Sunday, February 5, 2023
spot_img
BerandaGagasan Ilmiah PopulerTantangan Global Pendidikan

Tantangan Global Pendidikan

Prof. Suyanto, Ph.D.
(Penulis adalah Guru Besar FE Universitas Negeri Yogyakarta)

Setiap tanggal 2 Mei bangsa Indonesia memperingatanya sebagai Hari Pendidikan Nasional. Dalam peringatan Hari Pendidikan Nasional kali ini menjadi sangat penting untuk melakukan refleksi bersama secara personal maupun secara kolektif terhadap cita-cita besar dan luhur dalam bidang pendidikan: mencerdaskan kehidupan bangsa. Cita-cita luhur itu kemudian dibingkai menjadi lebih fokus dan spesisik, diberi dasar ideologi bangsa sehingga menjadi rumusan yang lebih ideologis dan filosofis sebagaimana didokumentasikan di dalam UU Sistem Pendidikan Nasional kita, berbunyi: Pendidikan nasional berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Fungsi dan tujuan pendidikan nasional tersebut sangat visioner, dan bahkan seakan tak lekang di makan zaman. Meski demikian, praksis pendidikan tidaklah selalu sama dan seiring dengan tujuan dan fungsi yang telah terumuskan secara visioner tersebut. Hal ini terjadi karena dunia global dengan berbagai inovasi dalam bidang teknologi informasi dan komunikasi bergerak dan tumbuh secara amat dinamaik. Pertumbuhan dan pergerakan itu suka tidak suka akan berpengaruh dalam semua aspek kehidupan kita. Sementara praksis pendidikan kita berjalan belum lebih cepat dari pertumbuhan dan perkembangan dunia global. Oleh karena itu proses dan praksis pendidikan kita akan selalu diuji oleh kekuatan-kekuatan global sehingga pada akhirnya akan menghadapi tantangan yang nyata terutama dalam aspek kualitas dan relevansinya.

Coba saja misalnya kita melongok pada gerakan global yang lebih dekat dengan Indonesia, Masyarakat Ekonomi Asean. Gerakan global ini akan dimulai dan dipraktikkan pada bulan Desember 2015. Sudahkan pendidikan kita mengantisipasi bagaimana membuat program-program belajar yang relevan dengan tuntutan kualitas dan relevansi terhdap berlakunya praktek global meskipun hanya berskala ASEAN? Sungguh hal ini akan menjadi tentangan bagi dunia pendidikan kita agar fungsidan tujuan pendidikan nasional sebagaimana dimandatkan oleh UU Sisdiknas tersebut di atas dapat terwujud.

Baca juga:   Buku Kurikulum 2013

Jika sektor pendidikan kita mampu mengembangkan dan mencapai fungsi dan tujuan tersebut, tentu kita tidak akan panik menghadapi gerakan global Masyarakat Ekonomi Asean. Ketika Masyarakat Ekonomi Asean nanti diberlakukan, kita harus menerima konsep yang telah disepakati bersama bahwa akan diterapkan basis kerja dan paradigma ekonomi satu produk satu pasar untuk bangsa Asean. Dampaknya produk kita akan bersaingsecara bebas. Thiwul Gunungkidul bisa jadi nanti akan harus bersaing dengant hiwul dari Thailand, Malaysia, Vietnam. Begitu pula dalam bidang jasa, pendidikan, kesehatan, dan ekonomi kreatif kita juga harus bersaing head to head dengan bangsa lain di Asean ketika Masyarakat Ekonomi Asean telah menjadi kenyataan pada bulan Desember nanti.

Lalu apa yang dapat dilakukan oleh dunia pendidikan di republik ini agar kita bisa berjaya dalam menghadapi tantangan global seperti itu? Mau tidak mau dunia pendidikan harus mengusung kebijakan kualitas dan relevansi tanpa kompromi. Untuk bisa demikian pendidikan perlu membelajarkan peserta didik di semua jenjang pendidikan akan pentingnya penguasaan keterampilan abad 21 di mana gerakan global pengetahuan, teknologi dan kehidupan selalu terjadi. Pearson, dalam Learning Curve Report 2014, telah berhasil memetakan delapan keterampilan abad 21 yang perlu dikuasai oleh peserta didik agar mereka bisa hidup dalam era global abad 21. Delapan keterampilan itu meliputi: (1) Leadership; (2) Digital literacy; (3) Communication; (4) Emotional intelligence; (5) Entrepreneurship; (6) Global citizenship; (7) Problem Solving;  dan (8) Team-working.

Itulah tantangan pendidikan kita di era global abad 21. Semoga kesadaran kolektif kita bisa membuat kualitas dan relevansi pendidikan nasional selalu terjaga dengan baik, sehingga keterampilan hidup abad 21 bisa kita miliki bersama sebagai sebuah bangsa yang mandiri, bermartabat, dan berdaulat.

Tulisan ini terbit pertama di Harian Kedaulatan Rakyat edisi 2 Mei 2015.

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

Tulisan Terbaru

Cinta

0

Janji Proklamasi

1

Pelayatan Agung

0

Ziarah

1

Komentar Terbaru

Sedang Populer

1,166FansLike
68FollowersFollow