Saturday, December 5, 2020
Beranda Gagasan Ilmiah Populer UKA dan Mutu Guru Kita

UKA dan Mutu Guru Kita

Prof. Suyanto, Ph.D.
(Guru besar Universitas Negeri Yogyakarta Plt. Dirjen Pendidikan Dasar Kemdikbud)

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) baru saja menyelenggarakan uji kompetensi awal (UKA) terhadap guru-guru kita yang akan memasuki proses sertifikasi. Tujuan utama UKA sangat jelas, masuk akal, dan demikian valid, yaitu: untuk melakukan (1) pemetaan kompetensi guru pada berbagai jenjang dan jenis pendidikan, (2) seleksi kelayakan guru untuk memasuki proses sertifikasi, dan (3) membuat acuan bagi program pendidikan dan latihan bagi para calon guru serta guru di masa kini dan mendatang. Keputusan Kemdikbud untuk melaksanakan UKA itu sungguh sangat tepat, meskipun ada kelompok masyarakat tertentu yang kurang dan tidak setuju. Hal itu sangat wajar dan bisa dipahami.

Mengapa demikian? Karena setiap inovasi dilakukan, di sektor mana pun, selalu saja ada kelompok-kelompok orang yang masuk dalam kategori late adaptor dan bahkan selalu saja ada kelompok yang menolak. Adalah Everett Rogers, ilmuwan dan peneliti amat terkenal yang berhasil meneliti persoalan tetek-bengek difusi inovasi. Dalam bukunya, Diffusion of Innovations, dijelaskan memang ada enam karakteristik intrinsik yang sangat berpengaruh terhadap keputusan seseorang dan bahkan kelompok orang dalam masyarakat, apakah mereka bisa mengadopsi (menerima) atau bahkan menolaknya sama sekali terhadap suatu inovasi. Apa gerangan enam karakteristik intrinsik itu? Keenam karakteristik yang berpengaruh itu meliputi relative advantage, compatibility, complexity or simplicity, trialability, dan observability.

Karena itu, bisa jadi, kelompok yang tidak setuju atau bahkan telah menyatakan menolak UKA, sesuai dengan teori difusi inovasi Rogers, adalah mereka yang belum atau tidak mampu melihat dan memersepsikan bahwa uji kompetensi itu memiliki keuntungan relatif bagi proses peningkatan profesionalisme guru, masih kompatibel dengan apa yang selama ini para guru lakukan dalam uji-menguji di sekolah masing-masing. Sederhana karena yang diuji adalah kompetensi akademik keseharian ketika guru mengajar di kelas. Bisa dicoba sendiri atau dipelajari dengan kelompok kerja guru yang ada dan sungguh sangat bisa diamati karena uji kompetensi itu bahannya bisa diprediksi dengan cara melatih diri sebelum uji kompetensi dilakukan.

Itulah sebabnya, dalam setiap inovasi, Rogers memetakan adanya lima tahap kemungkinan terjadinya adopsi, yaitu: knowledge, persuasiondecisionimplementation, dan conformation. Kita bersyukur karena Kemdikbud telah selesai melakukan UKA dengan gemilang. Persoalan berikutnya, bagaimana kementerian memasuki tahap pemanfaatan hasilnya secara efektif sehingga pada akhirnya UKA akan membawa kemaslahatan bagi peningkatan profesionalisme guru dan berguna bagi semua stakeholder pendidikan, tua-muda, pria-wanita, baik yang berpolitik maupun tidak.

Hasil UKA?

Tahun 2012 ini, UKA dilaksanakan pada Februari lalu di seluruh provinsi dan diikuti 281.016 guru SD, SMP, SMA, dan SMK dari yang telah mendaftar sejumlah 285.884 orang. Jumlah peserta UKA ini sangat besar, sehingga hasilnya bisa digunakan untuk kepentingan penilitian lanjut terkait kompetensi akademik guru di berbagai bidang mata ajar mereka. Karena jumlah pesertanya yang besar itu, data terkait hasil UKA dapat dimanfaatkan lebih lanjut untuk melakukan berbagai analisis inferensial dengan nilai-nilai statistik yang pasti signifikan dengan confident interval yang tinggi dan robust.

