau baik. Hidup akan terasa ringan jika selaras dengan alam. Orang-orang yang masih belum dapat menerima bahwa pandemi belum berakhir, masa pensiun sudah datang, usaha bangkrut, di-PHK, mengalami perceraian, baju basah kuyup karena kehujanan akan merasa bahwa hidup ini berat karena jalan pikirnya tidak mengalir bersama alam. Padahal, alam selalu memberikan hal yang silih berganti seperti datangnya siang dan malam, juga badai yang tidak mungkin berlangsung selamanya, ada masa di mana cuaca cerah, pelangi membentang dan camar berkicauan.

Baca juga:   Belajar Bermakna di Masa Pandemi Covid-19

Dalam kehidupan, sering sekali kebahagiaan tidak dihadirkan dengan bungkus yang mewah penuh pita, tetapi berbalut duka dan kekecewaan. Itulah mengapa stoa mengajarkan kita untuk hidup selaras dengan alam karena ketika kita selaras dengan alam, duka, dan kekecewaan akan berubah menjadi pemahaman yang mendamaikan.

“It is not things in themselves that trouble us, but our opinions of things.” (Epictetus). (*)

2 KOMENTAR

  1. saya jadi dapat persepsi yg lebih jelas dan ramah dalam melihat fenomena baper. Ternyata…penyebab baper bukan faktor eksternal, padahal selama ini cari solusinya selalu pada eksternal. Pantesan…bapernya enggak pernah slesai.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

Tulisan Terbaru

Pendidikan yang Memerdekakan

Puisi Pemuda

Udan Sore

3

Komentar Terbaru

Sedang Populer

1,044FansLike
44FollowersFollow