Sunday, February 5, 2023
spot_img
BerandaGagasan Ilmiah Populer(Ter)-Jerat dalam “Toxic Relationship”

(Ter)-Jerat dalam “Toxic Relationship”

Awanis Akalili, S.I.P., M.A.
Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Negeri Yogyakarta

“Saya menyayangimu, tetapi Anda harus….”

“Saya akan bunuh diri jika berpisah denganmu, maka Anda jangan….”

“Anda tidak boleh ini, tidak boleh itu, Anda harus….”

“Oh, Anda tidak mau memberi saya? Anda tidak menyayangi saya, ya?”

“Anda tidak akan menemukan yang lebih baik selain saya.”

“Awas kalau Anda macam-macam ya, akan saya….”

Dominasi, bahkan hegemoni, ancaman, manipulasi bujuk rayu coba untuk disampaikan demi “mengikat”  seseorang dalam jalinan kasih sayang dan cinta. Kekerasan, baik verbal maupun nonverbal (fisik) pun kerap dilakukan. Pukulan, kata-kata kasar, serta intimidasi menjadi hal yang biasa dan dibiasakan. Hal menyakitkan tersebut terlanjur melembaga dan melebur di dalam keseharian. Lalu pertanyaan yang muncul, mudahkah keluar dari jeratan tersebut? Tidak semudah itu, karena terkadang beberapa orang memiliki ketakutan untuk mengakhiri hubungan tersebut, cemas, depresi, dan tak jarang di antaranya mengalami rasa trauma.




Menjalin hubungan akan menjadi menyenangkan ketika kedua pihak bisa saling berkomunikasi. Bernegosiasi untuk mendapatkan jalan tengah, bukan saling mendominasi atau bahkan menghegemoni. Dominasi dilakukan untuk melemahkan individu yang dianggap lemah, menundukkan salah stau pihak, juga menguasai apa yang tidak menjadi haknya.

Hubungan yang didefinisikan baik ialah ketika segala sesuatunya bisa dibicarakan bersama, mendiskusikan masalah untuk mencari resolusi konflik dan tentunya rasa nyaman serta aman yang diperoleh. Sayangnya, hubungan ideal yang dibayangkan tersebut hanya muncul di dalam imajinasi seseorang ketika ada salah satu di antaranya yang mencoba untuk melukai dengan dalih “saya melakukan ini karena saya menyayangimu”.

Berani jatuh cinta, maka juga berani menghadapi segala masalah, tantangan, serta rintangan ke depannya, termasuk sakit psikis dan sakit fisik. Diksi toxic relationship mulai terdengar ketika pasangan membuka dirinya untuk bercerita mengenai pengalaman suram yang pernah dialami. Perempuan kerap menjadi korban dari kondisi seperti ini, meskipun juga ada beberapa di antara laki-laki yang pernah mengalaminya. Bahasan mengenai toxic relationship bukan sekadar diksi populer yang terdengar di kalangan mileneal, tetapi kondisi serius yang dapat menyerang fisik maupun psikis seseorang.

Mengutip pemikiran J.A. McGruder (2018) dalam bukunya berjudul Cutting Your Losses From a Bad or Toxic Relationshiptoxic relationship ialah kondisi di mana hubungan ditandai oleh perilaku secara emosional dilampiaskan oleh seseorang bahkan tak jarang melukai fisik pasangannya. Toxic relationship tidak hanya muncul pada hubungan kekasih, namun juga keluarga, pertemanan, kolega. Ada beberapa hal yang mengindikasi hubungan toxic, seperti ketidakpercayaan pada pasangan sepenuhnya, emosi dan agresif, memanipulasi diri, berbohong pada pasangan, serta melakukan kekerasan untuk mengikat pasangan tersebut agar selalu bersamanya.