Karena itu, data UKA ini bisa digunakan untuk kepentingan penelitian ilmiah bagi semua perguruan tinggi, terutama bagi perguruan tinggi yang memiliki mandat untuk memproses pendidikan dan pelatihan guru dan calon guru. Tidak saja untuk kepentingan skripsi S-1, data UKA juga akan sangat berguna bagi kepentingan tesis S-2 dan disertasi S-3 di perguruan tinggi kita. Jika saja data UKA ini bisa dikomunikasikan dengan perguruan tinggi, sungguh amat memudahkan para mahasiswa kita dalam melakukan penelitian tugas akhir mereka. Ibarat sambil menyelam minum air, penyelenggaraan UKA memang banyak manfaatnya, baik bagi kepentingan peningkatan profesionalisme guru maupun bagi pengembangan penelitian terapan terkait dengan beragam variabel yang bisa digunakan untuk menjelaskan tinggi rendahnya kompetensi guru.

Bagaimana hasil UKA? Secara nasional, nilai UKA bagi guru tanpa melihat bidang studi dan jenjang pendidikan memiliki nilai tertinggi 97,0 dan nilai terendah 1,0, dengan nilai rerata (mean) 42,25 dan standar deviasi 42,25. Inilah yang mengejutkan. Dari nilai maksimal 100, guru kita rata-rata secara anasional hanya mampu mencapai nilai 42,50. Ini berarti, kompetensi guru kita masih rendah. Di samping itu, yang membuat kita masygul adalah adanya nilai 1,0 di antara para guru kita, meskipun hanya seorang, masing-masing di jenjang pendidikan TK dan SMP.

Potret nilai uji kompetensi guru kita secara nasional jika diambil nilai ekstremnya, terendah dan tertinggi, untuk masing-masing jenjang pendidikan adalah sebagai berikut: untuk guru TK, dengan peserta 23.753, memiliki rerata 58, 87; dengan nilai minimum 1,0 (seorang) dan nilai tertinggi 90,0 (seorang); guru SD yang ikut UKA sebanyak 164.539 mencapai nilai rerata nasional 36,86, nilai terendah 3,0 (seorang) dan nilai tertinggi 80,0 (seorang).

Bagaimana dengan guru SMP? Untuk guru SMP, peserta UKA sebanyak 51.238 orang dengan rerata nilai nasional 46,15, nilai terendah 1,0 (seorang) dan nilai maksimumnya 87,5 (seorang). Selanjutnya, guru SMA, dengan jumlah peserta 18.125 orang, memiliki statistik nilai rerata nasional 51,35, dengan nilai terendah 11 (seorang) dan nilai tertinggi 90,0 (dua orang). Kemudian, untuk guru SMK, jumlah peserta UKA 15.105 orang, dengan capaian rerata nasional 50,02, nilai minimal 4,0 (empat orang) dan nilai tertinggi 97,0 (seorang).

Akhirnya guru kita yang bekerja di sekolah luar biasa (SLB) mengikuti UKA sebanyak 2.446 orang, memiliki nilai rerata nasional 49,07 dengan nilai minimum 13,0 (seorang) dan nilai tertinggi 95,0 (seorang). Dari data sederhana itu dapat dilihat, ternyata guru SMK relatif lebih baik kompetensinya jika dibandingkan dengan guru jenjang pendidikan lainnya. Meskipun demikian, secara umum, kompetensi guru kita untuk semua jenjang pendidikan memang belum berada pada penguasaan kompetensi yang ideal. Rerata nilai secara nasional masih berada pada nilai tengah skala skor UKA.

Hal ini berarti, guru memang harus tetap mendapatkan in-service training secara teratur, tersistem, dan berkesinambungan seperti layaknya profesi dokter. Sebagian besar guru kita sejak menamatkan pendidikan di perguruan tinggi tidak pernah mendapatkan berbagai macam pelatihan dan penataran. Akibatnya, penguasaan kompetensinya bisa diduga rendah dan terbukti rendah sesuai dengan hasil UKA.

Lain halnya dengan profesi guru di Singapura, misalnya. Di negara kecil itu, guru selalu mendapatkan hak untuk mengikuti in-service training setidaknya 30 jam setiap tahun. Sadar akan pentingnya guru mampu menguasai kompetensinya, republik ini telah membuat Undang-Undang (UU) Guru dan Dosen, UU Nomor 24 Tahun 2005, yang mengamanatkan pemerintah untuk memberikan berbagai bentuk pelatihan dan penataran. Dalam Pasal 14 ayat (1) huruf d dan k jelas disebutkan: ”Dalam melaksanakan tugas keprofesionalan, guru berhak: d) memperoleh kesempatan untuk meningkatkan kompetensi; k) memperoleh pelatihan dan pengembangan profesi dalam bidangnya. Karena itu, pelaksanaan UKA sungguh ibarat gayung bersambut. Memetakan kompetensi sekaligus melaksanakan amanat UU Guru dan Dosen Pasal 14 itu.

Hasil UKA memang membuat kita masygul. Tetapi para guru tidak boleh putus asa. Harus ada komitmen untuk belajar sepanjang hayat. Di bidang profesi lain pun, kalau saat ini diadakan uji kompetensi, tentu belum ada jaminan mereka mendapatkan nilai yang baik dan ideal. Mudah sekali kita amati, banyak produk hasil layanan profesi lain selain guru di sekitar kita, di jalan, di kantor, di bandara, di pasar, yang menunjukkan rendahnya kompetensi kinerja mereka. Di sisi lain, pemerintah memang perlu segera membuat program pelatihan dan penataran guru (in-service training) secara massif untuk melaksanakan Pasal 14 UU Nomor 24 Tahun 2005 tersebut.

Begitu juga pemerintah kabupaten dan kota, terutama yang hasil UKA guru-gurunya menunjukkan nilai rerata rendah, seperti Kabupaten Kepulauan Mentawai, Dogiyai, Barito Utara, Morotai, Lampung Barat, Intan Jaya, Nias selatan, Gunung Emas, Buru Selatan, dan Halmahera Timur, perlu melakukan penataran dan pelatihan bagi guru-gurunya secara berkesinambungan. Kabupaten-kabupaten itu adalah penghuni peringkat 10 kabupaten terendah nilai skor UKA bagi guru-gurunya, dengan rentang rerata skor 26,60-30,68.

Dilihat dari sisi anggaran pemerintah yang telah dialokasikan untuk membayar tunjangan guru, memang sudah saatnya kinerja dan kompetensi guru selalu harus meningkat. Bayangkan, tahun 2012 ini saja, pemerintah menganggarkan dana setidaknya Rp 32 trilyun untuk membayar tunjangan guru. Ibarat membeli produk jasa, dengan anggaran sebesar itu, pemerintah memang memiliki hak dan kepantasan untuk meminta guru agar semakin profesional. UKA merupakan salah satu jalan untuk menuju profesionalisme guru.

Dilihat dari aspek pedagogis, memiliki guru yang profesional memang sangat penting bagi terselenggaranya proses pembelajaran yang mampu memberdayakan peserta didik. Guru yang baik dan profesional harus mampu menginspirasi para siswanya. Untuk dapat demikian, ia harus bisa menaruh ekspektasi yang tinggi bagi para siswanya. Sebagaimana halnya Rosenthal dengan penelitian pygmalion effect-nya, secara konklusif menemukan, dengan guru yang menaruh ekspektasi semakin tinggi terhadap siswanya, maka para siswa akan memiliki kinerja yang semakin baik pula. Jadi, di sini terjadi fenomena self-fulfilling prophecy. Hal ini hanya bisa dilakukan dan terjadi pada guru yang memiliki penguasaan bidang studi yang baik.

Begitu juga pada penelitian John I. Goodlad, yang kemudian dipublikasikan dalam buku Looking Behind Classroom Door, dengan jelas ditemukan bahwa ketika guru memasuki ruang kelas dan menutup pintu kelas itu, maka gurulah yang lebih menentukan putih-hitamnya kualitas pembelajaran. Jika guru profesional, maka proses pembelajaran di balik pintu kelas itu akan berjalan dengan baik, para siswa akan selalu berada pada time on tasks karena guru yang memiliki kompetensi tinggi akan mampu melaksanakan tugas penting guru: to describeto explainto demonstrate, dan to inspire. Semoga begitu.

Tulisan ini terbit pertama di Gatra edisi 27 Maret 2012.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

Tulisan Terbaru

Kesiapan menjadi Kampus Merdeka

1

Indonesia Tanah Air Beta

0

Ibuku, Guruku

0

Catatan Seorang Guru

4

Komentar Terbaru

Sedang Populer

1,071FansLike
46FollowersFollow