Baca juga:   Netizen dan Perkara Kerudung

Berbohong demi kebaikan, tidak nyaman namun “pura-pura” nyaman dan merasa semua baik-baik saja, memilih untuk menghindari masalah tetapi tetap menjalin keterikatan hubungan, melukai fisik dan menguasai fisik pasangannya dengan dalih “Mengapa kau tidak bersedia? Berarti kau tidak mencintai saya!” ialah beberapa bentuk hubungan toxic. Terjebak dalam hubungan tersebut tentu menyakitkan, baik psikis maupun fisik. Ya, berjuang untuk keluar dari hubungan toxic memang bukan perkara mudah, manipulasi bujuk rayu yang kerap dilontarkan pasangan dengan berkata seolah-olah ialah yang terbaik, yang bisa memberikan segalanya dengan cara mengancam “jika tidak bersama saya, Anda akan mendapatkan karma!” adalah ancaman menakutkan bagi siapa pun yang menjalaninya.

Mencari kegiatan positif, mencoba berpikir dengan logika dan mencintai diri sendiri sebelum memutuskan untuk mencintai orang lain bisa diupayakan untu meminimalisasi jeratan toxic relationship. Menemukan pasangan yang ideal tentu impian semua orang, namun manusia tidaklah selalu memperoleh apa yang dibayangkan. Hidup tentu memiliki masalahnya masing-masing, bahkan dalam menjalin sebuah hubungan.

Jika memang menjalin hubungan bisa menambah energi positif kita, belajar bersama, berdiskusi tentang segala sesuatu dari berbagai perspektif, juga berproduksi bersama tentu akan menyenangkan. Namun, jika menjalin hubungan membuat kita depresi karena adanya dominasi dari salah satu pasangan, negosiasi yang tak pernah bisa tercapai karena alasan-alasan tidak logis dari pasangan, hingga kata-kata kasar, upaya untuk mengancam dan tindak kekerasan, maka tinggalkanlah pasangan tersebut. Meninggalkan hubungan yang toxic ialah sebuah pilihan ketika tidak ada lagi kebahagiaan yang dirasakan. Dilihat dari sudut pandang apapun, when you are in a toxic relationship, it can damage your self-esteem and poison your life (Lee, 2018).

Jika memang mengakhiri bisa membuat kita lebih sehat dan baik, mengapa harus secara sukarela disakiti dalam jeratan hubungan?

Bahan Bacaan

Lee, Morgan. 2018. Toxic Relationships – 7 alarming signs that you are in a toxic relationship. California: Create Space.

McGruder, J.A. 2018. Cutting Your Losses From a Bad or Toxic Relationship. Bloomington: Xlibris.

spot_img

5 KOMENTAR

  1. Tidak bisa lepas dari ikatan bisa juga karena tidak melihat adanya alternatif lain. Ibarat kodok dalam tempurung, peteng. Ada juga yg tidak bisa lepas karena kadung terikat doktrin, bahwa mempertahankan hubungan ini adalah ibadah, ladang pahala, urip mung sepiro to, seperti itu. Sehingga seolah-olah ia pun “menikmati” penderitaan hubungan tsb. Bahkan dengan keyakinannya itu, repetisi masalah yg sama akan terus terjadi. Seakan-akan dia sendiri yg mengundang masalah tsb. Padahal kan takdir bisa diubah. Bagaimanapun juga kisah-kisah kehidupan itu unik. Namun masing-masing ada kedekatan yg relevan., dengan itulah harapannya orang yang dianggap bermasalah bisa ngudari reribed.

    Terima kasih, Prof, tulisannya mencerahkan kami _/|\_

  2. Tulisan yang bagus, menambah wawasan. Kalau yang sudah suami istri jangan dipraktekkan tapi saling menyesuaikan supaya tetap utuh sampai kaken2 ninen2 seperti prof suyanto

  3. Tulisan yang sangat relevan untuk dibaca bagi remaja, dewasa maupun orang tua yang mengidap Bucin, relationship yang baik adalah yang saling menghargai pribadi pasangan masing-masing. Saling menjadi kata kunci dalam setiap hubungan karena masing-masing pribadi memposisikan diri sebagai subjek sehingga relationship sesungguhnya merupakan relasi subjek dengan subjek bukan subjek dengan objek.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

Tulisan Terbaru

Cinta

0

Janji Proklamasi

1

Pelayatan Agung

0

Ziarah

1

Komentar Terbaru

Sedang Populer

1,166FansLike
68FollowersFollow